Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2023

MALING PRATAMA

pixabay.com

Gede Tandung melangkah berhati-hati menerabas rerimbunan padang gajah. Jalannya sedikit sempoyongan. Maklum dia habis pesta tuak. Meski begitu, Gede Tandung masih sadar kemana tujuannya: seberkas sinar lampu neon di ujung persawahan. Di sanalah Pura Dalem Lingsir berada. Langit gelap tanpa cahaya rembulan. Tentu saja, hari itu Tilem.

Sampai di belakang pura, Gede Tandung mengaso sejenak mengatur napas. Napasnya beraroma tuak. Ditolehnya kanan-kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Sunyi senyap. Hanya sesekali nampak kelelawar berkelebat. Gumatat-gumitit binatang malam diam tiarap tak bersuara. Mungkin heran melihat ada manusia mengendap-endap pada tengah malam buta. Merasa aman, Gede Tandung melanjutkan aksinya. Dipanjatnya pagar bata penyengker pura. Tak sulit baginya sebab pagar itu pendek saja. Dalam sekejap, dia sudah ada di utama mandala, areal utama pura. Dalam remang, matanya tertuju ke bangunan meru tumpang telu yang ada di bagian utara. Bangunan itu tak lain dan tak bukan adalah gedong penyimpenan. Lalu dengan linggis yang didapatnya entah dari mana, Gede Tandung mencongkel pintu gedong penyimpenan. Dengan lengannya yang besar, itu bukan hal yang sulit. Sekali hentak, gembok langsung tergeletak.

Di dalam gedong penyimpenan rupanya tersimpan berupa-rupa benda berharga yang dikeramatkan. Ada pratima Ida Hyang Bhatari Durga berlapis emas, banyak sekar emas, gelang dan sabuk perak, juga beberapa ikat pis bolong satakan. Gede Tandung berniat mencuri semua benda-benda itu! Apa yang ada di otak laki-laki brangasan itu? Dasar bromocorah tak tahu undang-undang.

Pura Dalem Lingsir terkenal sangat pingit. Tak seorang pun berani berbuat macam-macam di sana. Tapi Gede Tandung malah hendak mencuri benda-benda sakral tersebut. Akal sehatnya pingsan dihantam tuak.

Di Desa Dukuh, nama Gede Tandung memang terkenal. Hanya saja, dia dikenal bukan karena dicap sosok berbudi, tapi karena suka berjudi. Namanya selalu tersebut di arena judi. Tajen, maceki, spirit, bola adil, ah pokoknya semua macam judi. Padahal dia bukan orang berpunya. Alih-alih hidup sederhana, dia malah mengumbar nafsunya bermain judi.

Jika ada warga desa meninggal, dia yang paling rajin datang magebagan karena pasti digelar ceki. Kartu, meja, dan kopi sudah disiapkan untuk para bebotoh ceki. Kalau sudah duduk mengitari meja ceki, Gede Tandung suka lupa waktu, lupa diri. Dari malam sampai pagi, sampai ketemu malam lagi, tak henti-henti. Dia bertaruh habis-habisan. Tak jarang sampai berutang.

Gede Tandung tidak bekerja. Maka tak salah jika warga heran, dia selalu saja punya uang untuk berjudi. Memang dia berjualan tuak. Dia punya beberapa pohon jaka di belakang rumah. Pohon-pohon itu rajin betul mengeluarkan tuak. Namun berapa sih uang hasil menjual tuak? Apalagi, seringkali tuak yang diturunkannya tidak dijual, melainkan diminum sendiri olehnya bersama kawan-kawannya sesama peminum. Selain penjudi, Gede Tandung adalah peminum kelas berat. Kalau sudah punyah, dia tidak ingat lagi dengan bisnis. Dia gratiskan saja semua tuak-tuaknya.

Dulu sekali, saat kedua orangtuanya masih ada, Gede Tandung pernah menjadi orang waras. Orang tuanya punya beberapa petak sawah, juga punya beberapa ekor babi dan sapi. Maka, dia belajar menjadi petani. Dia turun ke sawah, menyemai bibit, menanam padi, singkong, cabai, sayur hijau, kacang tanah, juga menyabit rumput, mencari pakan babi dan sapi. Hati orang tuanya teduh melihat anak satu-satunya itu bisa diandalkan.

Tapi itu hanya sebentar, tak sampai 2 bulan. Imannya tak kuat. Melihat orang maceki, tangannya gatal ingin ngupak cekian. Melihat kawan-kawannya bersenang-senang mengangkat gelas, matuakan sambil magenjekan, ingin juga dia. Jiwa pemalas dan berfoya-foyanya memberontak. Serta merta dia merasa tangannya kaku mengayunkan cangkul dan sabit. Setelah itu dia pensiun dari dunia pertanian. Dia tinggalkan sawah, sapi-sapi, dan babi-babinya. Lebih parah lagi, semua hartanya itu, sawah, sapi-sapi, dan babi-babi itu, habis di meja judi! Tinggallah yang tersisa hanya sepetak kecil tanah, yang di sana berdiri gubug tempat tinggalnya dan beberapa pohon jaka. Orang tua Gede Tandung yang renta tak mampu berkata-kata. Mereka pasrah menahan sakit hati dan kecewa.

Kebiasaan Gede Tandung berjudi dan mabuk-mabukan itu jugalah yang membuat Luh Werni pergi meninggalkannya. Dulu, sebelum menikah, Gede Tandung mengucap janji akan berhenti main judi, juga berhenti mamunyah. Gede Tandung juga berkata akan menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Hati Luh Werni luluh mendengar bujuk rayu Gede Tandung. Setelah menikah, janji tinggallah janji. Semua isapan jempol belaka. Belum lewat abulan pitung dina mereka menikah, Gede Tandung sudah lupa dengan apa yang pernah keluar dari mulutnya. Mana ada dia peduli dengan istrinya. Gede Tandung tak betah di rumah, pun jarang memberi nafkah. Luh Werni mengelus dada berusaha sabar, awalnya. Sendiri dia mengurus hidup, sendiri pula dia membesarkan sang anak. Namun ketika tingkah Gede Tandung kian parah, dia pun minggat bersama anaknya yang baru 1 tahun itu. Apakah Gede Tandung menyesal setelah itu? Tidak. Dia justru makin lupa diri. Memang bedebah sekali tokoh kita yang satu ini.

Hari itu adalah hari sialnya bermain ceki. Dari pagi sampai matahari terbenam dia main, kartunya selalu busuk. Uangnya amblas. Mau meminjam uang lagi, dia malu. Semua orang sudah diutanginya. Orang-orang menertawai kekalahannya. Panas telinganya, jengah hatinya. Hari itu Tilem. Dilihatnya Jro Mangku pulang dari ngayah di Pura Dalem Lingsir. Saat itulah muncul niatnya menggasak pratima di pura.

Gede Tandung adalah pecalang di desanya. Perawakannya memang cocok menjadi pecalang. Jika tiba odalan di Pura Dalem Lingsir, dia ngayah menjadi pecalang. Sudah biasa dia keluar masuk pura. Dia tahu persis seluk beluk pura. Dia tahu ada benda-benda berharga tersimpan di sana. Dia akan mencolong benda-benda itu malam nanti. Benda-benda itu akan dijual, uangnya untuk maceki membalas kekalahan hari ini, niatnya. Kemudian dia mengundang kawan-kawannya metuakan. Dia minum-minum sambil menunggu malam tiba. Di samping itu, dia ingin lebih lagas saat beraksi nanti. Seperti warga lain, dia tahu keangkeran Pura Dalem Lingsir. Takut juga dia ke sana sendiri tengah malam buta. Dia membesarkan nyali dengan mabuk.


Pura Dalem Lingsir berada di ujung selatan Desa Dukuh, di atas tebing yang jauh dari permukiman. Untuk sampai ke sana, warga harus menyusuri persawahan yang berundak-undak. Kendaraan parkir di jalan besar sebab tidak bisa masuk sampai di pura. Akses ke pura hanya jalan setapak. Ada jalan pintas yang tidak melewati persawahan, tapi agak sulit dilalui lantaran jalurnya dihalangi lebatnya padang gajah.

Di Pura Dalem Lingsir berstana Ida Hyang Bhatari Durga. Beliau memiliki pengabih Ida Ratu Mas Gede Macaling, sang penguasa kematian. Beliau terkenal bares. Sering warga naur sesangi atau membayar kaul di sana karena doanya terkabul. Namun di sisi lain, Ida juga terkenal pingit. Di pura itu warga tidak boleh berkata sembarangan, apalagi berbuat sembarangan. Jangan sesekali berani menunjuk pelinggih ataupun petapakan Ida jika tidak mau tulah. Sering terjadi kerauhan masal di sana, pertanda ada sesuatu yang beliau kurang berkenan.

Terlebih di ujung jalan setapak adalah pura prajapati dan setra yang juga tenget. Di sana banyak pohon besar-besar bersaput poleng. Ada bunut, pule, dan beringin. Yang terbesar adalah beringin yang tumbuh persis di tengah kuburan. Besar, rimbun, dan menjulang, macam raksasa dalam cerita seram. Sulur-sulurnya panjang terjuntai. Warga menduga ratusan tahun usianya. Petani yang kebetulan mengecek pengairan sawahnya pada malam hari, sering melihat bola api melayang-layang kemudian saling beradu di sekitar beringin itu. Konon, bola-bola api itu adalah mereka penganut ilmu pengleakan yang tengah mengadu kesaktian. Konon juga, jika keesokkan harinya ada orang yang mendadak sakit aneh, dia tak lain adalah leak yang kalah adu tanding.

Gede Tandung sudah membungkus pratima dan benda-benda keramat lainnya dengan kain yang sudah dia siapkan. Dia menaksir benda-benda itu bisa laku puluhan juta. Dia terkekeh. Mulutnya bau tuak. Mencuri pratima dipikirnya macam mencuri sandal kawannya saja. Dia tidak sadar sesuatu yang niskala mulai terusik.

Tiba-tiba terdengar lolongan anjing, "Aaauuuuuuuu......!" Suaranya berasal dari arah kuburan. Panjang, iramanya horor, dan membuat bulu kuduk berdiri. Pertanda anjing melihat sesuatu yang tak kasat mata. Gede Tandung merinding juga. Tak mau dia berlama-lama di sana. Segera dia menuju tempat memanjat saat masuk tadi.

Gede Tandung mudah saja memanjatnya. Kemudian dia melompat menceburkan diri. Dan suatu keanehan yang mengerikan terjadi. Keanehan yang tak pernah sempat dia ceritakan kepada siapapun. Gede Tandung merasakan kakinya tidak pernah menyentuh tanah. Dia merasa tubuhnya terjun jatuh ke sebuah lubang yang gelap dan dalam. Lalu entah dari mana, datang berkelebat kain kasa putih panjang tak putus-putus menggulung tubuh dan menjerat lehernya. Gede Tandung terbungkus laksana mayat yang siap dikubur. Dia panik meronta-ronta. Sia-sia, tubuhnya yang besar tak mampu melawan kekuatan niskala. Napasnya tercekat, matanya melotot, lidahnya terjulur keluar.

Keesokan harinya, Jro Mangku yang hendak mabanten kajeng kliwon terkesiap. Gedong penyimpenan berantakan, raib! Dalam sekejap warga sudah tumpah di pura. Mereka kasak-kusuk. Setelah mencari-cari, warga menemukan sesosok tubuh tergeletak di dasar tebing, kaku tak bernyawa. Di sebelah tubuh itu, prerai Ida Ratu Mas Gede Mecaling tersembul dari dalam bungkusan kain.***

 

Kamis, 05 Agustus 2021

Terang Bulan Pemberian

Hari ini cuaca terik luar biasa. Sang Surya menghajar alam semesta tanpa ampun, tanpa kenal iba. Memanggang siapa saja yang naif menantangnya. Sengat sinarnya membakar raga, menyilaukan mata, kepala serasa ingin meledak dibuatnya.  Hanya lelaki pekerja keras bermental baja yang sanggup bekerja di jalanan pada cuaca membara bak di Gurun Sahara. Ketut Lacur adalah salah satu orangnya. Bagaimana mau tidak sanggup? Ada dua perut kosong tengah menunggu di rumah minta diisi. Malah perutnya sendiri juga keroncongan. Seharian berada di jalan, Ketut Lacur belum mengunyah apa-apa lagi sejak sarapan jaja laklak tadi pagi. Panas dan lapar, dua derita yang ditanggungnya saat ini.

Kendati begitu, Ketut Lacur masih sabar menunggu. Tak terbilang sudah berapa kali dia menjamah hp. Sekian kali dibuka, sekian kali dia harus menelan kecewa. Di trotoar itu, di pokok pohon perindang jalan dia terenyak. Dengan selipat koran bekas, dia halau gerah dari tubuhnya yang kuyup berkeringat. Jaket hijau seragam dinasnya yang sudah lusuh dan koyak dimakan matahari teronggok tak berguna di stang motor.

Nasib baik memang tidak memihaknya hari ini. Sejak keluar rumah dari jam 9 pagi tadi, Ketut Lacur baru dapat satu orderan. Ongkosnya pun cuma sepuluh ribu rupiah. Untuk beli bensin saja habis. Beberapa kali dia pindah lokasi, orderan tak kunjung menghampiri. Oh, kenapa rezeki begitu susah dicari, keluhnya dalam hati. Kalau boleh menangis, ingin dia menangis. Tapi menangis pun tidak akan memperbaiki situasi. Jadi buat apa menangis. Maka dia bekap wajahnya yang kusam berminyak dengan kedua telapak tangan, lalu ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat, berharap beban berat yang menggelayut ikut tersembur keluar dan menguap dari rongga kepalanya.

Jalanan di depannya masih ramai. Mobil, motor, pesepeda, pejalan kaki, hilir mudik lalu lalang. Ketut Lacur melihat semua orang sibuk dan tidak ada kelihatan senyum. Bagaimana mau kelihatan senyum, sementara dari lubang hidung hingga dagu ditutupi masker. Besar, kecil, tua, muda, semua bermasker. Katanya supaya tidak kena penyakit. Penyakit yang diyakini Ketut Lacur hanyalah konspirasi.

Kemudian dia termenung. Mengenangkan lagi waktu-waktu yang sudah berlalu. Seandainya dunia tidak mengalami pandemi, tentu kini dia masih sentosa bekerja di hotel bintang lima di Kuta sana. Memakai seragam bersih, rambut tersisir rapi, wangi, dan tidak payah berjemur seperti yang dideritanya saat ini. Meski hanya sebagai karyawan kelas rendah, yang sehari-hari hanya berkutat dengan lap, sapu, dan debu, dia masih bisa mencukupi nafkah keluarganya. Cukup bisa tenang untuk urusan isi perut dan bayar kontrakan. Juga masih bisa mengisi celengan walau tak banyak.

Kini, gering agung berkepanjangan membuat perekonomiannya oleng. Pariwisata lumpuh total dan dia harus menerima kenyataan pahit: di-PHK alias dirumahkan. Getir dia menyadari tidak punya lagi payuk jakan.

Saat awal-awal dirumahkan, Ketut Lacur masih bisa bertahan dengan sedikit tabungan. Hari demi hari tanpa pemasukan, tabungan pun terkuras untuk biaya kebutuhan. Ketut Lacur mulai kocar-kacir. Apalagi sudah setahun lebih, belum tampak tanda-tanda pariwisata akan bangkit dan berjaya seperti sediakala. Dia pun memutuskan banting setir, hengkang dari dunia pariwisata. Kini Ketut Lacur berkiprah di bidang perhubungan sebagai pengemudi ojol alias ojek online.

Hp di genggaman tiba-tiba berbunyi, menyentak Ketut Lacur dari lamunan basi. Ada pemberitahuan masuk. Bergegas dia membuka hp, kiranya ada orderan masuk. Agar ada tambahan ongkos, untuk sekadar membeli lauk untuk makan nanti bersama istri dan anaknya yang seorang. Namun sayang seribu sayang, ternyata hanya sms penipuan berkedok menang hadiah undian. Ketut Lacur jengkel. Pasalnya, sms tak senonoh semacam itu sering nyelonong masuk ke nomornya. Diam-diam Ketut Lacur berharap ada menteri di republik ini yang bisa menangani kejahatan itu lalu menciduk oknum-oknum culas pelakunya.

Sekian lama, lelah juga Ketut Lacur menganggur. Setengah putus asa, dia melirik jam tangan. Jam tangan yang jarumnya sudah lama ngambul. Jarum panjang mogok di angka 9, jarum pendek terkulai di angka 11. Lalu mengapa dia masih memakai jam tangan memprihatinkan itu? Rupanya angka digitalnya masih menyala. Samar-samar terlihat angka 17.30 di sana. Berkedap-kedip lemah, serupa dengan kondisi pemakainya. Lapar kian terasa. Sebaiknya aku pulang saja, putusnya.

Ketut Lacur berdiri dan sedikit limbung lantaran kakinya gemetar. Dia pakai jaket hijau seragam dinasnya dan sudah bersiap-siap untuk memacu motor ketika seorang perempuan menghampirinya.

“Pak, bisa antar barang?” si perempuan bertanya. Pucuk dicinta, ulam tiba.

“Iya, barang apa, gek? Diantar kemana?” Ketut Lacur balas bertanya.

“Makanan, Pak. Diantar ke alamat ini, rumahnya sebelah bale banjar,” si perempuan menyerahkan secarik kertas berisi nama dan alamat.

Ketut Lacur membaca tulisan di secarik kertas tersebut. Kepalanya mengangguk pelan tanda dia tahu alamat tersebut. Belum diiyakan, si perempuan sudah membuka dompet lalu menyodorkan selembar uang biru bergambar pahlawan nasional Bali, I Gusti Ngurah Rai. “Minta tolong ya, Pak. Ini ongkosnya. Cukup, kan?” 

Mata Ketut Lacur berbinar demi melihat selembar lima puluh ribuan. Hatinya tidak kuasa menolak.

"Iya, tentu saja bisa. Ini uangnya semua untuk saya?" 

Si perempuan menggangguk. Senyum Ketut Lacur merekah. Dari pagi dia sudah mencari dan kini rezeki itu datang sendiri. Ah, astungkara. Sering didengarnya orang-orang berkata 'semua akan indah pada waktunya', mungkin inilah maksudnya.

Si perempuan menyerahkan barang berbungkus kresek hitam yang konon berisi makanan. Ketut Lacur menerimanya dengan gestur menandakan dengan senang hati. Di dalam kresek hitam, Ketut Lacur merasakan sebuah kotak. Makanan apa gerangan isi kotak itu? Ketut Lacur tidak bertanya lagi, pun tidak menaruh curiga.

“Kalau ditanya dari siapa, saya bilang apa?”

“Bilang dari Mala.”

“Siap. Saya berangkat sekarang.”

Ketut Lacur meluncur menuju alamat pengiriman. Hatinya senang bukan buatan. Lupa dia akan lapar. Lima puluh ribu tentu jumlah yang lumayan. Sungguh kalau memang rezeki tidak kemana. Sudah ditakar, tidak mungkin tertukar.

Setelah beberapa kali belok kanan-belok kiri-lurus-kemudian belok lagi, Ketut Lacur tiba di alamat tujuan. Berdiri dia di depan sebuah rumah style bali yang bersebelahan dengan bale banjar.

"Om swastiastu, ada kiriman untuk Putu Rai!" Ketut Lacur mengucapkan salam dan memanggil penghuni rumah dengan suara lantang macam pemimpin barisan. Tak lama, dari dalam rumah muncul lelaki muda.

"Nggih, tiang Putu Rai. Kiriman apa pak ya?"

"Anu, dibilangnya sih makanan," Ketut Lacur menyerahkan kresek hitam tersebut.

"Makanan? Tiang tidak ada pesan makanan. Siapa yang ngirim?" Si lelaki mengernyitkan dahi, bingung.

"Perempuan. Namanya Mala."

"Mala? Mala  siapa?"

"Tadi bilangnya cuma Mala. Tidak dikasih nama lengkap."

Laki-laki itu penasaran. Siapa gerangan perempuan yang mengiriminya makanan? Seingatnya dia tidak punya sahabat atau kerabat bernama Mala. Sembari mengingat-ingat, lelaki berkacamata itu membuka kotak kertas di dalam kresek hitam. Setelah dibuka, laki-laki itu tertegun! Raut wajahnya berubah. Isinya ternyata kue terang bulan!

"Luh Kumala," laki-laki itu berbisik pada dirinya sendiri. Kemudian dia tersenyum, "Pak, saya ingat. Pengirimnya pasti Luh Kumala, dia tahu saya suka terang bulan."

"Baguslah kalau sudah ingat," Ketut Lacur lega.

"Tapi saya juga baru saja beli terang bulan. Itu di dalam masih ada, belum habis. Supaya tidak mubasir, ini buat bapak saja."

"Wah, tidak usah. Itu untuk anda."

"Kalau bapak tidak mau, nanti tidak ada yang makan. Kan kasihan kalau terbuang. Mending untuk bapak bawa pulang."

"Hmm... Benar untuk saya?" Ketut Lacur malu-malu kucing.

"Iya, untuk bapak."

Ketut Lacur berpikir memang tidak bijak menyia-nyiakan makanan. Apalagi di masa sulit seperti sekarang. Dan tidak sopan juga menolak pemberian orang.

"Terima kasih kalau begitu," ucapnya sambil tersenyum sumringah.

"Sama-sama."

Dalam perjalanan pulang, Ketut Lacur mengucap syukur atas rezekinya hari ini. Selain dapat uang, dia juga ketiban makanan. Ternyata nasibnya tidak benar-benar buruk. Terang bulan pemberian itu akan dibawanya pulang. Dia sudah membayangkan betapa anaknya akan senang mendapat gapgapan.

Benar saja. Sampai di rumah, Ketut Lacur langsung disambut anaknya yang semata wayang.

"Bapak bawa apa itu?"

"Oleh-oleh untuk anak bapak tersayang."

"Horeee!" seru sang anak girang.

Sang istri juga senang suaminya sudah pulang. "Mau ngopi dulu atau langsung makan?" tanyanya penuh perhatian.

"Ngopi saja dulu, mumpung ada terang bulan," jawab Ketut Lacur lembut pada istrinya tersayang.

Dia pun duduk di sebelah anaknya. Diperhatikannya sang anak begitu lahap menikmati terang bulan, macam tiga hari tidak makan.

"Enak, nak?"

Si anak mengangguk. Bibirnya penuh berlumuran coklat.

"Kalau begitu harus habis ya."

Kopi buatan istri datang, Ketut Lacur urung mengambil terang bulan. Tak sampai hati dia mengganggu kesenangan anaknya. Biarlah nanti aku minta kalau bersisa, pikirnya. Selain pekerja keras bermental baja, Ketut Lacur juga sosok laki-laki penyayang keluarga. Sayang betul dia pada anaknya. Baginya, kebahagiaan anak adalah yang utama.

Begitulah akhirnya malam turun menggantikan siang. Ketut Lacur menyudahi hari itu dengan hati tenteram. Tak tahu dia tragedi tengah menunggunya di sana, di ujung malam. Tragedi yang tak pernah terbayangkan. Tragedi yang menyengsarakan hati melebihi pandemi. Ketut Lacur yang malang harus tabah kehilangan.

*

Nun di sana, di sudut kamar, Luh Kumala tertunduk menyendiri bermuram durja. Matanya semerah saga, wajahnya dibanjiri air mata, rambutnya kusut masai macam diterpa bencana. Kacau, kecewa, dan merana. Itulah yang sedang melandanya. Hatinya hancur berantakan. Terisak-isak dia menangis.

Putu Rai, laki-laki yang amat dicintainya, tega berkhianat! Jalinan asmara sekian tahun kandas lunas setelah dia berpaling ke perempuan lain, meninggalkan perih hati yang tiada tertanggungkan. Sakit sekali. Rasa sakit yang menjelma dendam kesumat. Jika dia tidak bisa memiliki laki-laki itu, perempuan manapun tidak boleh bisa! Maka dia mengirim terang bulan itu untuk sang mantan kekasih. Terang bulan yang telah dilumuri cetik alias racun mematikan. Astaga!

Luh Kumala telah mengirim malapetaka. Tangisnya seketika berganti tawa. Tawa histeris seorang perempuan yang terluka dan putus asa. Dia puas sudah melakukannya. Dia sudah berhasil menghabisi laki-laki tak setia itu. Dia merasa sudah berhasil.

"Ha-ha-ha... Ha-ha-ha... Aaaarrrgghhh!" Luh Kumala lupa diri dan terus saja tertawa seakan gila.***


Jumat, 18 Oktober 2019

MADE MERTA DAN KISAHNYA MENABUNG


Mendengar kata 'menabung', Made Merta jadi teringat lagu lawas yang sangat populer ketika dia masih kanak-kanak dulu. Kalau dia tidak salah, begini liriknya:

"...Bing beng bang, yuk kita ke bank. Bang bing bung, yuk kita nabung. Tang ting tung, hey jangan dihitung. Tau-tau kita nanti dapat untung..."

Generasi milenial pasti tahu dong lagu itu. Ya, itu adalah lagu berjudul Menabung karya Titiek Puspa. Lagu itu diciptakan tahun 1996 dan dipopulerkan oleh penyanyi cilik saat itu: Geofanny dan Saskia. Mereka membawakannya dengan asyik dan ceria. Isinya tak lain dan tak bukan ajakan untuk menabung.

Selain teringat lagu, kata 'menabung' juga membuat Made Merta terkenang akan masa-masa dia SD dulu. Di SD-nya dulu ada  6 ruang kelas. Dinding-dindingnya memang kusam, namun sarat pesan. Di sana tertempel kertas-kertas manila penuh kata-kata bijak dan mulia, berbunyi "Mari Gemar Menabung", "Menabung Untuk Bekal Masa Depan", "Hemat Pangkal Kaya", dan sejenisnya; Menghiasi semua sisi, ditulis dengan penuh penghayatan dan penuh jiwa seni, sangat persuasi.

Kemudian saat SD juga, di akhir masa kelas VI, setelah Ebtanas, Made Merta ikut tamasya. Lokasinya di Kebun Raya Bedugul yang sejuk, nun di Tabanan sana. Sedih dia lantaran setelah ini harus berpisah dengan kawan-kawannya, melanjutkan ke SMP yang berbeda-beda, namun juga senang. Pasalnya, dia naik bus, tidak usah bayar. Tiket masuk tidak usah bayar. Makan dan minum juga tidak bayar. Rupanya segala ongkos sudah diambil dari tabungan, tak perlu lagi keluar uang. Ah, sungguh menyenangkan.

Di rumah pun, saat kecil dulu, Made Merta punya tabungan. Sisa uang saku Rp 100, Rp 500, atau Rp 1000 dia masukkan ke sebuah celengan. Celengan Made Merta terbuat dari tanah, berwarna cokelat dan gendut seperti ceret, hanya saja tidak ada moncongnya. Dia isi dengan tekun setiap hari. Sekeping demi sekeping, selembar demi selembar. Kian lama celengan Made Merta kian berisi dan berat.

“Ternyata benar kata pepatah, sedikit demi sedikit, dua-tiga pulau terlampaui!” serunya kala itu dengan penuh gairah, tak sadar dia pepatahnya salah.

Lalu pada Umanis Galungan, celengan itu dia pecahkan. Memecahkannya tidak sembarangan, tidak dengan cara dibanting hingga pecah berkeping-keping, melainkan dengan dipukul bagian bawahnya, pelan-pelan, menggunakan palu kecil. Dia pecahkan sedikit saja, membentuk lubang. Dengan begitu, celengan itu bisa dia gunakan lagi. Setelah isinya dikuras, tinggal tambal lubang tadi dengan kertas. Biasanya pakai kertas tebal bekas pembungkus Baygon bakar; Biar hemat.

Uang yang terkumpul, yang membuat kantong Made Merta melendung bak perut kucing bunting, dia gunakan untuk membeli baju baru. Belinya di Tiara Dewata, mall termegah di Denpasar kala itu. Memecahkan celengan adalah ritual spesial di hari raya yang selalu dia tunggu-tunggu. Baginya, hari raya belum berasa kalau belum beli baju baru.

Segala kenangan-kenangan itu menempel di otak Made Merta, membentuk persepsi bahwa menabung adalah sesuatu yang positif dan menyenangkan. Ketika mendengar kata 'menabung', di sanubarinya akan melintas perasaan gembira, asyik, ceria, indah, seru, untung, banyak uang. Dalam kamus Made Merta, menabung adalah menyisihkan sebagian uang untuk disimpan, yang suatu saat nanti akan digunakan untuk membeli impian. Setelah dewasa Made Merta mengerti, menabung ternyata masih bersaudara dengan kesederhanaan dan kesahajaan.

Namun demikian, meski Made Merta tahu menabung itu baik, kebiasaan menabung tidak serta-merta terbawa sampai ketika dia sudah berumah tangga. Setelah menikah dan punya anak, menabung dirasanya berubah menjadi sesuatu yang sulit. Lebih sulit daripada soal tes CPNS yang dia hadapi tempo hari di kantor BKN. Ya, menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya yang sudah sedikit bukanlah perkara mudah. Jika kau ingin tahu, kini Made Merta tidak punya tabungan sepeser pun. Tragis memang.

Made Merta merasa kehidupan setelah berkeluarga tidak semudah masa kanak-kanak dulu. Pada masa itu kita masih bisa, orang Bali bilang, natakin lima alias meminta kepada orang tua; Biaya sekolah, tinggal minta. Ingin beli apa-apa, tinggal bilang. Kita belum mengenal kata 'tanggung jawab'. Orang tualah yang menanggung, kita hanya menjawab. Yang perlu kita lakukan hanya mengikuti perintah orang tua. Betapa menyenangkan menjadi kanak-kanak. Made Merta yakin itulah alasan mengapa lagu-lagu bertema menabung kebanyakan dinyanyikan oleh anak-anak; juga slogan-slogan ajakan menabung ditempel di sekolahan, bukan di kantoran. Mungkin maksudnya supaya kita menabung sejak kecil, sejak sebelum punya tanggung jawab keuangan.

Nah, setelah berkeluarga, semua jadi berbeda. Pengeluaran merajalela. Kebutuhan membengkak dan serba mendesak. Bayar kontrakan, bayar cicilan kendaraan, bayar arisan, bayar uang kebersihan, bayar listrik, bayar SPP, beli buku, susu, tisu, beras, gas, minyak, sayur, lauk-pauk, sabun, BBM, pulsa, kuota, dan lain sebagainya. Di ATM, uang gaji bak cairan alkohol: cepat menguap.

Terlebih Made Merta adalah orang Hindu-Bali dengan seabrek kegiatan adat dan agama, baik di keluarga, di banjar, maupun di desa. Semua kegiatan itu sudah barang tentu menimbulkan pengeluaran, seperti bayar piturunan, bayar pangepok, bayar dedosan, bikin banten setiap rahinan, menyama braya, potong babi, biaya ngaben, dan lain sebagainya. Semua jadi sulit dan rumit tatkala penghasilan sedikit. Kalau begitu ceritanya, jangankan menyisihkan sedikit uang untuk ditabung, bisa tidak berutang saja Made Merta sudah merasa tenteram.

“Sentosalah kalian yang belum menjadi orang tua,” desahnya pada suatu hari kepada murid-murid zaman now yang hedonis.

Di media online Made Merta sempat membaca sepotong artikel. Tertulis di sana, sebagian besar penabung sepakat bahwa minimum tabungan dan investasi adalah 10% dari penghasilan. Menarik, pikirnya.

Para pakar finansial punya pendapat lebih brilian. Menurut mereka, bagian penghasilan yang harus disisihkan untuk ditabung setiap bulan adalah 30%. Menurut mereka pula, kalau kita bisa menabung 30% dari penghasilan per bulan, peluang pensiun dengan tenang semakin mendekati kenyataan. Luar biasa! 

Made Merta merasa tulisan itu sangat renyah dan ringan macam kerupuk. Teori-teori dan tips-tips yang dihadirkan yahud. Ide-ide cemerlang dari para ahli keuangan itu sukses membuatnya termotivasi. Dia tercerahkan! Membacanya membuat Made Merta tiba-tiba merasa optimis dan penuh harapan. Langsung saja di kepalanya terbayang masa depan yang mapan, gilang-gemilang, jauh dari yang namanya kekurangan.

Amboi, pakar finansial sungguh merupakan profesi yang mengagumkan. Sebuah profesi cerdas yang bisa menuntun umat manusia menata masa depan yang lebih baik. Hanya orang-orang yang diberkati Tuhan dengan IQ tinggi yang bisa menjadi pakar finansial. Mereka adalah orang-orang kritis dan penuh analisa. Lulusan cumlaude fakultas ekonomi perguruan tinggi luar negeri pastinya.

Hanya saja, bayangan masa depan yang mapan dan gilang-gemilang itu dalam sekejap sirna, Made Merta menemukan satu kendala: dari mana mendapatkan 10% ataupun 30% untuk ditabung? Bukankah uang selalu habis, bahkan sudah habis sebelum dia terima? Oh, my god! Padahal hidupnya sudah sangat irit, jauh lebih irit daripada Ibu menteri keuangan republik ini. Made Merta jadi paham, berteori adalah satu hal dan bagaimana mempraktikkannya adalah hal lain.

Tetapi untunglah Made Merta punya anak sudah kelas 1 SD. Rajin betul anak lanangnya itu menabung di sekolah, padahal Made Merta tidak pernah mengajari. Mungkin di kelasnya juga ada slogan-slogan persuasif berisi ajakan untuk menabung seperti di kelas bapaknya saat SD dulu. Atau jangan-jangan dia terinspirasi lagu ‘Menabung’ karya Titiek Puspa yang dinyanyikan Saskia dan Geofanny? Entahlah. Apapun itu, Made Merta senang.

Setiap hari Made Merta memberi anaknya Rp 2000, Rp 5000, terkadang Rp 10000, untuk ditabung. Sampai buku tabungannya penuh dan harus diganti. Ketika sudah kelas 6 nanti, uang tabungan itu bisa dipotong oleh sekolahnya untuk ongkos bertamasya ria ke Bedugul, pikir Made Merta. 

Di rumah, sang anak juga punya celengan. Bukan dari tanah melainkan dari bahan kaleng, bergambar superhero. Tiap malam ketika tidur, celengan itu selalu dia peluk. Betapa Made Merta bangga dengan anaknya yang semata wayang. Diam-diam, Made Merta ingin sekali kelak dia bisa menjadi seorang pakar finansial, yang cerdas, terkenal, dan pandai berteori. Jangan seperti bapaknya yang hanya seorang guru. Sudah miskin, honorer pula!

Selasa, 19 Juni 2018

Penyakit Orang Kalah

Cerpen Denpost Minggu, 20 Mei 2018

MASIH ingat Made Merta? Tokoh yang sebelumnya kuceritakan berhasil meraih cita-citanya menjadi guru?—yang pada hari pertamanya di sekolah mengalami kejadian menegangkan: bertemu dengan sesosok siswi misterius.
Kini dia masih mengajar di sana dan mulai memupuk ambisi-ambisi baru. Entah apa ambisi-ambisinya itu, yang jelas, itu membuatnya selalu bergairah menjalani hari-hari di sekolah. Ada semangat baru bertunas dalam sanubarinya.
Terlebih belakangan dia sudah dipercaya menjadi pembina, didapuk menjadi kreator juara, aih, bukan main gagah kedengarannya. Dada Made Merta selalu mengembang mendengar kata pembina. Sebutan yang membuatnya merasa menjadi seorang yang ahli, mahir, jago, master, atau dalam bahasa Inggris: expert. Padahal, bukan karena itu dia dipilih melainkan karena tidak ada orang lain yang mau repot. Made Merta tidak sadar akan hal itu. Ya, sayang sekali, Made Merta tidak tahu itu.
Seperti siang ini, ketika rekan-rekannya yang lain sudah melenggang menuju rumah masing-masing, Made Merta masih berkutat di sekolah. Kali ini dia akan membina murid yang akan berlaga dalam lomba yang sarat emosi: lomba membaca puisi. Nah! Tahu apa Made Merta tentang puisi? Dia bahkan tidak pernah membaca satu bait puisi pun seumur hidupnya.
“Agar bisa membacakan puisi dengan baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pahami puisi itu, cari tahu apa yang ingin disampaikan si pengarang dalam puisi itu,” begitulah Made Merta selalu membual pada anak didiknya.
Meskipun pengetahuannya tentang puisi amat menyedihkan dan mafhum betapa dia tidak memiliki murid yang berbakat, Made Merta tak keder. Setiap tantangan harus dijawab dengan optimis, begitu falsafah hidupnya.
Sampai akhirnya hari perlombaan tiba. Sang murid tampil membacakan puisi heroik karya Chairil Anwar yang melegenda. Made Merta mendampingi di sana, tekun menyimak lomba dari awal hingga akhir. Terkagum-kagum dia menyaksikan penampilan peserta lain yang begitu luar biasa.
Lalu pada akhir acara, saat para pemenang diumumkan, dirasakannya dadanya akan meledak. Muridnya terpilih sebagai pemenang. Juara pertama pula! Sungguh Made Merta tak menduga. Benar-benar menakjubkan! Dia melonjak, tawanya lebar, dipeluknya si murid dengan kebanggaan penuh. Pelukan yang begitu dahsyat sampai-sampai si murid kesulitan bernafas. Made Merta dihantam kegembiraan yang tak terkatakan. Hampir saja dia tidak bisa menguasai diri. Salah satu ambisinya, yaitu mencetak juara, baru saja terwujud.
Senyum Made Merta belum pudar sampai keesokkan harinya. Dia berangkat ke sekolah sambil bersiul-siul. Langkahnya ringan; Kemenangan memang selalu berasa manis. Dia sudah bersiap-siap menerima ucapan selamat dan pujian dari rekan-rekannya dan membayangkan reputasinya meroket, naik daun. Namun yang terjadi, sampai pulang sekolah, tak seorang pun menghampirinya. Jangankan memberi selamat, sekadar bertanya basa-basi pun tak ada. Made Merta merasa aneh bin ajaib.
Dua hari, tiga hari, empat hari kemudian pun sama, tak ada yang menyinggung-nyinggung perihal lomba dan juara. Seminggu kemudian, setelah tak kuasa menahan hasrat bercerita, akhirnya Made Merta mendekati seorang rekannya.
“Hai, sudah tahu? Minggu lalu murid kita dapat juara satu lomba membaca puisi,” bisik Made Merta. Rekannya yang tengah giat memeriksa ulangan menoleh datar dan bertanya, “Terus?”
“Dia baru pertama kali ikut lomba, saingannya banyak, tapi astungkara bisa bawa pulang piala. Juara satu pula. Saya yang membina,” Made Merta pamer.
Sang rekan tak berkata apa-apa. Dia sibuk saja dengan buku-buku di hadapannya. Hanya mulutnya tersungging sedikit, memperlihatkan senyum tipis, seolah-olah baru saja mendengar sesuatu yang menggelitik.
“Kenapa senyum-senyum? Nggak mau ngasi selamat, gitu?” Made Merta keheranan.
“Oh, ya, Made,” sang rekan menghentikan pekerjaannya, “selamat kalau begitu.”
“Makasi,”
“Tetapi jangan senang dulu. Saya memberi selamat bukan berarti saya mengakui kamu hebat. Saya sudah lama tidak percaya dengan lomba. Zaman sekarang, pemenang tidak selalu mereka yang tampil sempurna, mereka yang berotak encer, ataupun mereka yang kuat. Seringkali mereka yang lemah, yang penampilannya kacau, yang tidak pintar pun bisa jadi pemenang, bisa jadi juara. Jadi, menang-kalah itu biasa, jangan terlalu dibawa perasaan.”
“Saya kurang paham.”
“Jangan naif. Lomba sekarang sudah tidak murni lomba, tidak semata-mata mencari yang orang yang unggul untuk dipilih menjadi juara. Sekarang ini lomba penuh kecurangan, rekayasa, kongkalikong. Lomba sudah menjadi bagian dari bisnis, terkadang juga politik, sarat kepentingan. Lomba sekarang sudah tercemar. Apalagi lomba membaca puisi, subjektivitasnya kentara, tergantung selera, suka-sukanya juri. Acapkali yang menurut kita bagus, eh, oleh juri malah dicaci-maki, atau sebaliknya. Beda dengan main catur, misalnya, yang sudah jelas-jelas menang-kalahnya. Kalau rajanya sudah kena skak mat, ya sudah pasti kalah.”
Made Merta diam tertegun. Tampak betul dia kesulitan mencerna kata-kata rekannya itu.
“Apakah kamu memperhatikan penampilan peserta lain?”
Made Merta mengangguk.
“Menurutmu mereka jelek?”
“Tidak.”
“Ya itu. Kalau peserta lain juga tampil bagus, kenapa bukan mereka yang jadi juara? Apalagi murid yang dikirim baru pertama kali ikut lomba, belum punya jam terbang, masa langsung dapat juara satu? Menjadi juara itu tidak bisa instan, harus bertahap, mulai dari bawah dulu. Bisa jadi muridmu dimenangkan bukan karena dia lebih baik dari yang lain, tetapi karena ada agenda tertentu di baliknya.”
Mendengar ucapan yang terakhir Made Merta langsung ngeloyor tanpa kata. Mukanya merah padam. Panas hatinya. Tampak betul dia tidak terima. Dia dan murid binaannya sudah bekerja keras dan pantas menjadi juara. Masa dibilang ada kongkalikong. Sampai mengatakan juri tidak objektif. Dasar sinting! Keterlaluan. Itu adalah ocehan orang iri, yang tidak senang melihat kegemilangan orang di sebelahnya. Seharusnya kan ikut senang. Saling mendukung. Benar-benar tidak menghargai. Sangat merendahkan nilai-nilai sportivitas. Penyakit orang kalah.
Bagi Made Merta, lomba adalah sesuatu yang suci, yang tidak memiliki tujuan lain selain memilih yang terbaik dari yang terbaik dengan cara-cara yang jujur, bersih, dan tidak ditunggangi kepentingan apapun. Tak terkecuali lomba yang diikuti muridnya.
Kali berikutnya ada undangan lomba membaca puisi lagi. Made Merta sumringah sebab meskipun beda penyelenggara dan beda juri, puisi yang wajib dibawakan lagi-lagi puisi heroik karya Chairil Anwar yang melegenda. Belum apa-apa Made Merta sudah optimis bakalan juara. Bukankah dia sudah punya bibit?—Made Merta kini punya istilah baru untuk menyebut murid yang akan dikirimnya lomba.
Tak buang masa, segera dipanggil bibitnya itu dan, meskipun masih belum belajar banyak tentang puisi, dia tetap lantang berkata, “Agar bisa membacakan puisi dengan baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pahami puisi itu, cari tahu apa yang ingin disampaikan si pengarang dalam puisi itu.”
Melihat performa murid binaannya, Made Merta puas. Rasanya piala sudah di tangan. Tak sabar dia menunggu hari H tiba. Lomba kali ini tak ubahnya ajang pembuktian dan penegasan bahwa kemenangannya tempo hari adalah murni hasil jerih payahnya, bukan berkat pertolongan ataupun hadiah dari orang lain; Bahwa kemudian kemenangan itu layak untuk dirayakan, dibanggakan, dan diapresiasi. Dia ingin rekannya itu menelan kembali kata-kata yang dimuntahkannya dulu.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Made Merta, seperti sebelumnya, ikut mendampingi jagoannya di sana. Dia memerhatikan para peserta dan merasa damai. Rupanya sebagian besar adalah peserta yang sama dengan lomba terdahulu; Orang-orang yang pernah dipecundangi muridnya. Amboi, kemenangan sudah di depan mata!
Beberapa jam kemudian, setelah semua peserta tampil, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, momen yang mendebarkan. Dewan juri mengumumkan pemenang lomba. Mulailah nomor-nomor peserta yang menang disebutkan satu per satu diikuti riuh sorak-sorai dan tepuk tangan. Lalu, di kursi sana, Made Merta melongo, agaknya kebingungan. Di antara nomor yang disebutkan juri, tak ada nomor muridnya. Duh, kasihan Made Merta. Kali ini murid juara satunya gagal juara. Dia melempar handuk; kecewa.
“Lomba zaman sekarang payah. Juri-juri tidak becus. Masa jelek gitu jadi juara? Tidak sportif. Tidak murni. Pasti ada kongkalikong! Huh!” Made Merta menyumpah-nyumpah. Tak dinyana, rupanya Made Merta juga mengidap penyakit orang kalah.***



Minggu, 25 Maret 2018

Mobil Baru Made Merta

BILA ada lomba suami teladan, pasti Made Merta juaranya. Semua unsur-unsur suami yang dapat diandalkan ada pada dirinya.

Sejak perkawinannya sah, seusai dipuput pendeta, Made Merta memang sudah bertekad akan menjadi suami nomor satu, menjadi suami yang selalu menyejukkan hati sang istri.

Tekadnya itu bukanlah omong kosong. Demi meringankan beban sang istri misalnya, Made Merta tak ragu menggarap pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang umumnya dikerjakan kaum hawa. Dari mencuci baju hingga mengurus anak, semua diembannya dengan penuh tanggung jawab.
Made Merta memang suami yang perhatian. Dia ingin sang istri juga punya waktu untuk menyenangkan diri. Toh, sang istri juga bekerja.

Made Merta pun selalu berusaha memenuhi segala keinginan sang istri. Meskipun kantongnya tak tebal, asal bisa bilang, segala kemauan sang istri pasti dituruti.

Untungnya, sang istri juga sosok yang pengertian. Dia tidak pernah meminta hal-hal yang dia tahu suaminya tidak akan mampu memenuhi.

Namun, pada suatu malam menjelang tidur, sang istri berbisik. Katanya, sudah lama dia mengidamkan sebuah mobil. Made Merta terperangah. Dapat uang darimana untuk membeli mobil? Dia berpikir keras dan tidak bisa tidur memikirkan hal itu.

Selama ini Made Merta hidup sederhana. Memiliki mobil tidak termasuk dalam cita-citanya.

Namun setelah direnungkan, masuk akal juga. Belakangan ini mereka sering pulang kampung. Si anak sudah kian besar, tak muat lagi dibonceng naik sepeda motor. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Maka mobil memang suatu hal yang harus diupayakan.

Oleh sebab itu, hari-hari berikutnya Made Merta dengan tertib menyisihkan pendapatannya untuk bisa membeli mobil. Seperti kukatakan tadi, Made Merta adalah lelaki yang dapat diandalkan. Mengecewakan istri bukanlah kebiasaannya.

Waktu berjalan, akhirnya Desember, bulan kelahiran sang istri. Uang terkumpul. Diam-diam, Made Merta berangkat ke showroom mobil dan membawa pulang satu sebagai kado ulang tahun. Manis sekali bukan?

“Bu, coba lihat ke sini!” Made Merta sumringah memanggil sang istri, lalu tersenyum puas menunjukkan sebuah mobil gres di depan rumah.

Sang istri terkesiap dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Ekspresinya jelas menunjukkan perasaan antara gembira dan tak percaya. Sang anak juga muncul lalu bersorak-sorak riang. Mereka berangkulan penuh sukacita. Sungguh keluarga kecil yang bahagia.

“Tapi, kita taruh dimana mobil kita, Bu?” Made Merta tiba-tiba ingat bahwa mereka tidak punya garasi.

“Taruh di depan rumah saja. Toh, jalannya cukup besar.”

“Tapi di sana kan tempat mobil Pak Dewa biasa parkir?”

“Ya, di depan itu kan masih lingkungan kita. Lagipula Pak Dewa punya garasi kok.”

Keesokan harinya menjadi debut yang sangat istimewa. Sang istri akan berangkat kerja dan, bak gayung bersambut, di luar hujan turun dengan derasnya. Made Merta dan istrinya tidak mengeluh seperti yang sudah-sudah. Mereka justru bersyukur. Keputusan membeli mobil terasa tepat.

Di tengah kebahagiaan itu, beberapa hari kemudian, terjadilah malapetaka yang membuat Made Merta geram. Matanya melotot, perutnya mendidih. Dia ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Sebaris baret panjang terpampang di bodi mobil sebelah kanan!

Made Merta kontan emosi. Mobil itu kini sudah menjadi benda paling prestisius--kalau tidak ingin mengatakan sudah seperti anggota keluarga--dan kini seseorang menggoresnya tanpa perasaan.

Dalam kalap, pikirannya sontak tertuju pada anak-anak yang biasa bermain sepeda di depan rumah. Tetapi ada begitu banyak anak-anak, siapa kira-kira yang sudah berani kurang ajar? Apakah Panjul? Alit? Bojes? Atau Lipur?

Panjul, agaknya bukan dia pelakunya. Dia sudah SD kelas 6. Anak seusianya pasti sudah paham bahwa mobil bukanlah barang sembarangan. Dia tidak akan bersepeda di dekat mobil dengan ceroboh dan ugal-ugalan.

Alit, sudah TK besar, juga bukan dia. Dia pemalu dan biasanya duduk di pinggir saja ketika yang lain asyik bermain.

Bojes, anaknya sendiri, lima tahun umurnya. Made Merta sudah menginterogasinya berkali-kali dan dia bersikukuh bilang tidak pernah menyentuh mobil. Barangkali memang bukan dia.

Anak terakhir, Lipur, seusia dengan anaknya. Nah, dia yang paling mungkin. Dialah yang badannya paling bau, jarang mandi, dan tidak pernah memakai sandal!

Pasti dia! Tidak bisa tidak, Lipur pelakunya! Made Merta dilanda keyakinan yang mantap. Dia sudah ingin segera menendang anak itu, namun urung dilakukannya. Atas dasar apa dia menuduh anak itu?

Beberapa hari berikutnya, astaga! Lagi-lagi Made Merta menemukan baret pada bagian mobil yang lain!

Made Merta kian gusar. Pada detik itu ingin sekali dia mengunyah orang dan orang bernasib buruk itu adalah Lipur!

Tetapi tak ada bukti, pun tak ada saksi. Made Merta benci lantaran tak berdaya. Semua kejengkelan itu pun hanya bisa disimpannya dalam-dalam. Bak menyimpan api dalam sekam.

Semenjak kejadian itu Made Merta selalu berprasangka buruk terhadap Lipur. Ketika pot tanaman pecah, atau ketika ada corat-coret di tembok luar rumah, atau ketika tempat sampah terguling sehingga isinya terserak tumpah, Made Merta langsung menuding Lipur biang keladinya.

Apakah karena kumal berarti dia seorang kriminal? Kemarahan yang tak terlampiaskan membuat Made Merta dendam. Dendam membuat Made Merta kehilangan akal sehat.

Tapi tak lama berselang, Made Merta menemukan alasan melampiaskan semua kekesalannya. Ketika itu Lipur bermain dengan sang anak di dalam rumah. Made Merta mendelik. Ingin sekali dia mengusir anak itu, tetapi tidak dilakukannya. Kemudian entah bagaimana ceritanya, Lipur menyenggol gelas di atas meja dan praang…! Gelas itu pecah, persis di depan hidung Made Merta.

Emosi Made Merta meluap. Tanpa panjang kata dia menggampar anak itu dan menjewernya tanpa ampun.

“Makanya pakai mata kalau main!” Ternyata ada sisi kejam tersembunyi dalam diri Made Merta.

Lipur menangis meraung-raung. Besoknya dia tak keluar rumah. Konon, badannya demam, bahkan nyaris kejang. Kasihan benar.

Lantaran tidak enak hati dengan orang tua Lipur, sang istri ingin Made Merta meminta maaf. Tak seharusnya Made Merta keras begitu pada anak-anak. Alih-alih setuju, Made Merta justru menghardik sang istri.

“Tidak usah sok menasihati aku! Bocah tengik itu memang patut diberi pelajaran! Jangan dibela. Ibu tidak tahu apa yang telah dia perbuat pada mobil kita! Bila perlu ku gampar dia lagi tiga kali!”

Sang istri terkejut. Benarkah lelaki di depannya itu Made Merta?

Made Merta yang dikenalnya adalah lelaki terpuji, suri teladan, juga ramah anak macam Kak Seto Mulyadi. Semenjak punya mobil Made Merta berubah. Ternyata sebuah benda bisa begitu cepat mengubah watak manusia. Sang istri miris.

Iya, Made Merta pun merasa dirinya tak lagi sama. Sejak punya mobil, pikirannya selalu cemas, was-was. Sebentar-sebentar dia melompat keluar mengintip mobilnya. Dia takut mobilnya kotor, lecet, atau hilang dicuri orang. Made Merta memang kadang-kadang suka berlebihan.

Lambat laun Made Merta menyadari, ternyata begini rasanya punya mobil: hidup jadi tidak tenteram.

Tetapi mengapa dia yang lebih was-was? Bukankah yang awalnya menginginkan mobil adalah sang istri? Lihat, istrinya tenang-tenang saja. Jangan-jangan, tanpa disadari, dialah yang sebenarnya lebih menginginkan punya mobil ketimbang sang istri.

Hingga akhirnya suatu malam, tak lama setelah kejadian itu, Made Merta pulang dari kondangan. Saking lelahnya, dia tidak langsung masuk rumah dan ketiduran di dalam mobil.

Tak sadar sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba terdengar suara misterius dari belakang mobil, suara seperti sesuatu digoreskan dengan kasar.

Made Merta membuka mata. Samar-samar dia melihat sesosok manusia!

“Ha… Rasakan lagi! Siapa suruh nyerobot tempat parkirku!” Sosok itu menggumam. Duh, apakah selama ini orang itu pelakunya?

“Hei!” pekik Made Merta kemudian.

Sadar aksinya ketahuan, sosok itu langsung minggat secepat kilat. Made Merta meloncat keluar dari mobil, tapi tidak berusaha mengejar. Dia hanya melongo lantaran takjub. Kendati suasana remang, Made Merta mengenali sosok itu. Orang yang sama sekali tak pernah terpikir olehnya.

“Pak Dewa?” ucapnya setengah tak percaya.

Made Merta tiba-tiba teringat Lipur. Ingin sekali dia memeluk anak lugu lagi polos itu.

Minggu, 18 Februari 2018

Gelisah Malam


Malam ini kau tidak bisa tidur lagi. Badanmu sudah kau siram. Lampu-lampu sudah padam. Kasur empuk telah kau rapikan. Tetapi kantukmu tak jua datang.

Kau bangkit, memandang sekeliling kamar yang  remang, lalu rebah lagi. Matamu terpejam tapi sesuatu tak henti berkecamuk di kepalamu, membuatmu tetap terjaga.

Mungkin setelah satu-dua lagu, aku bisa tidur, pikirmu. Kau putar lagu-lagu sendu tahun 90-an dan benar saja, kau mulai menguap setelah lagu kesepuluh. Baiklah, mari tidur.

Namun baru saja menutup mata, kepalamu mendadak gatal bak diserang ribuan kutu. Udara tiba-tiba menjadi teramat dingin. Kucing usil merangkak di atas atap seng menimbulkan bunyi gemerondeng yang semakin mengganggu.

Kau urung tidur. Putus asa, kau menyalakan televisi. Sial, siarannya selalu sama dan membosankan: drama konyol seorang pejabat yang berusaha kabur dari tanggung jawab. Lantaran ulah si pejabat, hingga detik ini kau belum memiliki KTP. Apakah dia tetap sakti seperti yang sudah-sudah? Entahlah, yang jelas, kini wajahnya tampak konyol di pengadilan.

Selalu begitu setiap malam, beberapa minggu belakangan. Kau mulai bertanya-tanya apa yang salah dengan dirimu. Kau frustasi.

Biar aku bagi tahu. Gelisah! Itulah yang sekarang menderamu, kawan. Kau merasa semua baik-baik saja tetapi sebetulnya kau gelisah. Kepalamu disesaki pikiran. Otakmu tegang, tak bisa bernafas.

Gelisah membuatmu tidak bisa tidur. Jikapun bisa, sering tidak nyenyak. Pikiran-pikiran yang berkeliaran itu hanyut terseret ke alam bawah sadar membuatmu bermimpi yang bukan-bukan. Keesokan paginya kau terbangun dengan tubuh lemas seakan telah bekerja keras seharian. Matamu masih menggantung, rasanya baru saja terpejam.

Akuilah bahwa kau sedang gelisah. Seorang kritikus sastra dari Larantuka pernah menyebutkan ada tiga jenis kegelisahan. Salah satu kegelisahan itu adalah kegelisahan eksistensial, yang menggambarkan sastrawan menghadapi dan mencoba menyelesaikan persoalan dirinya sendiri. Meski aku tahu kau bukan sastrawan, aku yakin kau mengalami kegelisahan itu. Kau tengah menghadapi persoalan: kau butuh didengar akan tetapi tak ada yang mendengar.

Kau ingin berkomentar setelah membaca berita utama di koran tadi pagi, juga berkomentar tentang tingkah laku murid-murid zaman sekarang, atau segala intrik antarmanusia dari sudutmu berdiri, namun tak satu pun mau mendengar. Dewasa ini, orang-orang memang lebih suka didengar ketimbang mendengar.

Jadi yang harus kau lakukan adalah menulis. Tumpahkan isi kepalamu ke dalam wujud tulisan. Tuliskan apa yang ada di benak, apa yang dicerap indera, semua pengalaman, pun semua kegelisahan.

Tulis sekarang juga, jangan tunggu besok pagi, lusa, apalagi tahun depan. Gelisah adalah situasi yang tepat bagi seseorang untuk menulis.

Bukankah istri dan anakmu telah terlelap. Tidak ada yang mengganggumu saat ini. Tidak ada yang akan merebut laptopmu untuk kemudian dipakai main Plants Versus Zombie. Tidak ada yang akan membuka obrolan tentang pekerjaan yang bisa membuyarkan konsentrasimu.

Tadi pagi kau tercenung membaca surat kabar. Berita tentang sebuah gunung yang diprediksi akan meletus ada di halaman depan. Puluhan ribu warga mengungsi.

Berpuluh tahun sebelum tadi pagi, letusan dahsyat gunung yang sama memaksa para tetuamu hijrah nun ke pulau seberang.

Mereka harus berpindah seiring menguapnya harapan hidup di tanah kelahiran sendiri. Sawah ladang luluh lantak berantakan akibat erupsi.

Butuh waktu berhari-hari terombang-ambing di atas kapal berbau solar hingga akhirnya tiba di sebuah tanah baru bernama Sulawesi. Jangan silap ketika mendengar kata tanah. Tanah itu bukanlah lahan permukiman yang siap digarap dan ditinggali melainkan hutan rimba yang liar dan masih perawan. Di sanalah mereka berkampung. Memulai semua dari nol.

Beberapa bulan mereka hidup disokong jaminan dari pemerintah. Saat jaminan itu putus, mereka harus berjuang sendiri. Tetuamu bercerita bahwa dia pernah berhari-hari hanya makan dedaunan yang tumbuh di sepanjang pinggir sungai setelah kiriman beras terhenti. Bayangkan!

Pelan-pelan mereka mulai berniaga, menjual komoditas yang didapat di kampung ke kota, dipikul berjalan kaki selama sehari semalam. Sampai di kota membeli lagi dagangan untuk dijajakan selama perjalanan kembali ke kampung, berjalan kaki pula.

Mereka yang ulet dan tangguh kini mampu membeli gunung, punya puluhan hektar kebun. Sedangkan mereka yang kurang beruntung harus balik kampung. Bingung, dengan cara bagaimana hidup akan disambung.

Saat ini muncul lagi wacana transmigrasi sebagai solusi bagi pengungsi jika bencana berlangsung lama. Banyak saudaramu di sana. Kau gelisah.
Siangnya kau masuk kelas lalu tak habis pikir. Salah seorang murid terlambat mengikuti ulangan umum padahal rumahnya dekat saja. Konon lantaran menunggu hujan reda.

Setelah duduk, dia tidak segera menjawab soal Bahasa Indonesia di hadapannya. Soal-soal yang kebanyakan berbentuk teks panjang itu membuatnya tidak betah. Alih-alih menjawab soal, dia justru melamun. Dalam hati barangkali dia bertanya-tanya: siapa yang menciptakan pelajaran membosankan semacam ini? Menurutnya bahasa itu sederhana saja. Dia ngomong aku ngerti, aku ngomong dia ngerti. Selesai. Tak perlu ribet belajar bentuk baku, segala konjungsi, struktur teks, ciri kebahasaan, apalah itu istilahnya.

Sungguh dia adalah kid zaman now yang tidak gemar membaca.

Dia belum paham betapa bahasa Indonesia memiliki peran yang tidak kecil ketika bangsa ini berada dalam masa perjuangan pergerakan kemerdekaan. Tanpa bahasa Indonesia, orang-orang Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam suku bangsa akan menemui masalah ketika berkomunikasi. Bahasa Indonesia tak ubahnya bahasa persatuan. Makanya dalam Sumpah Pemuda dan pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia turut disebut-sebut. Dan hingga kini, Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa.

Hebatnya lagi, dewasa ini bahasa kita dipakai dan dipelajari di lebih dari 45 negara di dunia. Ada Rusia, Ceko, Australia, Jepang, Korea, Filipina, India, Jerman, Prancis, Inggris, Amerika, Kanada, dan lain-lain. Bahkan, di Vietnam, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua.

Oleh karena itulah, bahasa Indonesia perlu dilestarikan. Salah satu cara melestarikan adalah dengan mempelajari dan menggunakannya dengan baik dan benar. Kita harus bangga menjadi bangsa pemilik bahasa Indonesia.

Tapi sayangnya, semua argumentasi tersebut tak pernah benar-benar kau sampaikan pada murid yang memprihatinkan itu. Kau gelisah.

Sampai di kantor, kembali kau terheran-heran. Sekelompok rekan kerja mengobrol seru. Topiknya  nenek sihir. Usut punya usut, ternyata nenek sihir yang dimaksud tak lain adalah mertua perempuan mereka masing-masing.

Nenek sihir itu diam-diam, saat aku pergi kerja, suka mengambil lauk yang kumasak; Nenek sihir itu tidak mau ngempu cucunya sendiri; Nenek sihir itu selalu mendelik jika saat libur aku bangun siang; Semoga nenek sihir itu cepat mati! Begitu mereka bercerita, saking bersemangat hingga mulutnya miring-miring. Astaga! Kau bertanya-tanya, apakah benar seperti itu? Atau mereka sekadar membual agar ada obrolan seru?

Kau tertegun. Jangan-jangan istriku juga begitu, suka menjelek-jelekkan ibu, batinmu.

Sampai di rumah kau masih tidak tenang. Selama ini kau merasa istrimu memang tidak begitu akrab dengan ibumu. Meski itu tidak berarti mereka saling tidak menyukai namun tak ayal kau jadi bimbang, di sisi siapa kau akan berdiri seandainya mereka memang berseberangan?

Kau pun gelisah.