Minggu, 25 Maret 2018

Mobil Baru Made Merta

BILA ada lomba suami teladan, pasti Made Merta juaranya. Semua unsur-unsur suami yang dapat diandalkan ada pada dirinya.

Sejak perkawinannya sah, seusai dipuput pendeta, Made Merta memang sudah bertekad akan menjadi suami nomor satu, menjadi suami yang selalu menyejukkan hati sang istri.

Tekadnya itu bukanlah omong kosong. Demi meringankan beban sang istri misalnya, Made Merta tak ragu menggarap pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang umumnya dikerjakan kaum hawa. Dari mencuci baju hingga mengurus anak, semua diembannya dengan penuh tanggung jawab.
Made Merta memang suami yang perhatian. Dia ingin sang istri juga punya waktu untuk menyenangkan diri. Toh, sang istri juga bekerja.

Made Merta pun selalu berusaha memenuhi segala keinginan sang istri. Meskipun kantongnya tak tebal, asal bisa bilang, segala kemauan sang istri pasti dituruti.

Untungnya, sang istri juga sosok yang pengertian. Dia tidak pernah meminta hal-hal yang dia tahu suaminya tidak akan mampu memenuhi.

Namun, pada suatu malam menjelang tidur, sang istri berbisik. Katanya, sudah lama dia mengidamkan sebuah mobil. Made Merta terperangah. Dapat uang darimana untuk membeli mobil? Dia berpikir keras dan tidak bisa tidur memikirkan hal itu.

Selama ini Made Merta hidup sederhana. Memiliki mobil tidak termasuk dalam cita-citanya.

Namun setelah direnungkan, masuk akal juga. Belakangan ini mereka sering pulang kampung. Si anak sudah kian besar, tak muat lagi dibonceng naik sepeda motor. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Maka mobil memang suatu hal yang harus diupayakan.

Oleh sebab itu, hari-hari berikutnya Made Merta dengan tertib menyisihkan pendapatannya untuk bisa membeli mobil. Seperti kukatakan tadi, Made Merta adalah lelaki yang dapat diandalkan. Mengecewakan istri bukanlah kebiasaannya.

Waktu berjalan, akhirnya Desember, bulan kelahiran sang istri. Uang terkumpul. Diam-diam, Made Merta berangkat ke showroom mobil dan membawa pulang satu sebagai kado ulang tahun. Manis sekali bukan?

“Bu, coba lihat ke sini!” Made Merta sumringah memanggil sang istri, lalu tersenyum puas menunjukkan sebuah mobil gres di depan rumah.

Sang istri terkesiap dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Ekspresinya jelas menunjukkan perasaan antara gembira dan tak percaya. Sang anak juga muncul lalu bersorak-sorak riang. Mereka berangkulan penuh sukacita. Sungguh keluarga kecil yang bahagia.

“Tapi, kita taruh dimana mobil kita, Bu?” Made Merta tiba-tiba ingat bahwa mereka tidak punya garasi.

“Taruh di depan rumah saja. Toh, jalannya cukup besar.”

“Tapi di sana kan tempat mobil Pak Dewa biasa parkir?”

“Ya, di depan itu kan masih lingkungan kita. Lagipula Pak Dewa punya garasi kok.”

Keesokan harinya menjadi debut yang sangat istimewa. Sang istri akan berangkat kerja dan, bak gayung bersambut, di luar hujan turun dengan derasnya. Made Merta dan istrinya tidak mengeluh seperti yang sudah-sudah. Mereka justru bersyukur. Keputusan membeli mobil terasa tepat.

Di tengah kebahagiaan itu, beberapa hari kemudian, terjadilah malapetaka yang membuat Made Merta geram. Matanya melotot, perutnya mendidih. Dia ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Sebaris baret panjang terpampang di bodi mobil sebelah kanan!

Made Merta kontan emosi. Mobil itu kini sudah menjadi benda paling prestisius--kalau tidak ingin mengatakan sudah seperti anggota keluarga--dan kini seseorang menggoresnya tanpa perasaan.

Dalam kalap, pikirannya sontak tertuju pada anak-anak yang biasa bermain sepeda di depan rumah. Tetapi ada begitu banyak anak-anak, siapa kira-kira yang sudah berani kurang ajar? Apakah Panjul? Alit? Bojes? Atau Lipur?

Panjul, agaknya bukan dia pelakunya. Dia sudah SD kelas 6. Anak seusianya pasti sudah paham bahwa mobil bukanlah barang sembarangan. Dia tidak akan bersepeda di dekat mobil dengan ceroboh dan ugal-ugalan.

Alit, sudah TK besar, juga bukan dia. Dia pemalu dan biasanya duduk di pinggir saja ketika yang lain asyik bermain.

Bojes, anaknya sendiri, lima tahun umurnya. Made Merta sudah menginterogasinya berkali-kali dan dia bersikukuh bilang tidak pernah menyentuh mobil. Barangkali memang bukan dia.

Anak terakhir, Lipur, seusia dengan anaknya. Nah, dia yang paling mungkin. Dialah yang badannya paling bau, jarang mandi, dan tidak pernah memakai sandal!

Pasti dia! Tidak bisa tidak, Lipur pelakunya! Made Merta dilanda keyakinan yang mantap. Dia sudah ingin segera menendang anak itu, namun urung dilakukannya. Atas dasar apa dia menuduh anak itu?

Beberapa hari berikutnya, astaga! Lagi-lagi Made Merta menemukan baret pada bagian mobil yang lain!

Made Merta kian gusar. Pada detik itu ingin sekali dia mengunyah orang dan orang bernasib buruk itu adalah Lipur!

Tetapi tak ada bukti, pun tak ada saksi. Made Merta benci lantaran tak berdaya. Semua kejengkelan itu pun hanya bisa disimpannya dalam-dalam. Bak menyimpan api dalam sekam.

Semenjak kejadian itu Made Merta selalu berprasangka buruk terhadap Lipur. Ketika pot tanaman pecah, atau ketika ada corat-coret di tembok luar rumah, atau ketika tempat sampah terguling sehingga isinya terserak tumpah, Made Merta langsung menuding Lipur biang keladinya.

Apakah karena kumal berarti dia seorang kriminal? Kemarahan yang tak terlampiaskan membuat Made Merta dendam. Dendam membuat Made Merta kehilangan akal sehat.

Tapi tak lama berselang, Made Merta menemukan alasan melampiaskan semua kekesalannya. Ketika itu Lipur bermain dengan sang anak di dalam rumah. Made Merta mendelik. Ingin sekali dia mengusir anak itu, tetapi tidak dilakukannya. Kemudian entah bagaimana ceritanya, Lipur menyenggol gelas di atas meja dan praang…! Gelas itu pecah, persis di depan hidung Made Merta.

Emosi Made Merta meluap. Tanpa panjang kata dia menggampar anak itu dan menjewernya tanpa ampun.

“Makanya pakai mata kalau main!” Ternyata ada sisi kejam tersembunyi dalam diri Made Merta.

Lipur menangis meraung-raung. Besoknya dia tak keluar rumah. Konon, badannya demam, bahkan nyaris kejang. Kasihan benar.

Lantaran tidak enak hati dengan orang tua Lipur, sang istri ingin Made Merta meminta maaf. Tak seharusnya Made Merta keras begitu pada anak-anak. Alih-alih setuju, Made Merta justru menghardik sang istri.

“Tidak usah sok menasihati aku! Bocah tengik itu memang patut diberi pelajaran! Jangan dibela. Ibu tidak tahu apa yang telah dia perbuat pada mobil kita! Bila perlu ku gampar dia lagi tiga kali!”

Sang istri terkejut. Benarkah lelaki di depannya itu Made Merta?

Made Merta yang dikenalnya adalah lelaki terpuji, suri teladan, juga ramah anak macam Kak Seto Mulyadi. Semenjak punya mobil Made Merta berubah. Ternyata sebuah benda bisa begitu cepat mengubah watak manusia. Sang istri miris.

Iya, Made Merta pun merasa dirinya tak lagi sama. Sejak punya mobil, pikirannya selalu cemas, was-was. Sebentar-sebentar dia melompat keluar mengintip mobilnya. Dia takut mobilnya kotor, lecet, atau hilang dicuri orang. Made Merta memang kadang-kadang suka berlebihan.

Lambat laun Made Merta menyadari, ternyata begini rasanya punya mobil: hidup jadi tidak tenteram.

Tetapi mengapa dia yang lebih was-was? Bukankah yang awalnya menginginkan mobil adalah sang istri? Lihat, istrinya tenang-tenang saja. Jangan-jangan, tanpa disadari, dialah yang sebenarnya lebih menginginkan punya mobil ketimbang sang istri.

Hingga akhirnya suatu malam, tak lama setelah kejadian itu, Made Merta pulang dari kondangan. Saking lelahnya, dia tidak langsung masuk rumah dan ketiduran di dalam mobil.

Tak sadar sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba terdengar suara misterius dari belakang mobil, suara seperti sesuatu digoreskan dengan kasar.

Made Merta membuka mata. Samar-samar dia melihat sesosok manusia!

“Ha… Rasakan lagi! Siapa suruh nyerobot tempat parkirku!” Sosok itu menggumam. Duh, apakah selama ini orang itu pelakunya?

“Hei!” pekik Made Merta kemudian.

Sadar aksinya ketahuan, sosok itu langsung minggat secepat kilat. Made Merta meloncat keluar dari mobil, tapi tidak berusaha mengejar. Dia hanya melongo lantaran takjub. Kendati suasana remang, Made Merta mengenali sosok itu. Orang yang sama sekali tak pernah terpikir olehnya.

“Pak Dewa?” ucapnya setengah tak percaya.

Made Merta tiba-tiba teringat Lipur. Ingin sekali dia memeluk anak lugu lagi polos itu.

Membonceng Rezeki

-Hidup memang sulit, namun selalu ada jalan untuk mereka yang mau berusaha.-

Dalam foto tampak seorang bapak membonceng karung. Begitu besarnya karung membuat bapak yang di belakang tak kebagian tempat  duduk. Namun, mereka tak kehilangan akal. Dengan cemerlang mereka menambahkan papan kayu panjang sehingga motor itu mampu menampung mereka berdua plus karung-karung itu.

Saya memerhatikan bapak-bapak itu dari Sempidi hingga A. Yani Selatan, Minggu (25/03/2018) sore. Sepertinya menuju ke pasar. Tak jelas apa isi karung-karung tersebut. Sepertinya timun, atau terong, atau jagung (?)

Kalau dilihat polisi kena tilang nggak ya? Yang penting tetap hati-hati ya, Pak, dan semoga selamat sampai di tujuan.




Minggu, 18 Februari 2018

Gelisah Malam


Malam ini kau tidak bisa tidur lagi. Badanmu sudah kau siram. Lampu-lampu sudah padam. Kasur empuk telah kau rapikan. Tetapi kantukmu tak jua datang.

Kau bangkit, memandang sekeliling kamar yang  remang, lalu rebah lagi. Matamu terpejam tapi sesuatu tak henti berkecamuk di kepalamu, membuatmu tetap terjaga.

Mungkin setelah satu-dua lagu, aku bisa tidur, pikirmu. Kau putar lagu-lagu sendu tahun 90-an dan benar saja, kau mulai menguap setelah lagu kesepuluh. Baiklah, mari tidur.

Namun baru saja menutup mata, kepalamu mendadak gatal bak diserang ribuan kutu. Udara tiba-tiba menjadi teramat dingin. Kucing usil merangkak di atas atap seng menimbulkan bunyi gemerondeng yang semakin mengganggu.

Kau urung tidur. Putus asa, kau menyalakan televisi. Sial, siarannya selalu sama dan membosankan: drama konyol seorang pejabat yang berusaha kabur dari tanggung jawab. Lantaran ulah si pejabat, hingga detik ini kau belum memiliki KTP. Apakah dia tetap sakti seperti yang sudah-sudah? Entahlah, yang jelas, kini wajahnya tampak konyol di pengadilan.

Selalu begitu setiap malam, beberapa minggu belakangan. Kau mulai bertanya-tanya apa yang salah dengan dirimu. Kau frustasi.

Biar aku bagi tahu. Gelisah! Itulah yang sekarang menderamu, kawan. Kau merasa semua baik-baik saja tetapi sebetulnya kau gelisah. Kepalamu disesaki pikiran. Otakmu tegang, tak bisa bernafas.

Gelisah membuatmu tidak bisa tidur. Jikapun bisa, sering tidak nyenyak. Pikiran-pikiran yang berkeliaran itu hanyut terseret ke alam bawah sadar membuatmu bermimpi yang bukan-bukan. Keesokan paginya kau terbangun dengan tubuh lemas seakan telah bekerja keras seharian. Matamu masih menggantung, rasanya baru saja terpejam.

Akuilah bahwa kau sedang gelisah. Seorang kritikus sastra dari Larantuka pernah menyebutkan ada tiga jenis kegelisahan. Salah satu kegelisahan itu adalah kegelisahan eksistensial, yang menggambarkan sastrawan menghadapi dan mencoba menyelesaikan persoalan dirinya sendiri. Meski aku tahu kau bukan sastrawan, aku yakin kau mengalami kegelisahan itu. Kau tengah menghadapi persoalan: kau butuh didengar akan tetapi tak ada yang mendengar.

Kau ingin berkomentar setelah membaca berita utama di koran tadi pagi, juga berkomentar tentang tingkah laku murid-murid zaman sekarang, atau segala intrik antarmanusia dari sudutmu berdiri, namun tak satu pun mau mendengar. Dewasa ini, orang-orang memang lebih suka didengar ketimbang mendengar.

Jadi yang harus kau lakukan adalah menulis. Tumpahkan isi kepalamu ke dalam wujud tulisan. Tuliskan apa yang ada di benak, apa yang dicerap indera, semua pengalaman, pun semua kegelisahan.

Tulis sekarang juga, jangan tunggu besok pagi, lusa, apalagi tahun depan. Gelisah adalah situasi yang tepat bagi seseorang untuk menulis.

Bukankah istri dan anakmu telah terlelap. Tidak ada yang mengganggumu saat ini. Tidak ada yang akan merebut laptopmu untuk kemudian dipakai main Plants Versus Zombie. Tidak ada yang akan membuka obrolan tentang pekerjaan yang bisa membuyarkan konsentrasimu.

Tadi pagi kau tercenung membaca surat kabar. Berita tentang sebuah gunung yang diprediksi akan meletus ada di halaman depan. Puluhan ribu warga mengungsi.

Berpuluh tahun sebelum tadi pagi, letusan dahsyat gunung yang sama memaksa para tetuamu hijrah nun ke pulau seberang.

Mereka harus berpindah seiring menguapnya harapan hidup di tanah kelahiran sendiri. Sawah ladang luluh lantak berantakan akibat erupsi.

Butuh waktu berhari-hari terombang-ambing di atas kapal berbau solar hingga akhirnya tiba di sebuah tanah baru bernama Sulawesi. Jangan silap ketika mendengar kata tanah. Tanah itu bukanlah lahan permukiman yang siap digarap dan ditinggali melainkan hutan rimba yang liar dan masih perawan. Di sanalah mereka berkampung. Memulai semua dari nol.

Beberapa bulan mereka hidup disokong jaminan dari pemerintah. Saat jaminan itu putus, mereka harus berjuang sendiri. Tetuamu bercerita bahwa dia pernah berhari-hari hanya makan dedaunan yang tumbuh di sepanjang pinggir sungai setelah kiriman beras terhenti. Bayangkan!

Pelan-pelan mereka mulai berniaga, menjual komoditas yang didapat di kampung ke kota, dipikul berjalan kaki selama sehari semalam. Sampai di kota membeli lagi dagangan untuk dijajakan selama perjalanan kembali ke kampung, berjalan kaki pula.

Mereka yang ulet dan tangguh kini mampu membeli gunung, punya puluhan hektar kebun. Sedangkan mereka yang kurang beruntung harus balik kampung. Bingung, dengan cara bagaimana hidup akan disambung.

Saat ini muncul lagi wacana transmigrasi sebagai solusi bagi pengungsi jika bencana berlangsung lama. Banyak saudaramu di sana. Kau gelisah.
Siangnya kau masuk kelas lalu tak habis pikir. Salah seorang murid terlambat mengikuti ulangan umum padahal rumahnya dekat saja. Konon lantaran menunggu hujan reda.

Setelah duduk, dia tidak segera menjawab soal Bahasa Indonesia di hadapannya. Soal-soal yang kebanyakan berbentuk teks panjang itu membuatnya tidak betah. Alih-alih menjawab soal, dia justru melamun. Dalam hati barangkali dia bertanya-tanya: siapa yang menciptakan pelajaran membosankan semacam ini? Menurutnya bahasa itu sederhana saja. Dia ngomong aku ngerti, aku ngomong dia ngerti. Selesai. Tak perlu ribet belajar bentuk baku, segala konjungsi, struktur teks, ciri kebahasaan, apalah itu istilahnya.

Sungguh dia adalah kid zaman now yang tidak gemar membaca.

Dia belum paham betapa bahasa Indonesia memiliki peran yang tidak kecil ketika bangsa ini berada dalam masa perjuangan pergerakan kemerdekaan. Tanpa bahasa Indonesia, orang-orang Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam suku bangsa akan menemui masalah ketika berkomunikasi. Bahasa Indonesia tak ubahnya bahasa persatuan. Makanya dalam Sumpah Pemuda dan pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia turut disebut-sebut. Dan hingga kini, Oktober diperingati sebagai Bulan Bahasa.

Hebatnya lagi, dewasa ini bahasa kita dipakai dan dipelajari di lebih dari 45 negara di dunia. Ada Rusia, Ceko, Australia, Jepang, Korea, Filipina, India, Jerman, Prancis, Inggris, Amerika, Kanada, dan lain-lain. Bahkan, di Vietnam, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua.

Oleh karena itulah, bahasa Indonesia perlu dilestarikan. Salah satu cara melestarikan adalah dengan mempelajari dan menggunakannya dengan baik dan benar. Kita harus bangga menjadi bangsa pemilik bahasa Indonesia.

Tapi sayangnya, semua argumentasi tersebut tak pernah benar-benar kau sampaikan pada murid yang memprihatinkan itu. Kau gelisah.

Sampai di kantor, kembali kau terheran-heran. Sekelompok rekan kerja mengobrol seru. Topiknya  nenek sihir. Usut punya usut, ternyata nenek sihir yang dimaksud tak lain adalah mertua perempuan mereka masing-masing.

Nenek sihir itu diam-diam, saat aku pergi kerja, suka mengambil lauk yang kumasak; Nenek sihir itu tidak mau ngempu cucunya sendiri; Nenek sihir itu selalu mendelik jika saat libur aku bangun siang; Semoga nenek sihir itu cepat mati! Begitu mereka bercerita, saking bersemangat hingga mulutnya miring-miring. Astaga! Kau bertanya-tanya, apakah benar seperti itu? Atau mereka sekadar membual agar ada obrolan seru?

Kau tertegun. Jangan-jangan istriku juga begitu, suka menjelek-jelekkan ibu, batinmu.

Sampai di rumah kau masih tidak tenang. Selama ini kau merasa istrimu memang tidak begitu akrab dengan ibumu. Meski itu tidak berarti mereka saling tidak menyukai namun tak ayal kau jadi bimbang, di sisi siapa kau akan berdiri seandainya mereka memang berseberangan?

Kau pun gelisah.

Jumat, 09 Februari 2018

SOAL ULANGAN HARIAN


SOAL ULANGAN HARIAN
                                                                Mata Pelajaran                 : Bahasa Indonesia
                                                                Bab/ Materi                       : 6/ Ulasan Karya Kita
                                                                Kelas/ Semester              : VIII/ Genap

A. PILIHAN GANDA

1.       Pernyataan yang benar mengenai teks ulasan adalah…
a.       teks yang menjelaskan hubungan peristiwa atau proses terjadinya sesuatu
b.      teks yang berisi penilaian terhadap suatu karya
c.       karangan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan mengutamakan keindahan kata-kata
d.      teks yang mendorong/membujuk khalayak agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan

2.       Nama lain dari teks ulasan adalah…
a.       sinopsis
b.      literasi
c.       resensi
d.      rekomendasi

3.       Berikut ini merupakan tujuan teks ulasan, kecuali…
a.       untuk memberi gambaran secara singkat mengenai isi suatu karya
b.      sebagai tolak ukur kualitas suatu karya
c.       memberi pertimbangan kepada khalayak sebelum memilih, membeli, atau menikmati suatu karya
d.      untuk mencari-cari kesalahan suatu karya

Simak penggalan teks berikut untuk soal nomor 4—6!
Sang Pemimpi merupakan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sama seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi juga meraih banyak penghargaan dan difilmkan. Novel tersebut menceritakan tokoh Ikal bersama dua sahabatnya, Arai dan Jimbron, berjuang menyelesaikan pendidikan SMA. Novel tersebut sangat layak dikoleksi karena ceritanya yang sangat menginspirasi.
4.       Objek yang diulas dalam penggalan teks tersebut adalah…
a.       film
b.      novel
c.       cerpen
d.      lagu
 
5.       Kelebihan objek yang diulas dalam penggalan teks tersebut adalah …
a.       merupakan novel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi
b.      menceritakan tokoh Ikal bersama dua sahabatnya, Arai dan Jimbron, berjuang menyelesaikan pendidikan SMA
c.       ceritanya sangat menginspirasi
d.      ceritanya sama seperti Laskar Pelangi

6.       Pernyataan yang tepat sesuai penggalan teks tersebut adalah…
a.       pengulas tidak menyarankan orang-orang untuk membaca novel Sang Pemimpi
b.      novel Sang Pemimpi diangkat ke layar lebar
c.       pengarang novel Sang Pemimpi adalah Arai dan Jimbron
d.      Sang Pemimpi diterbitkan sebelum Laskar Pelangi

7.       Kelebihan atau kekurangan suatu teks ulasan dapat dilihat dari, kecuali…
a.       kelengkapan struktur teks
b.      alur cerita
c.       kejelasan penyampaian
d.      penggunaan bahasa atau pilihan kata

8.       Yang bukan merupakan struktur teks ulasan adalah…
a.       analisis
b.      evaluasi
c.       orientasi
d.      argumentasi

9.       Pengertian sinopsis adalah…
a.       cerita yang mengandung pesan moral
b.      ringkasan cerita
c.       penokohan dalam cerita
d.      cerita jenaka

10.   Kutipan teks yang merupakan bagian analisis adalah…
a
Judul                        : Beth
Sutradara               : Aria Kusumadewa
Produksi                : PT Sinemata
b
Film Beth mengisahkan cinta yang tragis antara Beth atau Elizabeth (Inne Febriyanti) dengan Pesta (Bucek) sebagai dua anak manusia yang hidup dalam dua lingkungan sosial yang berbeda. Tak direstui oleh orang tua Beth yang jenderal, kehidupan asmara Beth-Pesta pun berakhir mengenaskan.
c
Bagaimana pun keadaannya, film Beth merupakan ungkapan semangat pemberontakan Aria pada sesuatu yang mapan. Dari sana Aria ingin memberi isyarat bahwa sudah waktunya kita mengkritisi idiom-idiom sesat yang kini telanjur hidup dalam masyarakat kita.
d
Beth merupakan film terbaru garapan sutradara muda Aria Kusumadewa.

11.   Hal yang tidak perlu dicantumkan dalam teks ulasan bagian identitas film adalah…
a.       judul
b.      pemain
c.       durasi
d.      bioskop

12.   Struktur teks ulasan yang berisi perkenalan atau penjelasan keberadaan karya yang diulas adalah…
a.       orientasi
b.      sinopsis
c.       analisis
d.      evaluasi

Simak penggalan teks berikut untuk soal nomor 13!
Penulis mendeskripsikan segala sesuatu dengan sempurna, membuat pembacanya terhanyut, tertawa, dan menangis sendirian. Penulis novel pula berusaha merawat kata dengan menggunakan kembali kata-kata yang hampir punah. Novel ini sangat mengesankan dan mampu menjangkau semua kalangan.
13.   Penggalan teks tersebut merupakan bagian…
a.       identitas
b.      orientasi
c.       sinopsis
d.      evaluasi

Simak kutipan teks berikut untuk soal nomor 14 dan 15!
(1) Hasan merasa bahwa semua itu terjadi karena perbuatan Anwar. (2) Ia menaruh dendam pada Anwar dan berniat membunuhnya. (3) Pada suatu malam, ia melaksanakan rencana itu. (4) Kemudian, ia mencari Anwar.
14.   Konjungsi temporal terdapat pada kalimat nomor…
a.       (1)
b.      (2)
c.       (3)
d.      (4)

15.   Konjungsi penerang terdapat pada kalimat nomor…
a.       (1)
b.      (2)
c.       (3)
d.      (4)

16.   Kalimat berikut yang tidak mengandung konjungsi kausalitas adalah…
a.       Mereka bisa menyelami karakter masing-masing walaupun tidak punya pengalaman akting sebelumnya.
b.      Film Beth tampak istimewa karena pendekatan Aria yang unik dibanding sineas lain.
c.       Rukmini disuruh kembali ke Jakarta sebab dia akan dipinang oleh seorang saudagar kaya.
d.      Beth jadi gila lantaran tak kuat menanggung derita.

Perhatikan kalimat berikut!
Pementasan itu sungguh menarik walaupun hanya diperankan oleh empat orang.
17.   Kata yang bergaris bawah dapat diganti dengan...
a.       menegangkan
b.      membosankan
c.       semarak
d.      memukau

18.   Penulisan yang tepat terdapat pada kalimat…
a.       Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan nyawa musik yang dibawa oleh band asal Malang ini.
b.      Jika kamu pecinta musik sekaligus penikmat fotografi, dialbum ini kamu bisa menikmati ke duanya sekaligus.
c.       Pada lagu kesembilan kita di bawa mendengarkan dentingan piano yang menenangkan.
d.      Album itu sangat layak untuk di koleksi tentunya.

Simak penggalan teks berikut untuk soal nomor 19!
(1) Film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody merupakan sekuel atau lanjutan dari film Filosofi Kopi. (2) Film ini tak kalah bagus dengan yang pertama. (3) Sejak dirilis pertengahan Juli 2017, film ini telah meraup hampir 300ribuan penonton. (4) Dalam film ini diceritakan dua tokoh utamanya, Ben dan Jody, memutuskan untuk berhenti menjual kopi berkeliling  dengan kombi. (5) Mereka memilih kembali membuka kedai di Jakarta. (6) Ada baiknya kalian juga menonton film yang pertama sehingga dapat lebih mengerti jalan cerita film ini.
19.   Kalimat yang mengandung saran adalah kalimat nomor…
a.       (3)
b.      (4)
c.       (5)
d.      (6)

Perhatikan langkah-langkah berikut!
1.       Membuat saran-saran untuk pembaca.
2.       Merumuskan kesimpulan tentang isi dan kesan-kesan buku itu secara keseluruhan.
3.       Menelaah kelemahan dan kelebihan isi buku.
4.       Mencatat hal-hal menarik/penting dari isi buku.
5.       Mencatat identitas buku, yang meliputi judul, penulis, nama penerbit, tahun terbit, ketebalan, dan harga buku.
20.   Urutan langkah-langkah penyusunan teks ulasan buku yang tepat adalah…
a.       5-3-1-2-4
b.      4-5-3-2-1
c.       5-4-3-2-1
d.      4-5-3-1-2

B. ESAI

1. Sebutkan objek/karya yang dapat diulas (minimal 4)!
2. Sebutkan tujuan teks ulasan (minimal 4)!
3. Sebutkan struktur teks ulasan!
4. Buatlah 1 kalimat yang mengandung:
a)      konjungsi penerang
b)      konjungsi kausalitas
c)       konjungsi temporal
d)      saran/rekomendasi
5. Sebutkan langkah-langkah penyusunan teks ulasan buku!