Jumat, 08 November 2019

NASKAH PIDATO: Menjadi Pahlawan Lingkungan bagi Bali


Yang terhormat Bapak/Ibu dewan juri; Yang saya hormati Bapak/Ibu pembina ataupun pendamping yang turut hadir di sini; Begitu pula teman-teman dan hadirin semua yang saya cintai. Om swastiastu. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dengan sehat sentosa dan hati penuh bahagia.

Sebelum saya melanjutkan pidato ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Karena seperti kata pepatah: tak kenal maka kenalanlah. Nama saya I Komang Ari Kencana. Saya adalah siswa kelas IX SMP PGRI 2 Denpasar. Pada pagi hari yang berbahagia ini saya akan menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Menjadi Pahlawan Lingkungan bagi Bali”.

Hadirin yang saya banggakan. Tujuan saya berpidato pada pagi hari ini adalah untuk mengajak dan juga untuk mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda Bali, agar bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh para pahlawan terdahulu, yang berjuang hingga mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa kita Indonesia. Saya ingin mengajak para generasi muda Bali untuk menjadi pahlawan yang berjuang menyelamatkan alam Bali.

Hadirin,
Saya akan mulai dari kata pahlawan. Apa itu pahlawan? Secara umum, pahlawan berarti orang yang berjasa bagi orang banyak, orang yang berkontribusi besar bagi orang lain. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, pahlawan dapat diartikan sebagai orang yang berjuang demi membela kedaulatan bangsa dan negaranya. Ada juga yang mengatakan pahlawan berasal dari akar kata ‘pahala’ dan mendapat akhiran ‘wan’ sehingga menjadi ‘pahalawan’ yang berarti orang yang berhak mendapat pahala karena jasa-jasanya berjuang untuk orang banyak. Bagi saya, apapun pengertiannya, seorang pahlawan pastilah berjuang karena ia cinta kepada rakyat, negeri dan tanah tumpah darahnya. Pahlawan adalah sosok yang patut kita teladani.

Para hadirin yang berbahagia,
Berbicara tentang pahlawan saya menjadi teringat akan peristiwa yang terjadi pada 20 September 1906 silam, yaitu Perang Puputan Badung. Kala itu, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama seluruh rakyat dengan teguh membela kedaulatan kerajaan, nindihin gumi lan swadharmaning negara, melawan penjajah Belanda. Meski hanya bersenjatakan tombak, keris, dan bambu runcing, mereka tidak gentar melakukan puputan alias perang habis-habisan hingga tetes darah penghabisan.

Selain I Gusti Ngurah Made Agung, kita juga punya pahlawan seorang jenderal gagah perwira bernama I Gusti Ngurah Rai. Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda tidak usah diragukan lagi. Dalam keadaan sakit pun beliau masih terus berperang bersama pasukannya yang dikenal dengan nama Pasukan Ciung Wanara. Hingga terjadi peristiwa Puputan Margarana pada 20 November 1946. Meski akhirnya gugur di medan pertempuran, nama beliau masih terus dikenang hingga kini. 

Masih banyak pahlawan Bali yang patut kita teladani dan kita tiru. Ada I Gusti Jelantik dari Karangasem, juga Dewa Agung Istri Kania yang memimpin perlawanan rakyat Klungkung melawan penjajah Belanda di Desa Kusamba.

Pertanyaannya sekarang, sebagai generasi muda Bali, bisakah kita menjadi pahlawan? Apa yang bisa kita lakukan agar bisa menjadi seperti pahlawan-pahlawan tadi? Apa yang bisa kita perbuat untuk menunjukkan bahwa kita cinta terhadap negeri ini? Jawabannya: banyak! Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bukti kita cinta negeri ini. Salah satunya adalah menjadi pahlawan lingkungan yang berjuang menyelamatkan alam Bali.

Seperti yang kita ketahui bersama, Bali saat ini tidak lagi dijajah oleh Belanda, alam Bali kini justru dijajah oleh benda mati bernama plastik. Setiap hari, di setiap kegiatan, kita selalu menggunakan benda berbahan plastik, seperti botol air kemasan, pipet, ataupun kresek. Mirisnya, benda-benda tersebut hanya dipakai sekali lalu dibuang dan menjadi sampah. Kepraktisannya membuat kita lengah. Lalu tanpa kita sadari, plastik sudah mengepung alam kita. Sungai-sungai, taman, jalan, semua dipenuhi sampah plastik.

Di balik kepraktisannya, plastik ternyata menyimpan banyak bahaya. Baru-baru ini ada kabar menyedihkan seekor ikan paus sperma tewas di perairan Wakatobi dengan 5,9 kg plastik di perutnya. Ada juga berita tentang seekor kura-kura yang tidak bisa berenang karena tubuhnya terjerat plastik. Plastik membutuhkan waktu 2000 tahun bahkan lebih untuk dapat terurai. Plastik yang lama terurai dapat mengurangi kesuburan tanah dan memperburuk kualitas air. Membuang sampah plastik tidak pada tempatnya juga dapat menyumbat saluran air sehingga menyebabkan banjir. Apakah kita akan terus membiarkan alam kita rusak karena sampah plastik? Belum lagi sampah plastik yang berserakan di jalan-jalan. Kita tentu tidak ingin Bali dikenal oleh dunia sebagai pulau yang kumuh.

Selain sampah plastik, bahaya lain yang mengintai alam Bali adalah krisis air bersih. Menurut kajian Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana, pada tahun 2025 mendatang, Bali diperkirakan akan kehabisan air tawar akibat tidak adanya air tanah dan menyebabkan air laut menembus lapisan air tanah atau sering disebut intrusi. Ketiadaan air tanah disebabkan oleh kurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya kebutuhan air karena pesatnya perkembangan pariwisata. Persoalan air bersih ini jika tidak ditangani akan menjadi bom di kemudian hari. Apa jadinya nasib petani di Bali jika tidak ada air?

Baiklah hadirin, setelah semua paparan tadi, saya ingin mengajak hadirin untuk bertindak sekarang juga. Marilah kita selamatkan alam Bali dengan menjadi pahlawan lingkungan. Jangan biarkan Bali menjadi surga yang terancam.

Untuk mengurangi timbulan sampah plastik, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan, seperti membawa tas belanja sendiri, membawa tumbler atau botol minum sendiri, gunakan kotak bekal untuk membungkus makanan, berhenti menggunakan sedotan, sendok, dan garpu plastik sekali pakai, memafaatkan kembali sampah plastik atau melakukan daur ulang.

Sementara untuk menyelamatkan air, sebagai siswa, cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah menanam pohon, tidak menebang pohon sembarang, menggunaan air dengan hemat dan efisien, serta membuat sumur resapan atau biopori di rumah. Dengan melakukan semua hal tersebut, kita sudah menjadi pahlawan karena kita sudah berjuang menyelamatkan lingkungan yang kita tempati bersama. Kita sudah berjuang melestarikan lingkungan sehingga dapat diwariskan dan dinikmati oleh anak cucu kita kelak nanti. Mulailah dari diri sendiri dulu. Setelah itu, baru tularkan ke orang di sekitar kita.

Hadirin sekalian yang saya banggakan, demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian hadirin. Terima kasih juga saya ucapkan untuk Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Denpasar atas upayanya menumbuhkan semangat kepahlawanan sekaligus menumbuhkan minat baca dengan mengadakan lomba pidato bertema kepahlawanan ini. Akhir kata, saya tutup pidato ini dengan pantun. Jika ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam peti, jika ada kata yang salah jangan disimpan di dalam hati. Klungkung-Semarapura, kirang langkung nunas geng sinampura. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Selamat pagi, salam sejahtera.

Aku Jatuh Cinta


Pada wanita pencipta sajak dan cerita;
wanita penyuka teman dan pertemuan;
wanita pemilik pipi dan senyum menawan
yang siang kemarin kujumpa
di taman berbunga

Pertemuan yang singkat namun menyita sangat
Sesal akan nama yang tiada tercatat
Tinggalkan rindu yang keras membatu

Padamu...
Duhai, bulan kedua belas

Jumat, 18 Oktober 2019

MADE MERTA DAN KISAHNYA MENABUNG


Mendengar kata 'menabung', Made Merta jadi teringat lagu lawas yang sangat populer ketika dia masih kanak-kanak dulu. Kalau dia tidak salah, begini liriknya:

"...Bing beng bang, yuk kita ke bank. Bang bing bung, yuk kita nabung. Tang ting tung, hey jangan dihitung. Tau-tau kita nanti dapat untung..."

Generasi milenial pasti tahu dong lagu itu. Ya, itu adalah lagu berjudul Menabung karya Titiek Puspa. Lagu itu diciptakan tahun 1996 dan dipopulerkan oleh penyanyi cilik saat itu: Geofanny dan Saskia. Mereka membawakannya dengan asyik dan ceria. Isinya tak lain dan tak bukan ajakan untuk menabung.

Selain teringat lagu, kata 'menabung' juga membuat Made Merta terkenang akan masa-masa dia SD dulu. Di SD-nya dulu ada  6 ruang kelas. Dinding-dindingnya memang kusam, namun sarat pesan. Di sana tertempel kertas-kertas manila penuh kata-kata bijak dan mulia, berbunyi "Mari Gemar Menabung", "Menabung Untuk Bekal Masa Depan", "Hemat Pangkal Kaya", dan sejenisnya; Menghiasi semua sisi, ditulis dengan penuh penghayatan dan penuh jiwa seni, sangat persuasi.

Kemudian saat SD juga, di akhir masa kelas VI, setelah Ebtanas, Made Merta ikut tamasya. Lokasinya di Kebun Raya Bedugul yang sejuk, nun di Tabanan sana. Sedih dia lantaran setelah ini harus berpisah dengan kawan-kawannya, melanjutkan ke SMP yang berbeda-beda, namun juga senang. Pasalnya, dia naik bus, tidak usah bayar. Tiket masuk tidak usah bayar. Makan dan minum juga tidak bayar. Rupanya segala ongkos sudah diambil dari tabungan, tak perlu lagi keluar uang. Ah, sungguh menyenangkan.

Di rumah pun, saat kecil dulu, Made Merta punya tabungan. Sisa uang saku Rp 100, Rp 500, atau Rp 1000 dia masukkan ke sebuah celengan. Celengan Made Merta terbuat dari tanah, berwarna cokelat dan gendut seperti ceret, hanya saja tidak ada moncongnya. Dia isi dengan tekun setiap hari. Sekeping demi sekeping, selembar demi selembar. Kian lama celengan Made Merta kian berisi dan berat.

“Ternyata benar kata pepatah, sedikit demi sedikit, dua-tiga pulau terlampaui!” serunya kala itu dengan penuh gairah, tak sadar dia pepatahnya salah.

Lalu pada Umanis Galungan, celengan itu dia pecahkan. Memecahkannya tidak sembarangan, tidak dengan cara dibanting hingga pecah berkeping-keping, melainkan dengan dipukul bagian bawahnya, pelan-pelan, menggunakan palu kecil. Dia pecahkan sedikit saja, membentuk lubang. Dengan begitu, celengan itu bisa dia gunakan lagi. Setelah isinya dikuras, tinggal tambal lubang tadi dengan kertas. Biasanya pakai kertas tebal bekas pembungkus Baygon bakar; Biar hemat.

Uang yang terkumpul, yang membuat kantong Made Merta melendung bak perut kucing bunting, dia gunakan untuk membeli baju baru. Belinya di Tiara Dewata, mall termegah di Denpasar kala itu. Memecahkan celengan adalah ritual spesial di hari raya yang selalu dia tunggu-tunggu. Baginya, hari raya belum berasa kalau belum beli baju baru.

Segala kenangan-kenangan itu menempel di otak Made Merta, membentuk persepsi bahwa menabung adalah sesuatu yang positif dan menyenangkan. Ketika mendengar kata 'menabung', di sanubarinya akan melintas perasaan gembira, asyik, ceria, indah, seru, untung, banyak uang. Dalam kamus Made Merta, menabung adalah menyisihkan sebagian uang untuk disimpan, yang suatu saat nanti akan digunakan untuk membeli impian. Setelah dewasa Made Merta mengerti, menabung ternyata masih bersaudara dengan kesederhanaan dan kesahajaan.

Namun demikian, meski Made Merta tahu menabung itu baik, kebiasaan menabung tidak serta-merta terbawa sampai ketika dia sudah berumah tangga. Setelah menikah dan punya anak, menabung dirasanya berubah menjadi sesuatu yang sulit. Lebih sulit daripada soal tes CPNS yang dia hadapi tempo hari di kantor BKN. Ya, menyisihkan sedikit uang dari penghasilannya yang sudah sedikit bukanlah perkara mudah. Jika kau ingin tahu, kini Made Merta tidak punya tabungan sepeser pun. Tragis memang.

Made Merta merasa kehidupan setelah berkeluarga tidak semudah masa kanak-kanak dulu. Pada masa itu kita masih bisa, orang Bali bilang, natakin lima alias meminta kepada orang tua; Biaya sekolah, tinggal minta. Ingin beli apa-apa, tinggal bilang. Kita belum mengenal kata 'tanggung jawab'. Orang tualah yang menanggung, kita hanya menjawab. Yang perlu kita lakukan hanya mengikuti perintah orang tua. Betapa menyenangkan menjadi kanak-kanak. Made Merta yakin itulah alasan mengapa lagu-lagu bertema menabung kebanyakan dinyanyikan oleh anak-anak; juga slogan-slogan ajakan menabung ditempel di sekolahan, bukan di kantoran. Mungkin maksudnya supaya kita menabung sejak kecil, sejak sebelum punya tanggung jawab keuangan.

Nah, setelah berkeluarga, semua jadi berbeda. Pengeluaran merajalela. Kebutuhan membengkak dan serba mendesak. Bayar kontrakan, bayar cicilan kendaraan, bayar arisan, bayar uang kebersihan, bayar listrik, bayar SPP, beli buku, susu, tisu, beras, gas, minyak, sayur, lauk-pauk, sabun, BBM, pulsa, kuota, dan lain sebagainya. Di ATM, uang gaji bak cairan alkohol: cepat menguap.

Terlebih Made Merta adalah orang Hindu-Bali dengan seabrek kegiatan adat dan agama, baik di keluarga, di banjar, maupun di desa. Semua kegiatan itu sudah barang tentu menimbulkan pengeluaran, seperti bayar piturunan, bayar pangepok, bayar dedosan, bikin banten setiap rahinan, menyama braya, potong babi, biaya ngaben, dan lain sebagainya. Semua jadi sulit dan rumit tatkala penghasilan sedikit. Kalau begitu ceritanya, jangankan menyisihkan sedikit uang untuk ditabung, bisa tidak berutang saja Made Merta sudah merasa tenteram.

“Sentosalah kalian yang belum menjadi orang tua,” desahnya pada suatu hari kepada murid-murid zaman now yang hedonis.

Di media online Made Merta sempat membaca sepotong artikel. Tertulis di sana, sebagian besar penabung sepakat bahwa minimum tabungan dan investasi adalah 10% dari penghasilan. Menarik, pikirnya.

Para pakar finansial punya pendapat lebih brilian. Menurut mereka, bagian penghasilan yang harus disisihkan untuk ditabung setiap bulan adalah 30%. Menurut mereka pula, kalau kita bisa menabung 30% dari penghasilan per bulan, peluang pensiun dengan tenang semakin mendekati kenyataan. Luar biasa! 

Made Merta merasa tulisan itu sangat renyah dan ringan macam kerupuk. Teori-teori dan tips-tips yang dihadirkan yahud. Ide-ide cemerlang dari para ahli keuangan itu sukses membuatnya termotivasi. Dia tercerahkan! Membacanya membuat Made Merta tiba-tiba merasa optimis dan penuh harapan. Langsung saja di kepalanya terbayang masa depan yang mapan, gilang-gemilang, jauh dari yang namanya kekurangan.

Amboi, pakar finansial sungguh merupakan profesi yang mengagumkan. Sebuah profesi cerdas yang bisa menuntun umat manusia menata masa depan yang lebih baik. Hanya orang-orang yang diberkati Tuhan dengan IQ tinggi yang bisa menjadi pakar finansial. Mereka adalah orang-orang kritis dan penuh analisa. Lulusan cumlaude fakultas ekonomi perguruan tinggi luar negeri pastinya.

Hanya saja, bayangan masa depan yang mapan dan gilang-gemilang itu dalam sekejap sirna, Made Merta menemukan satu kendala: dari mana mendapatkan 10% ataupun 30% untuk ditabung? Bukankah uang selalu habis, bahkan sudah habis sebelum dia terima? Oh, my god! Padahal hidupnya sudah sangat irit, jauh lebih irit daripada Ibu menteri keuangan republik ini. Made Merta jadi paham, berteori adalah satu hal dan bagaimana mempraktikkannya adalah hal lain.

Tetapi untunglah Made Merta punya anak sudah kelas 1 SD. Rajin betul anak lanangnya itu menabung di sekolah, padahal Made Merta tidak pernah mengajari. Mungkin di kelasnya juga ada slogan-slogan persuasif berisi ajakan untuk menabung seperti di kelas bapaknya saat SD dulu. Atau jangan-jangan dia terinspirasi lagu ‘Menabung’ karya Titiek Puspa yang dinyanyikan Saskia dan Geofanny? Entahlah. Apapun itu, Made Merta senang.

Setiap hari Made Merta memberi anaknya Rp 2000, Rp 5000, terkadang Rp 10000, untuk ditabung. Sampai buku tabungannya penuh dan harus diganti. Ketika sudah kelas 6 nanti, uang tabungan itu bisa dipotong oleh sekolahnya untuk ongkos bertamasya ria ke Bedugul, pikir Made Merta. 

Di rumah, sang anak juga punya celengan. Bukan dari tanah melainkan dari bahan kaleng, bergambar superhero. Tiap malam ketika tidur, celengan itu selalu dia peluk. Betapa Made Merta bangga dengan anaknya yang semata wayang. Diam-diam, Made Merta ingin sekali kelak dia bisa menjadi seorang pakar finansial, yang cerdas, terkenal, dan pandai berteori. Jangan seperti bapaknya yang hanya seorang guru. Sudah miskin, honorer pula!

Kamis, 21 Februari 2019

Buku Kawan Aku

Buku... kau kawan aku
tanpamu, siapalah aku
miskin wawasan, kurang ilmu
bak keledai dalam lobang termangu

Buku... kupanggil kitab pustaka
bagi ilmu indah nan memesona
bak bulir-bulir cahaya
terangi buta akan makna
Berlembar halaman tak ubahnya sayap angsa
terbangkanku jelajah semesta penuh tanya

Buku, kau sahabatku sejak aku masih mentah, ingatkah?
kucuri kau dari sekolah pemerintah
aku tak rasa bersalah
sebab pemerintah
pun sering curi uang rakyat dengan pongah

Wahai, buku... kau teman bijaksana
jika ada yang enggan berkawan
usah kecil hati
sebab mereka akan pikul sendiri
semua kebodohan di kemudian hari

Minggu, 14 Oktober 2018

Banyu Pinaruh Kita Kali Ini


Uyee...!
Pantai!
Aku menyambangimu lagi
Mungkin 30 tahun terlalui
Tanpa kulihat romantismu
Kini aku sungguh rindu
Menyibak anginmu
Meremas pasirmu
Dan ingin tahu
Apakah segala tabiatmu
masih seperti dulu?
Lesap prahara
Hanyut perkara
Siramkan lega
Pada tubuh yang lelah diperkosa
Sementara di sana...
Seorang gadis manis menggoda
Dengan tato di buah dada
Dan celana di atas paha

Pantai Karang, 14 Oktober 2018

Kamis, 30 Agustus 2018

Lempuyang

Bintang berselimut, bulan berkabut
Gerimis tipis mengiris
Dingin menghujam alam
di kaki Lempuyang
Rasa memuncak setapak demi setapak
Lelah tak berucap
Lintah menjilat tak bersahabat
Wahai primata pribumi penghuni Lempuyang,
tunjukkan jalan menuju Penciptamu!
1700 anak tangga kami langkahi
dalam hutan gelap sunyi
adakah Dia di langit ke tujuh?
Mendekatlah semua makhluk di dunia
kepadaNya pencipta alam nan mulia
lalu serukan
Nyaring suara genta dan semerbak wangi dupa iringi mantra-mantra
Menggema hingga langit ketujuh menuju nirwana

Selasa, 19 Juni 2018

Penyakit Orang Kalah

Cerpen Denpost Minggu, 20 Mei 2018

MASIH ingat Made Merta? Tokoh yang sebelumnya kuceritakan berhasil meraih cita-citanya menjadi guru?—yang pada hari pertamanya di sekolah mengalami kejadian menegangkan: bertemu dengan sesosok siswi misterius.
Kini dia masih mengajar di sana dan mulai memupuk ambisi-ambisi baru. Entah apa ambisi-ambisinya itu, yang jelas, itu membuatnya selalu bergairah menjalani hari-hari di sekolah. Ada semangat baru bertunas dalam sanubarinya.
Terlebih belakangan dia sudah dipercaya menjadi pembina, didapuk menjadi kreator juara, aih, bukan main gagah kedengarannya. Dada Made Merta selalu mengembang mendengar kata pembina. Sebutan yang membuatnya merasa menjadi seorang yang ahli, mahir, jago, master, atau dalam bahasa Inggris: expert. Padahal, bukan karena itu dia dipilih melainkan karena tidak ada orang lain yang mau repot. Made Merta tidak sadar akan hal itu. Ya, sayang sekali, Made Merta tidak tahu itu.
Seperti siang ini, ketika rekan-rekannya yang lain sudah melenggang menuju rumah masing-masing, Made Merta masih berkutat di sekolah. Kali ini dia akan membina murid yang akan berlaga dalam lomba yang sarat emosi: lomba membaca puisi. Nah! Tahu apa Made Merta tentang puisi? Dia bahkan tidak pernah membaca satu bait puisi pun seumur hidupnya.
“Agar bisa membacakan puisi dengan baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pahami puisi itu, cari tahu apa yang ingin disampaikan si pengarang dalam puisi itu,” begitulah Made Merta selalu membual pada anak didiknya.
Meskipun pengetahuannya tentang puisi amat menyedihkan dan mafhum betapa dia tidak memiliki murid yang berbakat, Made Merta tak keder. Setiap tantangan harus dijawab dengan optimis, begitu falsafah hidupnya.
Sampai akhirnya hari perlombaan tiba. Sang murid tampil membacakan puisi heroik karya Chairil Anwar yang melegenda. Made Merta mendampingi di sana, tekun menyimak lomba dari awal hingga akhir. Terkagum-kagum dia menyaksikan penampilan peserta lain yang begitu luar biasa.
Lalu pada akhir acara, saat para pemenang diumumkan, dirasakannya dadanya akan meledak. Muridnya terpilih sebagai pemenang. Juara pertama pula! Sungguh Made Merta tak menduga. Benar-benar menakjubkan! Dia melonjak, tawanya lebar, dipeluknya si murid dengan kebanggaan penuh. Pelukan yang begitu dahsyat sampai-sampai si murid kesulitan bernafas. Made Merta dihantam kegembiraan yang tak terkatakan. Hampir saja dia tidak bisa menguasai diri. Salah satu ambisinya, yaitu mencetak juara, baru saja terwujud.
Senyum Made Merta belum pudar sampai keesokkan harinya. Dia berangkat ke sekolah sambil bersiul-siul. Langkahnya ringan; Kemenangan memang selalu berasa manis. Dia sudah bersiap-siap menerima ucapan selamat dan pujian dari rekan-rekannya dan membayangkan reputasinya meroket, naik daun. Namun yang terjadi, sampai pulang sekolah, tak seorang pun menghampirinya. Jangankan memberi selamat, sekadar bertanya basa-basi pun tak ada. Made Merta merasa aneh bin ajaib.
Dua hari, tiga hari, empat hari kemudian pun sama, tak ada yang menyinggung-nyinggung perihal lomba dan juara. Seminggu kemudian, setelah tak kuasa menahan hasrat bercerita, akhirnya Made Merta mendekati seorang rekannya.
“Hai, sudah tahu? Minggu lalu murid kita dapat juara satu lomba membaca puisi,” bisik Made Merta. Rekannya yang tengah giat memeriksa ulangan menoleh datar dan bertanya, “Terus?”
“Dia baru pertama kali ikut lomba, saingannya banyak, tapi astungkara bisa bawa pulang piala. Juara satu pula. Saya yang membina,” Made Merta pamer.
Sang rekan tak berkata apa-apa. Dia sibuk saja dengan buku-buku di hadapannya. Hanya mulutnya tersungging sedikit, memperlihatkan senyum tipis, seolah-olah baru saja mendengar sesuatu yang menggelitik.
“Kenapa senyum-senyum? Nggak mau ngasi selamat, gitu?” Made Merta keheranan.
“Oh, ya, Made,” sang rekan menghentikan pekerjaannya, “selamat kalau begitu.”
“Makasi,”
“Tetapi jangan senang dulu. Saya memberi selamat bukan berarti saya mengakui kamu hebat. Saya sudah lama tidak percaya dengan lomba. Zaman sekarang, pemenang tidak selalu mereka yang tampil sempurna, mereka yang berotak encer, ataupun mereka yang kuat. Seringkali mereka yang lemah, yang penampilannya kacau, yang tidak pintar pun bisa jadi pemenang, bisa jadi juara. Jadi, menang-kalah itu biasa, jangan terlalu dibawa perasaan.”
“Saya kurang paham.”
“Jangan naif. Lomba sekarang sudah tidak murni lomba, tidak semata-mata mencari yang orang yang unggul untuk dipilih menjadi juara. Sekarang ini lomba penuh kecurangan, rekayasa, kongkalikong. Lomba sudah menjadi bagian dari bisnis, terkadang juga politik, sarat kepentingan. Lomba sekarang sudah tercemar. Apalagi lomba membaca puisi, subjektivitasnya kentara, tergantung selera, suka-sukanya juri. Acapkali yang menurut kita bagus, eh, oleh juri malah dicaci-maki, atau sebaliknya. Beda dengan main catur, misalnya, yang sudah jelas-jelas menang-kalahnya. Kalau rajanya sudah kena skak mat, ya sudah pasti kalah.”
Made Merta diam tertegun. Tampak betul dia kesulitan mencerna kata-kata rekannya itu.
“Apakah kamu memperhatikan penampilan peserta lain?”
Made Merta mengangguk.
“Menurutmu mereka jelek?”
“Tidak.”
“Ya itu. Kalau peserta lain juga tampil bagus, kenapa bukan mereka yang jadi juara? Apalagi murid yang dikirim baru pertama kali ikut lomba, belum punya jam terbang, masa langsung dapat juara satu? Menjadi juara itu tidak bisa instan, harus bertahap, mulai dari bawah dulu. Bisa jadi muridmu dimenangkan bukan karena dia lebih baik dari yang lain, tetapi karena ada agenda tertentu di baliknya.”
Mendengar ucapan yang terakhir Made Merta langsung ngeloyor tanpa kata. Mukanya merah padam. Panas hatinya. Tampak betul dia tidak terima. Dia dan murid binaannya sudah bekerja keras dan pantas menjadi juara. Masa dibilang ada kongkalikong. Sampai mengatakan juri tidak objektif. Dasar sinting! Keterlaluan. Itu adalah ocehan orang iri, yang tidak senang melihat kegemilangan orang di sebelahnya. Seharusnya kan ikut senang. Saling mendukung. Benar-benar tidak menghargai. Sangat merendahkan nilai-nilai sportivitas. Penyakit orang kalah.
Bagi Made Merta, lomba adalah sesuatu yang suci, yang tidak memiliki tujuan lain selain memilih yang terbaik dari yang terbaik dengan cara-cara yang jujur, bersih, dan tidak ditunggangi kepentingan apapun. Tak terkecuali lomba yang diikuti muridnya.
Kali berikutnya ada undangan lomba membaca puisi lagi. Made Merta sumringah sebab meskipun beda penyelenggara dan beda juri, puisi yang wajib dibawakan lagi-lagi puisi heroik karya Chairil Anwar yang melegenda. Belum apa-apa Made Merta sudah optimis bakalan juara. Bukankah dia sudah punya bibit?—Made Merta kini punya istilah baru untuk menyebut murid yang akan dikirimnya lomba.
Tak buang masa, segera dipanggil bibitnya itu dan, meskipun masih belum belajar banyak tentang puisi, dia tetap lantang berkata, “Agar bisa membacakan puisi dengan baik, hal pertama yang harus dilakukan adalah pahami puisi itu, cari tahu apa yang ingin disampaikan si pengarang dalam puisi itu.”
Melihat performa murid binaannya, Made Merta puas. Rasanya piala sudah di tangan. Tak sabar dia menunggu hari H tiba. Lomba kali ini tak ubahnya ajang pembuktian dan penegasan bahwa kemenangannya tempo hari adalah murni hasil jerih payahnya, bukan berkat pertolongan ataupun hadiah dari orang lain; Bahwa kemudian kemenangan itu layak untuk dirayakan, dibanggakan, dan diapresiasi. Dia ingin rekannya itu menelan kembali kata-kata yang dimuntahkannya dulu.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Made Merta, seperti sebelumnya, ikut mendampingi jagoannya di sana. Dia memerhatikan para peserta dan merasa damai. Rupanya sebagian besar adalah peserta yang sama dengan lomba terdahulu; Orang-orang yang pernah dipecundangi muridnya. Amboi, kemenangan sudah di depan mata!
Beberapa jam kemudian, setelah semua peserta tampil, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, momen yang mendebarkan. Dewan juri mengumumkan pemenang lomba. Mulailah nomor-nomor peserta yang menang disebutkan satu per satu diikuti riuh sorak-sorai dan tepuk tangan. Lalu, di kursi sana, Made Merta melongo, agaknya kebingungan. Di antara nomor yang disebutkan juri, tak ada nomor muridnya. Duh, kasihan Made Merta. Kali ini murid juara satunya gagal juara. Dia melempar handuk; kecewa.
“Lomba zaman sekarang payah. Juri-juri tidak becus. Masa jelek gitu jadi juara? Tidak sportif. Tidak murni. Pasti ada kongkalikong! Huh!” Made Merta menyumpah-nyumpah. Tak dinyana, rupanya Made Merta juga mengidap penyakit orang kalah.***