Kamis, 16 April 2020

SOAL PENILAIAN HARIAN BAB 8 "DRAMA-DRAMA KEHIDUPAN"

SOAL PENILAIAN HARIAN

Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia; Bab/ Materi: 8/ Drama-drama Kehidupan; Kelas/Semester: VIII/ Genap


 
1.       Pengertian drama yang tepat adalah…

a.      Cerita yang diwariskan secara turun-temurun dan masih berkembang di masyarakat hingga kini.
b.      Karya sastra yang bercerita tentang suatu kejadian yang penuh khayalan dan dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang tidak benar terjadi.
c.       Suatu karangan yang mengutamakan keindahan kata-kata.

d.      Teks yang ditulis dalam bentuk percakapan yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku yang dipentaskan.

2.       Berikut ini yang bukan merupakan ciri-ciri drama, yaitu…


a.       berupa cerita 
b.      berbentuk dialog 
c.       berbentuk bait-bait 
d.      bertujuan untuk dipentaskan



3.       Istilah-istilah yang merujuk pada pengertian drama, kecuali…


a.       sendratari 
b.      lakon 
c.       teater 
d.      orkestra



4.       Nama pertunjukkan tradisional Betawi yang dipentaskan dengan iringan Gambang Kromong adalah…


a.       Lenong
b.      Ludruk
c.       Tonil 
d.      Arja



5.       Kesenian drama tradisional Bali yang tokohnya menggunakan topeng dan umumnya bersifat lucu dengan lakon/cerita bersumber dari sejarah atau babad disebut...


a.       Pantomim
b.      Tablo 
c.       Bondres
d.      Ketoprak



6.       Yang termasuk unsur-unsur intrinsik dalam cerita drama antara lain…

a.       tema, alur, tokoh, latar, amanat
b.      tema, alur, pengarang, panggung, amanat
c.       tokoh, wawancang, kramagung, panggung
d.      sutradara, pemeran, penulis naskah, penonton

7.       Tokoh yang mengalami perubahan nasib atau watak selama pertunjukan disebut…


a.       tokoh utama 
b.      tokoh berkembang 
c.       tokoh statis 
d.      tokoh protagonis



Bacalah cuplikan drama berikut untul soal nomor 8—11!
Malin Kundang adalah seorang anak yang telah lama merantau meninggalkan tanah kelahirannya. Ia mengembara mengadu nasib demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Ia meninggalkan Mande, ibu kandungnya seorang diri di tanah kelahirannya. Singkat cerita, akhirnya Malin Kundang berhasil menikah dengan seorang putri saudagar kaya raya. Ia pun kembali ke tanah kelahirannya bersama sang putri.

Malin     : Istriku, inilah tanah kelahiranku dulu. (menunjuk ke arah daratan dari atas perahu yang bersandar)

Putri      : Sungguh indah sekali tanah kelahiran kau ini, Kanda.
 
Mande : (berlari tertatih-tatih) Malin! Kaukah itu, Nak? (berteriak-teriak girang)
 
Putri      : Siapakah wanita tua itu, Kanda?
 
Malin     : (menyembunyikan wajah terkejut) Kanda tak tahu, Dinda. Mungkin itu hanya pengemis yang ingin meminta sedikit sumbangan dari kita saja. Sudah jangan pedulikan lagi dia.
 
Mande : Malin, ini ibumu Nak. Sudah lupakah kau pada ibu yang telah mengandung dan membesarkan kau ini, Malin?
 
Malin     : Wahai, wanita tua! Jangan sekali-kali kau berani mengaku sebagai ibuku. Enyahlah kau! Ibuku bukan wanita tua renta sepertimu, dan ibuku sudah lama meninggal. Pergi kau dari sini! Jangan sampai kau mengotori kapalku ini! (berteriak emosi sambil menunjuk ke Mande)
 
Mande   : (menangis menahan kesedihan) Ya Tuhan, kenapa pula anakku berubah menjadi seperti  ini? Apa  salahku ini Tuhan? Jika memang ia bukan anakku, maka maafkanlah ia yang telah menghinaku ini. Namun jika ia benar anakku si Malin Kundang, maka hukumlah dia yang telah durhaka itu! (menengadahkan tangan)

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, langit cerah siang itu berubah gelap. Petir datang menggelegar. Badai besar tiba-tiba datang dan kapal Malin Kundang terbalik. Seketika kilat menyambar tubuh Malin dan istrinya. Anehnya, mereka berdua kemudian berubah menjadi batu. Itulah kekuatan doa seorang ibu. Jangan sampai kita menjadi anak yang durhaka kepada kedua orang tua.
8.       Drama tersebut bertema…


a.       suami yang setia
b.      ibu yang terlantar
c.       anak yang durhaka
d.      alam yang tak bersahabat



9.       Yang bukan merupakan tokoh dalam drama tersebut adalah…


a.       Malin Kundang
b.      Mande 
c.       Istri Malin Kundang
d.      Nahkoda perahu



10.   Latar tempat dan latar waktu cerita dalam tersebut adalah…


a.       di pantai;  pada malam hari 
b.      di perkampungan; pada siang hari 
c.       di rumah Mande; malam hari
d.      di pantai; pada siang hari



11.   Amanat yang terkandung dalam drama tersebut yaitu…

a.       Janganlah durhaka kepada istri kita 
b.      Carilah suami yang setia 
c.       Merantaulah untuk mendapat kehidupan yang lebih baik 
d.      Janganlah durhaka kepada orang tua kita


Bacalah drama berikut untuk soal nomor 12—15!
Rena                      : Eh, kalian udah belajar buat ulangan besok?

Roy                        : Belum.
 
Zainal                    : Ah, besok ulangan? (kaget)
 
Rena                      : Iya. Kalau nilai ulangannnya jelek bisa dihukum tahu.
 
Zainal                    : Paling-paling hukumannya lari keliling lapangan bola 10 kali doang.
 
Rena                      : Bukan! Kali ini hukumannya serem, harus ikut pelajaran tambahan setiap pulang sekolah. Kamu sudah belajar, Rin? (Melirik ke arah Ririn)
 
Ririn                       : Sudah dong. Ririn gitu lho. (sambil menunjuk-nunjuk bangga ke dirinya sendiri)

Singkat cerita, mereka bertaruh. Siapa yang nilai ujiannya paling besar, akan jadi pemenang dan bisa memerintah mereka yang kalah. Ririn berusaha keras untuk belajar sedangkan Roy berjuang keras untuk membuat contekan di kertas kecil. Hari ulangan pun tiba.

Pak Asep             : Baik anak-anak, silakan buka lembar soalnya sekarang!

Ririn                       : (berdoa)
 
Roy                        : Soal ini kan gampang sekali. Kalau gini kan gak akan ketahuan. (Sambil membuka kertas contekan)
 
Pak Asep             : Bapak keluar dulu, ingat jangan mencontek atau bertanya pada teman. Dan satu lagi, jangan ribut. (keluar kelas)
 
Roy                        : Rencana dimulai! (menyilangkan kaki dan melihat kertas contekan di atas sepatunya) Ah, bukan yang ini. (bingung) Ah, yang ini nih! (sambil mengeluarkan kertas contekan dari dasi). Selesai! (sambil merebahkan diri di kursi, tersenyum puas sambil melirik teman-teman lain yang belum selesai mengerjakan)

Akhirnya ulangan selesai. Keesokan harinya, Pak Asep membagikan kertas hasil ujian kepada semua siswa.

Pak Asep             : Ini hasil ujian kalian. (sambil membagikan kertas)

Ririn                       : Hore! Nilaiku 85! (tersenyum puas)
 
Zainal                    : Hahahaha, aku dapat 65. Lumayan, ujian terdahulu cuma 60.
 
Roy                        : Lah Pak, kok nilai ujian saya cuma 50? 
 
Pak Asep             : Sebab soal nomor 11—20 di balik kertas tidak kamu isi.
 
Roy                        : Apa? Masih ada soal lagi?
 
Ririn                       : Hahahaha, kamu kalah Roy! Dengan ini saya perintahkan kamu gak nyontek lagi waktu ujian! (sambil menunjuk-nunjuk Roy dengan tertawa lepas)
 
Pak Asep             : Apa? Jadi kamu kemarin mencontek? Oke, kalau begitu nilai kamu saya kurangi  5 poin lagi!
 
Roy                        : Aduh, apes benar aku ini! (mengacak-acak rambut)

12.   Tokoh antagonis dalam drama tersebut adalah…


a.       Pak Asep
b.      Rena 
c.       Ririn 
d.      Roy



13.   Siapakah yang mendapat nilai ulangan tertinggi dalam cerita drama tersebut?


a.       Rena
b.      Roy 
c.       Ririn 
d.      Zainal



14.   Watak Pak Asep dalam drama tersebut adalah…


a.       malas
b.      tegas 
c.       pendiam 
d.      sombong



15.   Epilog yang tepat untuk melengkapi drama tersebut adalah…

a.       Sejak saat itu Roy menyimpan dendam pada Ririn karena telah memberi tahu Pak Asep tentang kebiasaannya menyontek saat ulangan.
b.      Akhirnya Roy menyadari kesalahannya dan berjuang keras untuk belajar. Dia tidak pernah menyontek lagi saat ujian.
c.       Di sebuah kelas, ada 4 siswa yang sedang bercanda ria. Namun suasana seketika berubah tatkala mereka mendapatkan kabar bahwa besok akan ujian.
d.      Roy, Zainal, dan Ririn sedang asyik ngobrol di kantin pada jam istirahat ketika Rena datang membawa kabar bahwa esok hari akan diadakan ulangan.


Bacalah penggalan drama berikut untuk soal nomor 16 & 17!
Suatu pagi, Pak Guru mengabsen murid-muridnya sebelum memulai pelajaran.

Pak Guru             : Bayu ada? (sambil membawa buku absensi)

Ketua Kelas        :Tidak masuk, Pak. Izin, ada upacara agama.

Pak Guru             : Dinda?

Ketua Kelas        : Dispensasi, Pak. Ikut Porjar jadi atlit renang.

Pak Guru            : Baik, tidak ada yang bolos, ya. Kalau ketahuan bolos, akan Bapak berikan sanksi.
16.   Kata tidak baku yang terdapat dalam drama tersebut adalah…


a.       izin 
b.      dispensasi
c.       atlit 
d.      sanksi



17.   Kramagung atau petunjuk perilaku dalam drama tersebut yaitu…

a.       Suatu pagi, Pak Guru mengabsen murid-muridnya sebelum memulai pelajaran. 
b.      (sambil membawa buku absensi) 
c.       Pak Guru dan Ketua Kelas 
d.      Kalau ketahuan bolos, akan Bapak berikan sanksi.


18.   Bagian pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam sebuah drama atau sandiwara disebut…

a.       monolog
b.      dialog
c.       prolog
d.      epilog

Bacalah cuplikan drama berikut untuk soal nomor 19!
Ratna                      : Pak, ketika ulangan minggu lalu saya, Emi, dan Candra tidak masuk. Kapan (1) saya, Emi, dan Candra bisa menyusul ulangan?

Pak Guru                 : (2) Ratna, Emi, dan Candra menyusul ulangan besok, ya.

Ratna, Emi, Candra : Baik, Pak. (bersamaan)
19.   Bagian yang bergaris bawah pada drama tersebut dapat diganti dengan…


a.       (1) mereka; (2) mereka 
b.      (1) kami; (2) kamu 
c.       (1) kita; (2) kamu
d.      (1) kami; (2) kalian



20.   Bagian alur yang ditandai dengan munculnya masalah ataupun pertikaian antartokoh drama disebut…


a.       orientasi 
b.      komplikasi 
c.       resolusi 
d.      narasi



Bacalah penggalan dialog berikut!
Rani       : Kamu sudah tahu harganya?
Yuni       : Belum.
Rani       : Coba lihat ini. (menyodorkan selembar kertas berisi daftar harga)
Yuni       : (kaget) […], mahal sekali harganya! Aku pikir tidak semahal itu.
21.   Kata seru yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang adalah…


a.       wah
b.      astaga
c.       amboi
d.      oh



22.   Berikut ini yang merupakan kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban (retoris) adalah…

a.       Oh Tuhan, apa salah hamba sehingga harus mendapat cobaan seberat ini? 
b.      Apa yang dimaksud dengan penokohan? 
c.       Kamu sudah belajar? 
d.      Siapa yang menaruh buku ini di atas meja?

23.   Berikut ini kalimat tanya yang mengandung sindiran, yaitu…

a.       PR ini sulit, maukah kakak membantuku?
b.      Daripada sendiri, bagaimana kalau kamu ikut dengan kami?
c.       Mau aku bantu?
d.      Tulisan jelek ini punyamu ya?

Bacalah kutipan drama berikut!
Masut                   : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.

Guru                      : Masut, Masut! Kamu harus tahu, meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus dibagikan kepada orang lain. (Istri Masut masuk ke ruang tamu membawa teh hangat

Istri Masut          : Lebih enak kalau ngobrolnya sambil minum teh hangat. (menyodorkan cangkir)

Guru                      : Wah, ini nih yang saya tunggu-tunggu. (tersenyum)
24.   Suasana yang tergambar dalam drama tersebut adalah…


a.       santai 
b.      sedih 
c.       tegang 
d.      bosan



Bacalah penggalan teks berikut!
Suatu ketika, terdapat sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang bijaksana. Raja Henry namanya. Ia memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda pengembara. Ia menemui sang pangeran yang sedang gundah gulana melamun di taman istana.
25.   Kata sifat yang terdapat pada penggalan teks tersebut adalah…


a.       kerajaan 
b.      bijaksana
c.       melamun
d.      pengembara



Bacalah cuplikan drama berikut!
Surya     : Raka, sudah buat tugas Bahasa Indonesia?
Raka      : Belum. Sepertinya aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. (sedih)
Surya     : […]
Raka      : Wah, ide bagus. Bagaimana kalau nanti siang?
Surya     : Ok. (mengacungkan jempol)

26.   Dialog yang tepat untuk melengkapi bagian yang rumpang pada teks drama tersebut adalah…

a.       Minta tolong kakakku yang mengerjakan, yuk! Dia kan pintar.
b.      Aku juga belum. Bagaimana jika kita kerjakan bersama? Pasti jadi lebih mudah. 
c.       Aku juga belum. Tugasnya susah. Bagaimana jika tidak usah dikerjakan? 
d.      Jadi anak itu mesti rajin. Aku saja sudah selesai.
 
Bacalah cuplikan teks berikut untuk soal nomor 27 dan 28!
Genta melihat Zafran membuang bungkus makanan sembarangan lalu menegurnya. “Zafran, buang sampah pada tempatnya dong. Kalau lingkungan kita kotor kan nggak enak dipandang mata,” tegurnya. “Iya, deh maaf,” ucap Zafran sembari memungut sampah yang dibuangnya barusan.
27.   Dialog pada teks tersebut jika diubah menjadi dialog naskah drama penulisannya yang tepat yaitu…

a.       Genta   : Zafran, buang sampah pada tempatnya dong. Kalau lingkungan kita kotor kan nggak enak dipandang mata. (memungut sampah yang dibuangnya barusan)
       Zafran   : Iya, deh maaf.
b.      Zafran   : Genta, buang sampah pada tempatnya dong. Kalau lingkungan kita kotor kan nggak enak dipandang mata.
       Genta   : Iya, deh maaf. (memungut sampah yang dibuangnya barusan)
c.       Genta   : Zafran, buang sampah pada tempatnya dong. Kalau lingkungan kita kotor kan nggak enak dipandang mata.
       Zafran   : Iya, deh maaf. (memungut sampah yang dibuangnya barusan)
d.      Genta   : Zafran, buang sampah pada tempatnya dong. Kalau lingkungan kita kotor kan nggak enak dipandang mata.
       Zafran   : Iya, deh maaf. Aku akan memungut sampah yang aku buang barusan.

28.   Watak Genta dalam cerita tersebut adalah…


a.       peduli kebersihan lingkungan 
b.      setia kawan
c.       suka ikut campur 
d.      ringan tangan



29.   Proses memilih pemain yang cocok untuk memerankan tokoh dalam drama diistilahkan dengan…


a.       reading
b.      casting 
c.       blocking 
d.      running



30.   Mengatur teknis pentas, misalnya dari mana seorang pemain harus muncul dan di mana harus berdiri ketika dialog dimainkan agar tidak menghalangi pemain lain diistilahkan dengan…


a.       reading 
b.      casting 
c.       blocking 
d.      running




Kamis, 14 November 2019

Pahlawan Tak Dikenal

Karya Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda

Jumat, 08 November 2019

NASKAH PIDATO: Generasi Milenial, Generasi Anti-Korupsi


Yang terhormat Bapak/Ibu dewan juri; Yang saya hormati Bapak/Ibu pembina ataupun pendamping yang turut hadir di sini; Begitu pula teman-teman dan hadirin semua yang saya cintai. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dengan sehat sentosa dan hati penuh bahagia.
Sebelum saya melanjutkan pidato ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Erika Enzelia Novitasari. Saya siswa kelas IX SMP PGRI 2 Denpasar. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Generasi Milenial, Generasi Anti-Korupsi”.
Tujuan saya berpidato pada pagi hari ini adalah untuk menyuarakan dan juga untuk mengimbau generasi muda penerus bangsa untuk menjadi generasi anti-korupsi. Seperti yang kita ketahui bersama korupsi adalah pelanggaran hak-hak azasi, hak-hak sosial, dan hak-hak ekonomi yang berdampak sangat buruk yang merugikan negara kita tercinta, Indonesia. Maka dari itu, korupsi tidak bisa dikatakan sebagai kejahatan biasa, melainkan kejahatan luar biasa. Mengapa? Karena dampak dari korupsi bukan hanya menghambat pembangunan negara, tetapi juga merusak bibit-bibit generasi muda penerus bangsa.
Negara kita Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, kaya akan seni dan budaya, kaya akan segala aspek, tetapi mengapa masih banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya? Mengapa masih banyak anak-anak yang mati kelaparan? Apa yang salah dengan bangsa kita ini? Masih banyak rakyat yang tidur beratapkan langit beralaskan tanah tidak memiliki tempat tinggal. Masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mengapa? Karena hak-hak mereka diambil oleh orang-orang serakah yang hanya berpikir bagaimana memperkaya diri mereka sendiri dan kelompoknya.
Para hadirin yang berbahagia,
Coba bayangkan, betapa ironisnya negara kita Indonesia yang merupakan negara berdasarkan Pancasila justru menjadi negara yang digolongkan sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Indonesia Corruption Watch menilai hingga tahun 2018, angka kasus korupsi di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Bahkan, menunjukkan tren meningkat dari tahun-tahun sebelumnya baik dari jumlah kasus maupun jumlah kerugian yang ditimbulkan. Padahal, di Indonesia telah dibuat Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 sebagai perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 yang menyatakan bahwa tindak pidana korupsi yang selama ini terjadi, tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa.
 Kita generasi milenial, pada tahun 2045 mendatang, tepat 100 tahun bangsa ini merayakan kemerdekaan kitalah generasi yang akan menentukan wajah Indonesia. Bagaimana cara kita menghentikan praktik korupsi di negeri ini? Korupsi harus diberantas dengan cara meningkatkan iman dan ketaqwaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta menciptakan sumber daya manusia yang bermoral dan bermartabat. Because the duty of youth is to challenge corruption with brave, honest, and powerful—Karena tugas kita sebagai generasi muda adalah menentang korupsi dengan berani, jujur, dan hebat. Maka dari itu, saya sebagai perwakilan generasi muda penerus bangsa, mengimbau seluruh generasi muda untuk mengatakan TIDAK pada korupsi. Kita sebagai generasi muda harus menghentikan paradigma “maju tak gentar membela yang bayar”.
Hadirin sekalian yang saya banggakan, demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian hadirin. Terima kasih juga saya ucapkan untuk Kejaksaan Negeri Kota Denpasar serta Disdikpora Kota Denpasar atas upayanya memberantas korupsi dengan mengadakan lomba pidato bertema Anti-Korupsi ini. Jika ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam peti, jika ada kata yang salah jangan disimpan di dalam hati. Klungkung-Semarapura, kirang langkung nunas geng sinampura. Selamat pagi, salam sejahtera.

NASKAH PIDATO: Memberantas Korupsi Melalui Lomba Pidato Anti-Korupsi


Yang terhormat Bapak/Ibu dewan juri; Yang saya hormati Bapak/Ibu pembina ataupun pendamping yang turut hadir di sini; Begitu pula teman-teman dan hadirin semua yang saya cintai. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dengan sehat sentosa dan hati penuh bahagia.
Perkenalkan, nama saya I Komang Juniantara Dalta Wiguna. Saya adalah siswa kelas IX SMP PGRI 2 Denpasar. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan sebuah pidato dengan judul “Memberantas Korupsi Melalui Lomba Pidato Anti-Korupsi”.
Kalau boleh jujur, sesungguhnya saya tidak ingin tampil di sini membawakan pidato. Saya terbilang anak yang nakal di sekolah. Saya sering bolos, suka tidur di kelas, dan yang paling parah: sering korupsi uang SPP! Sekarang saya malah disuruh ikut lomba pidato bertema anti-korupsi. Anak yang suka korupsi ikut lomba pidato bertema anti-korupsi, itu sama saja dengan menjilat ludah sendiri. Saya heran kenapa saya yang dipilih untuk ikut lomba ini.
Jujur saya akui, saya sering korupsi. Saya suka korupsi karena terinspirasi banyaknya anggota DPR yang korupsi. DPR korupsi, saya juga korupsi. Bedanya, DPR korupsi milyaran, saya korupsi sepuluh ribuan. DPR ketahuan korupsi: dipenjara, tapi dapat fasilitas lengkap. Saya ketahuan korupsi: dipecut pakai ikat pinggang, sampai babak belur. Di sana saya merasa tidak adil. DPR korupsi milyaran, hukumannya seharusnya lebih dari itu. Jika suatu saat saya jadi presiden lalu ada anggota DPR yang ketahuan korupsi, saya akan beri hukuman yang sama: dipecut pakai ikat pinggang, tapi… dipecutnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Biar mereka tahu rasa. Biar sekujur badannya babak belur juga.
Tapi kalau itu benar-benar terjadi, anggota DPR yang korupsi itu dipecut oleh seluruh rakyat Indonesia, ada satu orang yang tidak ikut, yaitu saya, sebab saya tidak punya ikat pinggang. Jadi Bapak/Ibu juri, mohon kasih saya nilai bagus supaya menang. Nanti dapat hadiah uang, saya akan pakai untuk membeli ikat pinggang.

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Setelah lomba pidato ini, saya memutuskan tidak bercita-cita menjadi koruptor lagi. Saya tidak akan korupsi uang SPP lagi. Untuk menyusun naskah pidato ini, saya membaca-baca banyak artikel tentang dampak korupsi. Di sana saya baru sadar ternyata korupsi itu adalah tindakan yang sangat busuk. Karena korupsi, jutaan anak-anak tidak bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Karena korupsi, jutaan rakyat tidak mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Banyak daerah-daerah yang masih tertinggal lantaran dana pembangunan infrastrukturnya juga dikorupsi. Bayangkan, di zaman kemerdekaan sekarang, masih ada desa-desa yang tak tersentuh listrik dan kesulitan air bersih sementara para pejabatnya tidur nyenyak di rumah mewah dengan makanan dan minuman berlimpah.
Sedihnya, di negeri kita Indonesia, korupsi tumbuh subur di semua sektor, baik di pemerintahan, swasta, maupun ranah hukum. Bahkan, hakim pun jadi koruptor. Situasi ini seperti dalam sajak WS Rendra: “Kalau ada sumur di ladang, jangan diintip orang yang mandi, koruptor akalnya panjang, jaksa dan hakim diajak kompromi.” Parah!
Dan tidak hanya di Indonesia, Indeks Persepsi Korupsi menyatakan bahwa lebih dari 68 persen negara di dunia ternyata memiliki masalah korupsi serius. Menyadari hal itu, melalui Resolusi 58/4 tanggal 31 Oktober 2003, PBB menetapkan 9 Desember sebagai Hari Anti-Korupsi Internasional untuk mengingatkan masyarakat dunia bahwa yang namanya korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya.
Baiklah hadirin semua, terakhir saya ingin menyampaikan, melalui peringatan Hari Korupsi Sedunia besok, marilah kita bahu-membahu membasmi korupsi. Caranya adalah antara lain dengan selalu mengedepankan kejujuran, membangun pendidikan anti-korupsi, membangun pendidikan moral sejak dini, melakukan sosialisasi tentang korupsi dan dampak yang ditimbulkan, juga dengan mengajak orang-orang yang suka korupsi untuk ikut lomba pidato bertema “Anti-Korupsi” seperti sekarang ini. Saya yang dulunya suka korupsi jadi sadar dan tidak akan korupsi uang SPP lagi. Sekarang saya tahu, untuk alasan itulah saya dipilih untuk ikut lomba pidato ini.
Hadirin yang saya banggakan, sekian pidato singkat dari saya. Terima kasih atas perhatiannya. Terima kasih juga saya ucapkan untuk Kejaksaan Negeri Kota Denpasar serta Disdikpora Kota Denpasar atas upayanya memberantas korupsi dengan mengadakan lomba ini. Selamat Hari Anti-Korupsi Sedunia!

NASKAH PIDATO: Menjadi Pahlawan Lingkungan bagi Bali


Yang terhormat Bapak/Ibu dewan juri; Yang saya hormati Bapak/Ibu pembina ataupun pendamping yang turut hadir di sini; Begitu pula teman-teman dan hadirin semua yang saya cintai. Om swastiastu. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puja dan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kita dapat berkumpul di tempat ini dengan sehat sentosa dan hati penuh bahagia.

Sebelum saya melanjutkan pidato ini, izinkan saya memperkenalkan diri. Karena seperti kata pepatah: tak kenal maka kenalanlah. Nama saya I Komang Ari Kencana. Saya adalah siswa kelas IX SMP PGRI 2 Denpasar. Pada pagi hari yang berbahagia ini saya akan menyampaikan sebuah pidato yang berjudul “Menjadi Pahlawan Lingkungan bagi Bali”.

Hadirin yang saya banggakan. Tujuan saya berpidato pada pagi hari ini adalah untuk mengajak dan juga untuk mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda Bali, agar bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh para pahlawan terdahulu, yang berjuang hingga mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa kita Indonesia. Saya ingin mengajak para generasi muda Bali untuk menjadi pahlawan yang berjuang menyelamatkan alam Bali.

Hadirin,
Saya akan mulai dari kata pahlawan. Apa itu pahlawan? Secara umum, pahlawan berarti orang yang berjasa bagi orang banyak, orang yang berkontribusi besar bagi orang lain. Dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, pahlawan dapat diartikan sebagai orang yang berjuang demi membela kedaulatan bangsa dan negaranya. Ada juga yang mengatakan pahlawan berasal dari akar kata ‘pahala’ dan mendapat akhiran ‘wan’ sehingga menjadi ‘pahalawan’ yang berarti orang yang berhak mendapat pahala karena jasa-jasanya berjuang untuk orang banyak. Bagi saya, apapun pengertiannya, seorang pahlawan pastilah berjuang karena ia cinta kepada rakyat, negeri dan tanah tumpah darahnya. Pahlawan adalah sosok yang patut kita teladani.

Para hadirin yang berbahagia,
Berbicara tentang pahlawan saya menjadi teringat akan peristiwa yang terjadi pada 20 September 1906 silam, yaitu Perang Puputan Badung. Kala itu, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama seluruh rakyat dengan teguh membela kedaulatan kerajaan, nindihin gumi lan swadharmaning negara, melawan penjajah Belanda. Meski hanya bersenjatakan tombak, keris, dan bambu runcing, mereka tidak gentar melakukan puputan alias perang habis-habisan hingga tetes darah penghabisan.

Selain I Gusti Ngurah Made Agung, kita juga punya pahlawan seorang jenderal gagah perwira bernama I Gusti Ngurah Rai. Perjuangan beliau melawan penjajah Belanda tidak usah diragukan lagi. Dalam keadaan sakit pun beliau masih terus berperang bersama pasukannya yang dikenal dengan nama Pasukan Ciung Wanara. Hingga terjadi peristiwa Puputan Margarana pada 20 November 1946. Meski akhirnya gugur di medan pertempuran, nama beliau masih terus dikenang hingga kini. 

Masih banyak pahlawan Bali yang patut kita teladani dan kita tiru. Ada I Gusti Jelantik dari Karangasem, juga Dewa Agung Istri Kania yang memimpin perlawanan rakyat Klungkung melawan penjajah Belanda di Desa Kusamba.

Pertanyaannya sekarang, sebagai generasi muda Bali, bisakah kita menjadi pahlawan? Apa yang bisa kita lakukan agar bisa menjadi seperti pahlawan-pahlawan tadi? Apa yang bisa kita perbuat untuk menunjukkan bahwa kita cinta terhadap negeri ini? Jawabannya: banyak! Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bukti kita cinta negeri ini. Salah satunya adalah menjadi pahlawan lingkungan yang berjuang menyelamatkan alam Bali.

Seperti yang kita ketahui bersama, Bali saat ini tidak lagi dijajah oleh Belanda, alam Bali kini justru dijajah oleh benda mati bernama plastik. Setiap hari, di setiap kegiatan, kita selalu menggunakan benda berbahan plastik, seperti botol air kemasan, pipet, ataupun kresek. Mirisnya, benda-benda tersebut hanya dipakai sekali lalu dibuang dan menjadi sampah. Kepraktisannya membuat kita lengah. Lalu tanpa kita sadari, plastik sudah mengepung alam kita. Sungai-sungai, taman, jalan, semua dipenuhi sampah plastik.

Di balik kepraktisannya, plastik ternyata menyimpan banyak bahaya. Baru-baru ini ada kabar menyedihkan seekor ikan paus sperma tewas di perairan Wakatobi dengan 5,9 kg plastik di perutnya. Ada juga berita tentang seekor kura-kura yang tidak bisa berenang karena tubuhnya terjerat plastik. Plastik membutuhkan waktu 2000 tahun bahkan lebih untuk dapat terurai. Plastik yang lama terurai dapat mengurangi kesuburan tanah dan memperburuk kualitas air. Membuang sampah plastik tidak pada tempatnya juga dapat menyumbat saluran air sehingga menyebabkan banjir. Apakah kita akan terus membiarkan alam kita rusak karena sampah plastik? Belum lagi sampah plastik yang berserakan di jalan-jalan. Kita tentu tidak ingin Bali dikenal oleh dunia sebagai pulau yang kumuh.

Selain sampah plastik, bahaya lain yang mengintai alam Bali adalah krisis air bersih. Menurut kajian Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Udayana, pada tahun 2025 mendatang, Bali diperkirakan akan kehabisan air tawar akibat tidak adanya air tanah dan menyebabkan air laut menembus lapisan air tanah atau sering disebut intrusi. Ketiadaan air tanah disebabkan oleh kurangnya ruang terbuka hijau dan meningkatnya kebutuhan air karena pesatnya perkembangan pariwisata. Persoalan air bersih ini jika tidak ditangani akan menjadi bom di kemudian hari. Apa jadinya nasib petani di Bali jika tidak ada air?

Baiklah hadirin, setelah semua paparan tadi, saya ingin mengajak hadirin untuk bertindak sekarang juga. Marilah kita selamatkan alam Bali dengan menjadi pahlawan lingkungan. Jangan biarkan Bali menjadi surga yang terancam.

Untuk mengurangi timbulan sampah plastik, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan, seperti membawa tas belanja sendiri, membawa tumbler atau botol minum sendiri, gunakan kotak bekal untuk membungkus makanan, berhenti menggunakan sedotan, sendok, dan garpu plastik sekali pakai, memafaatkan kembali sampah plastik atau melakukan daur ulang.

Sementara untuk menyelamatkan air, sebagai siswa, cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah menanam pohon, tidak menebang pohon sembarang, menggunaan air dengan hemat dan efisien, serta membuat sumur resapan atau biopori di rumah. Dengan melakukan semua hal tersebut, kita sudah menjadi pahlawan karena kita sudah berjuang menyelamatkan lingkungan yang kita tempati bersama. Kita sudah berjuang melestarikan lingkungan sehingga dapat diwariskan dan dinikmati oleh anak cucu kita kelak nanti. Mulailah dari diri sendiri dulu. Setelah itu, baru tularkan ke orang di sekitar kita.

Hadirin sekalian yang saya banggakan, demikianlah pidato yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian hadirin. Terima kasih juga saya ucapkan untuk Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Denpasar atas upayanya menumbuhkan semangat kepahlawanan sekaligus menumbuhkan minat baca dengan mengadakan lomba pidato bertema kepahlawanan ini. Akhir kata, saya tutup pidato ini dengan pantun. Jika ada jarum yang patah, jangan disimpan di dalam peti, jika ada kata yang salah jangan disimpan di dalam hati. Klungkung-Semarapura, kirang langkung nunas geng sinampura. Om Shanti, Shanti, Shanti, Om. Selamat pagi, salam sejahtera.

Aku Jatuh Cinta


Pada wanita pencipta sajak dan cerita;
wanita penyuka teman dan pertemuan;
wanita pemilik pipi dan senyum menawan
yang siang kemarin kujumpa
di taman berbunga

Pertemuan yang singkat namun menyita sangat
Sesal akan nama yang tiada tercatat
Tinggalkan rindu yang keras membatu

Padamu...
Duhai, bulan kedua belas