Selasa, 10 Oktober 2017

SOAL ULANGAN HARIAN

SOAL ULANGAN HARIAN

                Mata Pelajaran        : Bahasa Indonesia
                Bab/ Materi              : I/ Teks Eksposisi
                Kelas/ Semester     : VIII/ Ganjil

  1. Pernyataan yang tidak benar mengenai teks eksposisi adalah…
  1. teks eksposisi bersifat informatif
  2. teks eksposisi merupakan tulisan fiksi
  3. teks eksposisi ditulis dengan gaya penulisan lugas dan padat
  4. teks eksposisi berisi informasi dan pengetahuan

  1. Unsur-unsur utama teks eksposisi adalah…
  1. gagasan dan fakta
  2. induktif dan deduktif
  3. gagasan utama dan gagasan penjelas
  4. umum dan khusus

Simaklah paragraf berikut!
    (1) Kepanjangan narkoba adalah narkotika dan obat/bahan berbahaya. (2) Istilah lain yang diperkenalkan oleh Kemenkes RI adalah napza, singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. (3) Pada saat ini, ada 35 jenis narkoba yang beredar di Indonesia. (4) Semua jenis narkoba tersebut tentu tidak baik bila dikonsumsi.
  1. Kalimat pendapat terdapat pada nomor…
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

  1. Fungsi fakta dalam teks eksposisi adalah…
  1. untuk memperkuat gagasan
  2. untuk mengembangkan paragraf
  3. sebagai ide pokok
  4. untuk memperindah tulisan

1. mengandung unsur-unsur intrinsik
2. menjelaskan informasi-informasi pengetahuan
3. mengandung 5W +1 H
4. penyampaiannya secara lugas dengan bahasa baku
5. penjelasan disertai data-data akurat
  1. Ciri-ciri teks eksposisi terdapat pada nomor…
  1. 1-2-3
  2. 2-4-5
  3. 1-4-5
  4. 1-3-5

Simaklah paragraf berikut!
    (1) Pembukaan lahan dengan cara membakar hutan menambah masalah kerusakan hutan. (2) Munculnya El Nino memperburuk kondisi hutan. (3) Selama bulan Januari-Oktober, 45% dari keseluruhan titik kebakaran terkonsentrasi di Provinsi Riau. (4) Berjuta-juta spesies flora dan fauna mati dengan percuma.
  1. Fakta terdapat pada kalimat nomor…
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

  1. Gagasan yang menjadi dasar pengembangan sebuah paragraf disebut, kecuali…
  1. gagasan umum
  2. gagasan utama
  3. ide pokok
  4. gagasan penjelas

  1. Jenis-jenis paragraf berdasarkan letak gagasan utama antara lain, kecuali…
  1. paragraf persuasif
  2. paragraf deduktif
  3. paragraf induktif
  4. paragraf campuran

Simaklah paragraf berikut untuk soal nomor 9 dan 10!
    Apabila kita masuk ke ruangan perpustakaan itu, kesan pertama yang terasa adalah bersih, teratur, dan menyenangkan. Baik itu pengaturan buku-buku maupun dekorasi ruangannya, semua tertata rapi. Semuanya itu tentu merupakan salah satu alasan perpustakaan tersebut menjadi juara pertama dan ditetapkan sebagai perpustakaan teladan se-Banda Aceh pada tahun ini.
  1. Gagasan utama paragraf tersebut adalah…
  1. kita masuk ke ruangan perpustakaan itu
  2. pengaturan buku-buku maupun dekorasi ruangannya rapi
  3. ruangan perpustakaan terasa bersih, teratur, dan menyenangkan
  4. perpustakaan tersebut menjadi juara pertama dan ditetapkan sebagai perpustakaan teladan se-Banda Aceh pada tahun ini

  1. Paragraf tersebut termasuk paragraf…
  1. induktif
  2. deduktif
  3. persuasif
  4. campuran

  1. Pengertian tesis dalam struktur teks eksposisi adalah…
  1. bagian terpenting yang memuat semua isi tulisan
  2. sebagai perumusan kembali secara ringkas
  3. berupa sejumlah pendapat atau argumen penulis sebagai penjelasan atas tesis yang dikemukakan sebelumnya
  4. berupa pengenalan isu, masalah, ataupun pandangan penulis secara umum tentang topik yang akan dibahas

  1. Bagian yang berisi pendapat dan fakta dalam struktur teks eksposisi adalah…
  1. orientasi
  2. tesis
  3. rangkaian argumen
  4. penegasan ulang

Simaklah paragraf berikut!
    Kini, peringatan yang tertera pada bungkus rokok hanyalah hiasan. Mereka tidak menghiraukan hal ini sebab mereka hanya mementingkan kesenangan dan kenikmatan sesaat. Mereka tidak sadar bahwa merokok lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya.
  1. Penggalan paragraf eksposisi tersebut termasuk bagian…
  1. orientasi
  2. tesis
  3. rangkaian argumen
  4. penegasan ulang

  1. Istilah-istilah yang berkenaan dengan topik NARKOBA antara lain…
  1. zat adiktif, overdosis, jaringan pengedar
  2. candu, jarum suntik, reboisasi
  3. sabu-sabu, ekstasi, daur ulang
  4. bacaan, perpustakaan, literasi

  1. Kalimat yang merupakan contoh penegasan ulang dalam teks eksposisi adalah…
  1. Cabai merupakan komoditas yang termasuk subsektor holtikultura.
  2. Jika sedang berwisata kuliner di Malang, jangan lupa mampir di rumah makan Pecel Kawi.
  3. Demam dapat diobati menggunakan ramuan tradisional.
  4. Oleh karena itu, BPOM bersama Kementerian Kesehatan akan mengkaji lebih dalam tentang rokok elektrik.

Simaklah paragraf berikut!
    Masuknya wisatawan akan mengubah kondisi lingkungan. Dalam hal ini kita perlu mengetahui perubahan tersebut tidak melewati ambang batas toleransi. Tindakan ini perlu agar perubahan itu tidak menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan dan pengembangan pariwisata itu sendiri.
  1. Kata kerja mental yang terdapat pada paragraf tersebut adalah…
  1. mengubah
  2. mengetahui
  3. menghasilkan
  4. melewati

  1. Contoh kalimat persuasif adalah…
  1. Sayangnya, tidak banyak putra dan putri bangsa Indonesia yang bisa diteladani karena prestasinya.
  2. Peringatan Hari Pahlawan 10 November pada tahun ini dapat dijadikan momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi diri bagi semua pihak.
  3. Mari kita berjuang untuk memakmurkan rakyat.
  4. Bukan masanya lagi pejabat pemerintahan menjadikan dirinya seperti raja yang bergelimang kemewahan sebab rakyat sudah semakin kritis.

Perhatikan langkah-langkah berikut!
1. mendaftar topik-topik yang berkaitan dengan isu
2. membaca berbagai sumber yang berkaitan dengan isu yang dipilih
3. menyusun kerangka karangan sesuai struktur teks
4. mengembangkan kerangka yang telah disusun menjadi teks utuh
5. menentukan isu atau masalah yang akan dibahas
  1. Urutan langkah-langkah menyajikan teks eksposisi yang tepat adalah…
  1. 1-2-5-3-4
  2. 5-2-1-3-4
  3. 2-1-5-3-4
  4. 5-1-2-3-4

  1. Menyunting teks berarti…
  1. mencari gagasan utama sebuah teks
  2. menyajikan teks yang panjang dalam bentuk ringkas namun tidak menghilangkan hal-hal yang penting
  3. menyebarluaskan tulisan sehingga dapat dibaca khalayak
  4. memperbaiki kesalahan-kesalahan yang masih terjadi dalam penulisan, baik dari segi tata bahasa maupun dari segi materi/isi

Simaklah paragraf berikut!
    Seorang musisi mampu menciptakan lagu-lagu yang indah setelah menuangkan imajinasinya ke dalam syair lagu. Seorang penulis, dalam merangkai kata demi kata, membutuhkan pengembangan imajinasi. Begitu pula seniman mampu menampilkan kreativitas mereka dalam bentuk seni lukisan dengan menuangkan segenap imajinasi. Dapat dikatakan bahwa imajinasi sangat diperlukan dalam menciptakan suatu karya.
  1. Paragraf tersebut termasuk jenis paragraf…
  1. deduktif
  2. induktif
  3. campuran
  4. persuasif

Simaklah paragraf berikut untuk soal nomor 21 dan 22!
    (1) Buah pala merupakan salah satu rempah yang beraroma wangi. (2) Rempah ini bisa memberikan kehangatan dan cita rasa yang sulit dilupakan. (3) Buah pala biasa digunakan masyarakat Tiongkok dan India Timur sebagai obat herbal karena dipercaya berkhasiat bagi kesehatan. (4) Khasiat buah pala bagi kesehatan di antaranya dapat mengatasi gangguan pencernaan dan mengeluarkan racun dalam tubuh.
  1. Kata ini dalam paragraf tersebut mengacu pada…
  1. buah pala
  2. rempah
  3. beraroma wangi
  4. manfaat buah pala

  1. Konjungsi sebab-akibat (kausalitas) terdapat pada kalimat nomor…
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Simaklah paragraf berikut!
    Kemacetan yang berulang dengan jangka lebih panjang cenderung terjadi pada musim liburan ataupun Lebaran. Pada tahap kedatangan dan kepulangan, kemacetan parah akan terjadi pada jalan-jalan arah luar kota, misalnya Jalan Magelang, Jalan Solo, Jalan Palagan, dan Jalan Wates. Pada rentang masa tersebut, kemacetan dapat dirasakan di pusat kota sebagai lokasi menginap dan tujuan wisata serta jalan-jalan menuju objek wisata, seperti Jalan Parangtritis.
  1. Informasi inti teks eksposisi tersebut adalah…
  1. Pada musim liburan ataupun Lebaran, kerap terjadi kemacetan berulang dengan jangka lebih panjang.
  2. Kemacetan yang berulang dengan jangka lebih panjang selalu terjadi.
  3. Kemacetan terjadi pada jalan-jalan arah luar kota pada musim liburan.
  4. Kemacetan juga terjadi di pusat kota dan tujuan wisata.

Simaklah paragraf berikut!
    (1) Kemacetan sebagian besar ditimbulkan oleh aktivitas masyarakat. (2) Kemacetan ini terjadi karena pola tempat tinggal, bekerja, dan bersekolah. (3) Upaya mendekatkan  lokasi tempat tinggal dengan lokasi kegiatan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan. (4) Bentuknya dapat berupa pemberian rumah susun sewa ataupun milik yang nyaman untuk beraktivitas.
  1. Kalimat utama teks eksposisi tersebut terdapat pada nomor…
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Simaklah paragraf berikut untuk soal 25 dan 26!
    Selain rasanya enak setelah dimasak, jantung pisang juga baik bagi tubuh. Jantung pisang mengandung flavonoid yang dapat menangkal radikal bebas dan pemicu kanker. Jantung pisang juga mengandung mineral, serat, zat besi, fosfor, vitamin B1 dan C, serta protein. Hal ini memberikan beberapa manfaat seperti mencegah stroke, diabetes, anemia, gondok, dan dapat menurunkan kolesterol.
  1. Pernyataan yang sesuai dengan teks tersebut adalah…
  1. Jantung pisang yang dimasak mampu menangkal radikal bebas dan pemicu kanker.
  2. Jantung pisang mengandung protein, serat, zat besi, fosfor, vitamin B1 dan C, serta mineral.
  3. Jantung pisang dapat mencegah berbagai penyakit, seperti stroke, diabetes, hipertensi, anemia, dan gondok.
  4. Jantung pisang baik bagi tubuh meskipun rasanya tidak enak.

  1. Gagasan umum teks tersebut adalah…
  1. jantung pisang enak setelah dimasak
  2. jantung pisang baik bagi tubuh
  3. jantung pisang mengandung mineral, serat, zat besi, fosfor, vitamin B1 dan C, serta protein
  4. jantung pisang mencegah berbagai penyakit

Perhatikan kalimat-kalimat berikut!
1. Alat transportasi yang termasuk dalam transportasi laut adalah kapal, feri, dan sampan.
2. Biasanya sekitar 2-8 orang.
3. Transportasi ini menggunakan pelabuhan dan galangan kapal sebagai prasarananya.
4. Sampan biasa digunakan untuk mengangkut penumpang dalam skala kecil.
5. Transportasi yang terakhir adalah transportasi laut.
  1. Urutan kalimat-kalimat tersebut agar menjadi teks eksposisi yang tepat adalah…
  1. 1-3-4-2-5
  2. 1-5-3-4-2
  3. 5-3-1-4-2
  4. 5-1-3-4-2

Simaklah paragraf berikut untuk soal nomor 28 dan 29!
    (1) Bukan rahasia umum lagi bahwa para koruptor di Indonesia mendapatkan hukuman yang tingkatannya masih tergolong ringan. (2) Bahkan, ada koruptor yang masih menerima fasilitas mewah padahal sudah merugikan negara. (3) Sering kali kita menonton berita tentang seorang maling dihajar masa hingga tewas. (4) Namun, belum pernah ada koruptor di Indonesia dikeroyok masa hingga tewas.
  1. Penulisan kata yang kurang tepat pada paragraf tersebut adalah…
  1. koruptor
  2. fasilitas
  3. masa
  4. mewah

  1. Konjungsi pertentangan terdapat pada kalimat nomor…
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4

Simaklah paragraf berikut!
      Untuk tahapan berikutnya, biji kopi disortir untuk memisahkan biji kopi yang segar (…) yang busuk dengan cara direndam. Biji kopi yang busuk akan mengapung (…) biji kopi yang baik akan tenggelam. Selanjutnya, biji-biji kopi yang baik tadi diberikan kepada musang (…) luwak jenis binturong dan bulan, yakni jenis luwak pemakan kopi. Pada proses ini, luwak berperan penting (…) indra penciumannya hanya akan memilih biji kopi yang berkualitas.
  1. Konjungsi yang tepat untuk mengisi bagian yang rumpang dalam paragraf tersebut adalah…
  1. dan, tetapi, atau, karena
  2. lalu, sedangkan, dan, jika
  3. dan, sedangkan, atau, karena
  4. lalu, tetapi, dan, jika

Minggu, 25 Juni 2017

Tak Kusangka Cinta Sepelik Ini


Mengapa ketika membuat suatu tulisan, meski kenyataannya kita mengetik, tetap dikatakan menulis? Mengapa ada kata dasar dengan huruf awal k, ketika bertatapan dengan imbuhan meN-, k tersebut tidak luluh, semisal pada kata mengkristal? Bagaimana membedakan kalimat tunggal dengan kalimat majemuk? Apa makna yang terkandung dalam tiap bait Syair Perahu karya Hamzah Fansuri? Manakah penulisan yang benar, Nopember atau November? Kawan, jika semua persoalan remeh itu membuatmu risau, bolehlah bertanya padaku. Singgahlah pada sore yang teduh, kuhidangkan kopi terseduh. Salam secangkir kopi hangat di sore hari, kalimat khas seorang kuli tinta senior.

Di antara khalayak pembaca pasti ada yang bertanya, siapa gerangan orang ini berlagak ahli? Maaf, kawan, tidak ada maksudku begitu, tidak congkak pun tidak tinggi hati.

Pengetahuanku tentang hal-hal di atas adalah keniscayaan, konsekuensi dari profesi. Jika tidak maka ibaratkanlah aku kemarau menjanjikan hujan. Hendak memberi, diri sendiri tak memiliki. Itu namanya tidak profesional, menipu, layak dijebloskan ke dalam satu sel bersama para pejabat yang gemar menipu rakyat.

Namun, sekali lagi, namun, apabila yang membuatmu resah adalah perkara cinta, misalkan mengapa cintamu bertepuk sebelah tangan? Atau bagaimana agarbdia membalas rindumu yang biru? Atau bagaimana mengatasi cinta segitiga? Kawan, jangan pernah sekalipun berpikir mencari jawaban padaku. Aku tidak berkompeten di bidang itu.

Pengalamanku dalam hal percintaan berikut konflik-konflik yang ditimbulkannya amat minim, nyaris nihil. Oleh sebab itulah, tak banyak yang bisa kubantu tatkala Tisna menghampiriku meminta petunjuk terkait polemik cinta yang membekapnya.

Tisna, temanku yang tinggi bak burung unta itu, tengah gundah gulana. Galau, istilah anak muda zaman sekarang. Hatinya disandera dua lelaki--bisa jadi tiga lelaki seandainya aku belum menikah. Eda dan Rah, di antara merekalah hati Tisna terperangkap. Bagaimana bisa terjadi?

Mari kita putar waktu, kembali sedikit ke masa ketika Tisna dan Eda masih berseragam putih-abu-abu. Para murid lelaki seantero sekolah sepakat bahwa Eda, yang tingkahnya macam lutung, memang beruntung bisa memacari Tisna, sang kembang sekolah.

Eda adalah lelaki kurus yang konyol, tak pernah serius dalam segala hal, santai, namun adakalanya nekat. Tampangnya mirip-mirip Fauzi Baadilah, pemeran Damar dalam film Mengejar Matahari.

Tisna lain lagi. Dia adalah perempuan yang aduhai. Badannya tinggi-langsing, berkulit terang. Tatanan rambutnya menawan. Tatapannya seindah pelangi. Belum lagi senyumannya, aih, macam caffein: membuat jantung berdebar. Pramugari maskapai manapun pasti berkecil hati dibuatnya. Jika saja nilai-nilai di rapornya bagus, terutama nilai bahasa, aku yakin dia bisa sukses di ajang pemilihan ratu sejagad.

Meskipun banyak yang mencibir, bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan Eda, Tisna tidak ambil pusing. Tak hirau dia dengan apa tanggapan orang.

Tisna sendiri tak paham mengapa dia suka kepada Eda. Tahu-tahu dia suka. Begitu saja tanpa ada penjelasan. Barangkali itu yang oleh para pakar disebut chemistry.

Lantaran tidak ada penjelasan logis terhadap rasa suka itu, merebaklah kabar bahwa Tisna menderita rabun parah, sehingga Eda yang bermuka pas-pasan dilihatnya serupa Aliando Ganteng-Ganteng Serigala. Tak ayal juga banyak yang menuduh Eda, diam-diam mewarisi benda magis peninggalan almarhum kakeknya yang beristri tiga. Benda langka nan bertuah itu konon pis bolong rejuna.

Kelas tiga, tepatnya mendekati kelulusan, ketika itulah drama bermula. Di belakang Tisna, Eda main serong alias selingkuh alias menyeleweng! Sebuah tindakan tak terpuji yang dia kutuki sendiri di kemudian hari.

Kata pepatah, mustahil menutupi asap. Tisna mengetahuinya dan terluka tentu saja. Yang membuat kian panas hati Tisna, perempuan selingkuhan Eda adalah seorang teman dekat. Alamak!

Tetapi secara aneh, Tisna tidak meledak. Di wajah manisnya justru melengkung senyum, senyum misterius penuh rencana pembalasan. Pembalasan yang didasarkan pada emansipasi, bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, yaitu dengan berselingkuh juga, terang-terangan di depan hidung Eda!

Tisna selingkuh, Eda berang. Tak terima dia harga dirinya dilangkahi. Baginya, laki-laki selingkuh, wajar. Perempuan selingkuh, kurang ajar. Begitulah, Sang Pencipta memang membekalkan ego berlebih pada makhluk bernama lelaki.

“Kita putus detik ini juga!” Gelap mata, kalimat maut itu meluncur deras dari mulut Eda tanpa bisa ditunda.

“Nah, kita sudah putus pada detik sebelum kamu minta putus!” salak Tisna tak mau kalah. Mereka balik kanan-bubar-jalan.

Selepas SMA, Tisna yang memang tidak begitu suka membuka buku tidak melanjutkan kuliah. Dia melamar pekerjaan dan di sinilah dia sekarang bekerja denganku. Beberapa bulan berikutnya, dia bertemu Rah.

Rah adalah tipe lelaki idaman kaum hawa. Perangainya berbanding terbalik dengan Eda. Dia kalem, serius, selalu berpenampilan rapi, dan dari keluarga mapan--ayahnya pemilik hotel. Wajahnya ganteng, hanya saja irit senyum persis Tommy Kurniawan sakit gigi.

Singkat kata ringkas cerita, Tisna dengan Rah jadian. Tak ada yang mencibir sebab dua sejoli itu memang serasi nian. Si lelaki tampan, si perempuan rupawan.

Aku yakin Tisna serius jatuh cinta. Segenap tingkahnya mengatakan itu. Kini dia lebih sering berkaca, lebih rajin bekerja, tak henti bersenandung lagu cinta. Semua dilakukan dengan ceria.

Keluarga Tisna tidak usah ditanya. Rah diterima dengan tangan terbuka. Terlebih niang, nenek Tisna dari pihak ibu. Dia yang paling getol mendukung hubungan Tisna dengan Rah.

Nah, entah dari mana, setelah sekian lama tidak ada berita, tahu-tahu tokoh kita Eda muncul lagi.
Kejadiannya pada suatu pagi yang murung karena mendung, tahu-tahu dia muncul di depan rumah macam tukang cek meteran listrik.

“Luh Tu,” nama panjang Tisna adalah Luh Putu Tisnadewi, “ada yang ingin kukatakan.” Raut wajah bersalah ditunjukkannya. Tisna justru membuang muka. Rupanya dendam belum sirna.

Eda berkata bahwa yang dulu terjadi adalah kekhilafan. Bahwa kini dia menyesal sepenuh jiwa dan raga. Bahwa semenjak putus dengan Tisna, ada rasa kehilangan yang tak terkatakan. Bahwa tak ada detik, menit, jam dia lalui tanpa memikirkan Tisna. Bahwa setiap melintas di depan SMA, melihat guru, adik kelas, batik sekolah, bendera merah putih, parkir sepeda, kantin, ijazah, pokoknya semua yang berbau sekolah, segala kenangan romansa itu menguar.

Intinya, bahwa hidupnya kelabu tanpa Tisna. Tisna adalah tulang rusuknya.

“Bersediakah menerimaku lagi?” Eda meraih tangan perempuan yang sempat dikhianatinya itu.

Belum sempat Tisna menjawab, sebuah mobil mewah menepi, ada Rah di dalamnya. Tisna menepis tangan Eda lalu masuk tergesa.

“Itu siapa, sayang?” tanya Rah.

“Bukan siapa-siapa. Lekas pergi.”

Seketika di langit terdengar gemuruh. Gemuruhnya meruntuhkan segenap asa yang dikumpulkan Eda. Derai hujan berjatuhan.

Eda tertegun tak beranjak. Seolah tak habis pikir, lama dipandanginya arah mobil itu menghilang. Sangkanya akan mudah saja merayu Tisna. Tak dinyana seseorang yang lain sudah memilikinya. Jiwanya tergoncang. Dadanya sesak. Lalu untuk pertama kalinya dia merasa ingin menangis. Hujan mengguyur kian deras. Orang-orang meneriakinya agar berteduh. Eda menyingkir, terseok-seok, susah payah merekat-rekatkan kembali hatinya yang remuk.

Kejadian berikutnya persis sinetron. Eda tenggelam dalam alkohol. Di kamarnya yang gelap dan pengap dia terkulai, tak henti mengutuki diri dan segala kecerobohannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kasihan Eda. Di tengah kemeranaan itu, ibunya tutup usia. Eda ditimpa kesedihan pangkat dua. Hidup memang tragis kadang-kadang.

Berita mengenai sepak terjang Eda di dunia minuman keras serta kematian sang ibu sampai di telinga Tisna. Iba juga dia dengan nasib lelaki tengik itu. Tiba-tiba ada gelisah menyelinap.

Jujur, sesungguhnya pagi itu, ketika Eda datang tempo hari, terbit gembira di hati Tisna. Sudah lama dia menunggu. Diam-diam, dia rindu pada lelaki kurus itu.

Lalu dia ingat Rah, dan merasa tidak betah. Rah sangat dingin, kaku, tidak romantis. Di depan Rah, Tisna tidak bisa menjadi diri sendiri. Dan yang belum kalian tahu, Rah sangat overprotektif dan ketat bak baju renang. Dia memblokir segala hubungan sosial Tisna dengan laki-laki lain.

Kini Tisna paham alasan dia dulu suka pada Eda. Meski cengengesan, Eda adalah pribadi yang cair, akrab, dan hangat. Bersama Eda, Tisna nyaman sebab Eda jauh dari sifat-sifat posesif. Unsur-unsur itu membuat Eda lebih dari sekadar ganteng. Alhasil, terbitlah keinginan untuk berdamai dengan masa lalunya itu.

“Tidak boleh!” Ibu Tisna memelotot. “Dia itu tukang mabuk, tidak kuliah, pengangguran terselubung, hidupnya tak keruan! Mau jadi apa republik ini jika semua pemuda berkelakuan seperti dia!”

Niang menimpali, “Tidak usah macam-macam! Jalanmu sudah benar. Mengawini Rah, berarti mengembalikan statusmu, sesuatu yang dilepaskan ibumu lantaran nyerod kawin dengan bapakmu.” Nah?

Jadi semua ini bersangkut-paut dengan kasta. Pantas niang begitu semangat memasang-masangkan  Rah dengan Tisna.

Rah, lengkapnya Anak Agung Ngurah, adalah keturunan puri--tak jelas puri mana, mungkin Puri Raharja. Jika jadi dengan Rah, Tisna yang seorang jaba akan naik kasta menjadi jero.

Sampai cerita ini kutulis, Eda sedang berjuang di samudra sana. Jengah dia dengan pernyataan sikap ibu dan niang. Dia berhenti minum, melanjutkan studi setahun, dan kini bekerja di kapal pesiar megah--yang namanya mirip judul film bajak laut Karibia. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah lelaki becus. Ambisinya sekembali dari pelayaran agak nyeleneh.

“Dimana orang menjual kasta? Akan kubayar, berapapun harganya!”

Di tempat lain, Rah mengendus gelagat tidak baik itu dan ingin segera mengawini Tisna. Dia tak ingin bidadarinya terbang lepas. Ibu dan niang tersenyum lalu membuka-buka kalender, mengira-ngira hari baik.

Tisna sendiri kian gamang. Buka taluhe apit batu, peribahasa orang Bali. Dia tidak ingin durhaka membangkang pada keluarga tetapi juga ingin bahagia. Hati kecilnya berkata bahagia itu adalah Eda. Apalagi ada desas-desus, menjadi jero, ia akan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari kerabat suaminya yang murni berdarah menak. Tak kusangka perihal cinta bisa sepelik ini. Tisna, oh, Tisna maafkan aku tak bisa membantumu.

Senin, 01 Mei 2017

Perkenalan



Made Merta tiba di sekolah terlalu pagi, tatkala matahari pun belum ingin menampakkan diri. Tak dapat disalahkan memang. Ia terlalu bersemangat memulai profesi barunya. Hari ini adalah hari pertama ia akan masuk kelas tampil sebagai seorang guru. Bahasa Indonesia, mata pelajaran yang diampunya.

Setahun lebih ia menunggu datangnya kesempatan ini. Hampir pupus harapannya. Sedikit lagi ia akan berbulat tekad mengandaskan cita-citanya yang mulia itu dan berlapang dada bekerja di mana saja. Namun, nasib baik memang selalu menimpa orang-orang yang sabar. Beribu-ribu terima kasih ia alamatkan kepada Ibu Dayu, wanita yang tak lain adalah dosennya saat masih berkiprah di institut keguruan. Atas petunjuk beliaulah Made Merta menemukan pencerahan.

Made Merta masuk ke ruang guru dengan pasti dan percaya diri. Ia langsung menuju ke meja yang telah disediakan untuknya. Meja yang sebetulnya dadakan sebab sebelumnya di sana bersemayam sebuah lemari kayu tua, tempat bertumpuk-tumpuk kertas yang juga tua dan, barangkali, rumah bagi kecoa atau sebangsanya. Posisinya tersembunyi, nun jauh di pojok belakang ruangan, seolah-olah tak ingin diketahui. Meski begitu, Made Merta tetap bangga dianugrahi meja di sana.

Made Merta duduk dan merasa begitu nyaman padahal kursinya hanya kursi kayu biasa, tidak empuk disorot dari sisi manapun. Memang tepat jika ada yang berpendapat bahwa sumber kebahagiaan sejatinya berasal dari pikiran.

Diusapnya permukaan meja yang terbentang di depannya tadi. Tiba-tiba ada rasa haru menyeruak. Meja itu adalah metafora. Semacam simbol pengakuan, pemberian wewenang dan kepercayaan atas kemampuan dan pencapaian pendidikannya. Belum-belum, matanya sudah berkaca-kaca membayangkan meja itu akan menjadi saksi kesibukkannya mengisi rapor murid-muridnya yang cemerlang. Meja itu pula yang akan menemaninya memeriksa tugas-tugas para murid yang rajin lagi pintar. Selain melankolis, Made Merta memang orang yang optimistis, tipikal calon menteri pendidikan yang mumpuni.

Sejurus kemudian, dari dalam tas punggungnya yang berat, Made Merta mengeluarkan berupa-rupa kitab sakti mandraguna yang akan menjadi senjatanya membasmi jiwa-jiwa yang tuna ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan bahasa. Ada Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku sintaksis, buku jenis-jenis kalimat, buku 1000 peribahasa, kumpulan puisi dan cerpen, semuanya serba tebal, serta tak lupa novel kesayangannya yang berjudul Ayah. Semua buku itu ia susun di atas meja dengan rapi dan penuh rasa hormat. Tak ingin ia durhaka terhadap para penulis buku-buku tersebut.

Detik berikutnya, Made Merta mengeluarkan sisir kecil dua ribu rupiah yang dibelinya di pasar tadi malam. Dengan sigap ia merapikan rambut tipisnya lalu tersenyum sendiri. Ia merasa benar-benar siap untuk mengajar.

Sejak tadi sibuk dengan urusan sendiri, Made Merta tidak menyadari bahwa ia tidak sendiri di ruangan itu. Ada sepasang mata sayu murid perempuan yang sedari tadi lekat mengawasinya dari dekat pintu. Tangan kanannya mengapit sebuah buku tulis lusuh.

Aih, rajin benar anak ini, pikir Made Merta tatkala mengetahui keberadaan anak itu.

“Mencari siapa, Nak? Belum ada yang datang, kecuali saya.” Made Merta bertanya sembari tersenyum, menampilkan sosok Umar Bakri yang pemaaf lagi penyayang. Adakah kelakuan murid itu salah sehingga harus dimaafkan? Aku pun tak tahu.

Lalu keanehan terjadi, ketika Made Merta mengerjapkan mata, macam sulap, bocah perempuan itu menghilang, sirna, lenyap tak berbekas!

Bagaimana bisa? Made Merta takjub sekaligus heran. Tetapi Made Merta adalah seorang akademisi yang selalu berpikir rasional mengikuti alur logika dan sains, maka ia menganggap yang barusan terjadi adalah imajinasi, mungkin lantaran terlalu sering menulis cerita fiksi. Meski begitu, keingintahuan yang tinggi tetap membuatnya penasaran.

Made Merta menyusul ke arah pintu untuk memastikan. Sampai di luar memang tidak ada seorang pun. Halaman sekolah masih sunyi dan teduh ditutupi bayangan gedung dan pepohonan ketapang. Made Merta berbelok ke kanan, yang di sana ternyata kantin. Tidak ada pula seorang pun. Ternyata benar, hanya imajinasi. Tetapi tiba-tiba...

“Cari siapa?” Seorang bapak secara mengagetkan menepuk pundak Made Merta dari belakang. Wajahnya keriput, tatapannya ganjil, alis meninggi mengesankan dia seorang yang mudah naik pitam.

“Oh, tadi ada murid perempuan di ruang guru, saya sapa, tiba-tiba menghilang,” jawab Made Merta polos.

Si bapak menatap Made Merta dengan serius, agak lama seolah-olah sedang membaca pikiran, sebelum akhirnya menjawab, “Tidak usah dicari.”

“Kenapa?”

“Dia memang begitu, datang dan pergi tiba-tiba.”

“Jadi bapak juga melihatnya?”

Si bapak diam. Air mukanya serius, tak ada sekilas pun senyuman di bawah kumisnya yang ubanan. “Anda guru baru?”

“Iya, betul.”

“Dia ingin berkenalan.”

“Berkenalan?” Kening Made Merta berkerut.

“Ya, berkenalan.”

“Lalu kenapa dia pergi?”

Bapak itu diam lagi, menatap Made Merta seperti tidak suka. Ia menuju bangku kayu panjang di depan kantin.

“Anda banyak tanya! Yakin mau tahu?”

“Jika boleh, Pak.”

“Saya tahu ceritanya. Paling tahu di antara pegawai dan guru-guru di sini.” Si bapak mengeluarkan rokok. Sekejap kemudian asapnya mengepul, wajahnya seolah-olah terbakar. Si bapak kemungkinan tidak pandai membaca sebab di setiap sudut sudah tertempel stiker besar-besar berbunyi kawasan tanpa rokok.

“Anak itu bernama Winari, sekolah di sini, kelas 9 saat itu. Anak yang cerdas sesungguhnya.”

Made Merta ikut duduk meski tak ditawari.

“Hidupnya tak sebahagia anak lain. Bapaknya bedebah, suka main perempuan. Ibunya minggat entah kemana. Jadilah Winari anak yang terbuang, pemurung, pendiam, tertutup, tidak suka bergaul. Sahabatnya hanya dua: kecewa dan putus asa.”

Made Merta tekun menyimak.

“Tetapi ada satu hal yang membuatnya tetap ingin hidup, yaitu Indra, guru bahasa Indonesia kala itu.”

“Saya juga mengajar bahasa Indonesia.”

“Saya tidak tanya.”

“Maaf.”

“Indra tak sengaja membaca puisi-puisi dan cerita-cerita pendek yang ditulis Winari di buku catatan. Winari sesungguhnya tak bermaksud menulis cerpen atau puisi. Ia menulis apa yang ia rasakan, tentang betapa nasib telah memperlakukannya dengan amat buruk. Tak dinyana setiap kata dalam tulisan itu hidup, sendu mengadu,  meratap namun memikat. Indra langsung terpesona dan mengerti satu hal: Winari piawai menulis. Mungkin lantaran kepahitan itu dialami sendiri sehingga setiap diksi yang tersaji mampu mengiaskan emosi yang diinterpretasi sebagai ironi dan tragedi dalam suatu kisah fiksi."

Made Merta manggut-manggut seakan paham padahal tak satu patah kata pun pada kalimat terakhir itu mampu ia mengerti.

“Indra meniupkan harapan baru dalam hidup Winari. Dia memuji dan menyemangati Winari agar terus menulis, mengembangkannya pada hal-hal lain. Beberapa karya diikutsertakan dalam lomba. Beberapa lagi dipajang di majalah dinding dan majalah sekolah. Winari bergairah, hidupnya tak sia-sia lagi. Setiap Senin, ia selalu datang lebih pagi sebab pelajaran bahasa Indonesia ada pada jam pertama. Sungguh ia tidak ingin terlambat.”

“Lalu, pak?” Made Merta memburu.

“Sayang seribu sayang, Indra tak lama di sini. Saat orangtuanya jatuh sakit, ia pulang kampung, jauh ke seberang pulau. Dua minggu kemudian ia mengundurkan diri.”

“Dan Winari?” suara Made Merta pelan dan ragu.

Bapak berkumis tertegun, cukup lama. Ia seperti selalu berpikir sebelum menjawab. Entah apa yang berkecamuk di balik wajahnya yang serius itu. Ada gurat penyesalan, kemudian tegang, bercampur-campur, sulit digambarkan. Suaranya bergetar meneruskan.

“Winari yang sudah berbesar hati kembali tersuruk menyendiri. Ia menahan rasa kehilangan yang tak tertanggungkan, melebihi rasa kehilangan sosok orangtua. Ia merana, patah hati, depresi, lalu, dengan membawa semua tulisannya, dia bunuh diri melompat dari lantai 4 gedung sekolah ini.”

Deg! Made merta terpana dan bergidik ngeri. Rambut-rambut di sekujur tubuhnya kompak berdiri.

Jadi yang dilihatnya itu arwah penasaran seorang gadis penulis bernama Winari? Mungkinkah masih ada hantu di zaman serba online sekarang ini? Mustahil. Bisa saja itu semacam efek teknologi canggih 3D holographic display. Made Merta kalut. Pendekatan leksikal-gramatikal yang dikuasainya tak relevan menjelaskan masalah ini. Satu kata yang menyelimuti hatinya saat ini: misteri!

“Pak, cerita tadi hoax, kan?”

Si bapak berkumis sudah beberapa langkah pergi. Ia berbalik melemparkan raut wajah tak suka.

“Itulah cerita sebenarnya. Tapi saya tidak memaksa anda untuk percaya. Dia memang ada di sini, menunggu…”

“Kenapa begitu yakin?”

Si bapak menatap Made Merta dengan bola matanya yang keruh, agak lama seolah-olah hendak membaca pikiran, sebelum akhirnya menunjukkan sebuah buku tulis lusuh yang dia keluarkan dari saku celana, dan lirih berkata, “Aku si bapak bedebah itu.”

    Made Merta terpana tak bertanya lagi. Si bapak berlalu seperti angin meninggalkan sekolah yang masih hening, sehening kuburan di depan sana.