Minggu, 03 Juli 2016

Lepas Malam (cerpen)

SORE membeku. Aku duduk sendiri, kuyu menghadapi secangkir kopi instan. Asap rokok meliak-liuk pelan, berpendar ke segala arah diterpa angin lesu. Jarum jam di dinding ikut-ikutan berdetak lunglai, hilang semangat. Sudah pukul 4. Itu berarti tujuh jam sudah aku berhibernasi—pembalasan setelah melakoni kerja malam yang menggelisahkan, yang membuat mata hanya sanggup berpijar setengah watt. Namun begitu, rasanya belum setimpal. Serpihan-serpihan kantuk masih terasa memerihkan mata.
Di sebelah sana, tetangga kosku sibuk menyampir-nyampirkan dagangan pada keranjang yang telah diikatkan pada sepeda motor. Rokok tak lepas dari mulutnya. Dia berdagang nasi bungkus dan berupa-rupa temannya. Sebentar lagi dia akan berangkat. Terlalu bersemangat dia sampai tak memedulikan anaknya yang sejak tadi bermain tanah kini sudah penuh berlumuran debu, mirip kue moci. Aku duduk malas saja. Berusaha mengumpul-ngumpulkan nyawa yang tercerai-berai entah kemana.
Sebenarnya apa yang tengah aku lakukan adalah berpikir. Aku berusaha menilai situasiku saat ini. Aku merasa, beberapa minggu belakangan, pekerjaan tak lagi menyenangkan, tak ubahnya beban. Padahal sebelumnya aku menikmatinya. Namun, kini, aku tidak bisa lagi mengembannya sepenuh hati. Apalagi jika mendapat giliran shift malam. Kaki seumpama terikat pada barbel seberat 200 kilogram, susah nian dilangkahkan. Sikap-sikap pekerja yang disukai para atasan: loyal, militan, berinisiatif, penuh ide-ide kreatif, tak lagi bersemayam dalam diriku. Aku menggeledah setiap sudut otak, mencari-cari apa gerangan yang tengah merasukinya. Usut punya usut, aku berhasil menemukannya, rupanya seekor hantu kecil. Ia bernama bosan.
Di dunia ini, Tuhan menciptakan semua hal berpasangan. Tua-muda, menulis-membaca, fiksi-ilmiah, jadian-putus, lulus UN-tak lulus UN—tapi demi citra lembaga dan sedikit kongkalikong, tenang saja, pasti lulus—koruptor-KPK, bersemangat-bosan. Dulu semangatku menyala-nyala bak obor olimpiade. Jangankan yang disuruh, yang tak disuruh pun aku kerjakan. Jangan heran bila waktu itu aku dinobatkan sebagai karyawan teladan—bonusnya sebilah handphone dan tabungan. Aku dielu-elukan banyak orang. Kini, semua berbalik 180 derajat. Tingkahku tak lagi terpuji. Jangankan yang tak diperintah, yang diperintahkan pun aku masih pikir-pikir melaksanakan. Hampir setiap hari absenku merah. Jika owner merengkingkan prestasi kami, karyawannya yang berjumlah tak kurang dari 500 jiwa, barangkali akulah yang bertahta di urutan paling ekor.
Wajar rasanya aku dihinggapi bosan. Jika dihitung-hitung, sudah berganti 12 kalender aku bekerja di perusahaan. Dari tamat SMA sampai sekarang usia kepala tiga. Dari dulunya bujang hingga sekarang punya anak seorang, empat tahun umurnya. Kalau aku presiden, aku sudah menjabat dua periode dan dilarang keras mencalonkan diri lagi. Dengan durasi kerja selama itu, aku cukup percaya diri mengatakan tidak ada lagi tantangan dalam pekerjaan.
Meski sudah mengabdi selama itu pangkatku di perusahaan tetap, seperti matahari yang senantiasa terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat, tidak berubah. Tidak ada promosi, tidak pula degradasi. Jenjang karir tidak diciptakan untukku. Lebih merana lagi, statusku masih karyawan kontrak. Perkara gaji, tidak perlulah kubahas di sini, terlalu miris. Sama mirisnya dengan ketika menyaksikan berita kekerasan seksual yang lagi tren di republik ini. Berkutat dengan hal yang sama, berulang-ulang, saban hari, selama 12 tahun, diperparah dengan bayaran yang tak kunjung membaik, adakah di semesta ini yang masih meragukan kebosananku?
Rokok yang menyala sejak tadi menggodaku. Kuberikan hisapan terakhir sebelum tandas. Semakin dalam aku menghisap, semakin jauh aku berkontemplasi.
Sesungguhnya, hal yang membangkitkan kebosananku dalam bekerja tidak melulu soal karir yang stagnan ataupun gaji yang segitu-gitu saja. Perkara yang paling pokok adalah sistem yang selalu bermasalah dan tak kunjung mendapat solusi sehingga tak jarang menempatkanku dalam posisi dilematis. Kemudian, seiring dengan pendidikan terakhirku yang meningkat satu setrip, kini aku memiliki mentalitas baru dalam menjalani kehidupan, dan pekerjaan tentunya. Mentalitas itu membuatku punya cara pandang baru dalam menghargai diri sendiri, juga membuatku berani memelihara idealisme. Sayangnya, idealisme yang aku pupuk tidak sehaluan dengan pekerjaan.
Tak hanya sampai di situ. Kebosanan, hantu kecil itu, ternyata memiliki kemampuan beranak-pinak layaknya makhluk hidup. Anak-anaknya adalah sifat-sifat antagonis: pesimis, sinis, tak jarang anarkis. Semua sifat itulah yang kini menjajahku. Semua orang kuanggap tak becus bekerja. Senioritas yang congkak membuatku tak sudi menerima perintah—dari atasan sekalipun—dan merasa paling pintar padahal tak tahu apa-apa. Bila melakukan kesalahan, tak mau disalahkan. Bila mengobrol, topik utamaku adalah menjelek-jelekkan perusahaan dan menyindir atasan yang nyinyir. Begitu laten bahaya yang ditimbulkan oleh kebosanan.
Dalam struktur organisasi tempatku bekerja ada tiga tingkatan jabatan. Pertama, kepala, diemban oleh seorang lulusan fakultas farmasi, minimal strata 1. Tak peduli tabiatnya seperti anak ingusan, pengalaman baru seujung kelingking, belum bisa membedakan indikasi paracetamol dengan salbutamol, ketika menyapanya, tetap harus dengan Pak atau Bu melekat di depan namanya. Keceplosan, siap-siap diganjar penataran P4. Hal itu, katanya, tak lain merupakan etika untuk menghormati profesi mulia yang disandangnya. Kedua, asisten kepala. Namanya asisten, pekerjaannya tentu membantu sang kepala. Ketiga, kasta terendah, non-asisten julukannya. Mereka yang pendidikannya tidak bersangkut-paut dengan obat-obatan termasuk dalam kasta ini. Aku termasuk di sana. Maka pekerjaanku adalah mendorong-dorong troli, mengangkat berkardus-kardus infus, wara-wiri alias mondar-mandir, dan segala pekerjaan yang tidak membutuhkan pengetahuan tentang obat. Posisi non-asisten menjadi tambah tragis sebab seorang asisten, yang meskipun baru bekerja kemarin sore, memiliki kewenangan lebih ketimbang non-asisten yang sudah bekerja setengah abad sekalipun. Maka, di sini, jelas sekali pengalaman tidak memiliki kredit. Non-asisten, termasuk aku tentunya, tidak mendapat pengakuan.
Namun, bagaimana pun, aku tidak berhak kecewa. Pendidikanku memang tidak memadai untukku berurusan dengan resep dokter. Aku seharusnya berkecimpung di lembaga pendidikan bukan di rumah sakit. Aku ibarat pemain sepakbola yang masuk ke lapangan voli. Meskipun sepakanku sedahsyat halilintar, tetap aku dipandang sebelah mata, sebab permainan voli tidak menggunakan kaki untuk mengolah bola.
Kuingat-ingat, dari awal aku bekerja hingga sekarang, banyak yang keluar-masuk perusahaan, tak terhitung jumlahnya. Mereka yang sudah keluar, tak sedikit mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Lebih bagus di sini merujuk pekerjaan yang memberimu gaji lebih besar. Lalu mengapa aku mau-maunya dikerjai dan bertahan di perusahaan hingga karatan? Tanpa kusadari, barangkali aku mengidap kombinasi penyakit orang gagal: bodoh, wawasan sempit, takut mengambil risiko.
Kusulut sebatang rokok lagi. Kuteguk kopi yang mulai hangat. Aku tersenyum senang. Bukan lantaran nikmatnya rokok berteman kopi, melainkan karena jawaban untuk pertanyaan tadi, alasan aku masih betah.
Satu-satunya penghiburan yang membuat aku tetap tabah bekerja adalah kawan-kawan yang budiman, berjiwa muda, unik, inspiratif, kocak, seru, gampang berkompromi, punya passion, dan yang paling mendebarkan, mereka para wanita, berparas cantik nan rupawan, lumayan untuk sekedar cuci mata. Berada dalam lingkaran pertemanan ini membuatku merasa pekerjaan sedikit berwarna. Dan lagi, tak ada di antara kami yang punya tabiat buruk bermuka dua, berperangai licik suka menjatuhkan, ataupun gemar mengadu domba seperti kompeni. Mungkin karena kami semua paham, perusahaan tak akan memberi lebih meski kami berperilaku demikian. Merendahkan martabat diri demi satu-dua pujian tak masuk dalam kamus kami. Lalu, seandainya aku resign, katakanlah aku diterima di perusahaan yang lebih bagus tadi, adakah jaminan aku akan mendapat tim yang sama baiknya dengan saat ini? Bagaimana jika nanti di sana aku malah tidak bahagia karena tertekan batinku setiap hari diperolok dan diperdaya? Lambat laun aku setuju dengan sebuah quote yang berbunyi: jika ingin seumur hidupmu bahagia, cintailah pekerjaanmu. Sentosalah mereka yang pekerjaannya sejalan dengan hobinya.
Aku selalu bercita-cita punya usaha sendiri. Aku sadar, tak mungkin selamanya menghambabudakkan diri pada orang lain. Kurasa bisnis kuliner serasi buatku. Rancangan sebuah tempat mengisi perut, dengan menu yang ringan-ringan saja, sekaligus menjadi tempat nongkrong anak muda dengan konsep berbau musik—agar sejalan dengan hobiku—itulah yang ada dalam angan-anganku selalu.
Ingin sekali aku seperti tetangga kosku, yang dagang nasi bungkus itu. Meski SD pun dia tak tamat, kutaksir pendapatannya jauh melebihi aku yang kerja selalu rapi memasukkan baju dan bersepatu pantofel berkilap. Tetanggaku berangkat jualan jam 6 sore dan baru pulang paling lambat jam 4 subuh. Baik nasibnya, tiap hari nasinya ludes. Dari sana ia bisa membayar kos, menghidupi anak-istri, memanjakan diri dengan memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Nah aku, memenuhi kebutuhan primer seorang diri saja masih kocar-kacir. Bila mau jujur, pekerjaanku hanya menang rapi.
Belum kelar aku menghayati bosannya menjadi karyawan, sore yang beku tiba-tiba pecah dan meriah. Ternyata terjadi keributan suami-istri, tetangga yang baru saja kuceritakan. Awalnya hanya cekcok mulut kemudian diikuti suara perabot dapur dibanting. Gawat, perang dunia III akan meletus! Lalu ada suara, mungkin tamparan. Ibu-beranak itu menangis. Sekonyong-konyong, seperti biasa, datang tetangga lain melerai. Si suami masih meledak-ledak memuntahkan caci-maki. Si istri ngotot tak mau kalah membela diri sambil sesenggukan.
Dari perang mulut kucerna, pertengkaran yang di dalamnya terjadi KDRT itu bermula dari suami yang menyuruh istrinya memandikan si anak yang tengah berdebu-ria. Mungkin nadanya kasar, istri tersinggung dan mengelak dengan berkata bahwa ia pun penat. Wajar saja, ia menyiapkan ratusan bungkus nasi, mulai dari memasak nasi dan lauk, sampai membungkus. Semua dilakukan seorang diri sebab si lelaki sejak datang dari berjualan ngorok hingga tengah hari. Perkara mengurus anak, jadilah mereka saling oper.
Aku tak tahu persis karena bukan orang ekonomi, tapi dari kericuhan itu aku menarik teori sederhana yaitu penghasilan yang besar berhubungan linear dengan kebutuhan tenaga dan waktu yang banyak. Bukan cuma aku, barangkali mereka pun sejak lama telah diterkam bosan. Sepanjang hari mengurusi dagangan tak ada waktu untuk yang lain. Ditambah kelelahan fisik saban hari, pikiran jadi tak keruan. Pantas saja ekspresi mereka selalu saja muram. Terkadang macam orang hendak menangis, terkadang macam ingin mengunyah manusia. Mereka tampak lebih tua dari usianya.
Kejadian itu tak pelak membuatku berpikir lagi. Setelah kutinjau ulang, dengan mengerahkan segala energi positif dalam diri, walaupun penghasilanku lebih sedikit, tiba-tiba aku merasa pekerjaanku lebih baik. Setidaknya aku bekerja hanya tujuh jam sehari, di ruangan ber-AC pula. Aku punya banyak waktu untuk keluarga karena tak ada pekerjaan yang kubawa pulang. Akhirnya untuk sementara, dengan perasaan lega—banyak yang mengatakan tampangku terlihat lebih muda dari umurku—kutunda niatku menjadi seperti tetanggaku. Aku meloncat mandi. Besok akan kuurus cuti, menghamburkannya dengan refreshing, menghalau si hantu bosan itu, mumpung ia masih kecil saja.***

Sabtu, 28 Mei 2016

Duniamu (puisi)








Ketika angin beringsut pergi
Dan cahaya dengan khidmat mengundurkan diri
Kepada siapakah hatimu yang lugu akan bernyanyi

Aku,

Menjadi duniamu selalu













Minggu, 01 Mei 2016

Sepeda Buat Anakku (cerpen)


Sekiranya ada yang bisa membuat seorang anak begitu riang gembira, hingga berbulan-bulan bahkan 365 hari, apakah yang bisa? Jika seorang anak ingin malam cepat pergi dan esok datang lebih pagi, apakah gerangan yang dinantinya? Apa pula yang membikin anak gatal kaki dan tangannya, ingin menjajal lagi dan lagi?
Adakah benda mendebarkan macam itu? Mengaku saja, Kau pasti tidak tahu karena Kau belum punya anak.
Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan, menggunakan teori dan metode yang hanya aku sendiri yang paham, aku berhasil mendapat kesimpulan bahwa benda itu, boleh percaya boleh tidak, adalah sepeda. Ya sepeda, tak lain dan tak bukan.
Hampir seluruh anak di muka bumi mempunyai sepeda. Setidaknya pernahlah mempunyai sepeda. Beberapa anak mungkin lupa pernah punya sepeda. Itu wajar karena saat dibelikan usia mereka baru satu tahun, saat itu daya ingatnya boleh dikatakan belum bisa diandalkan.
Kau sendiri pasti punya sepeda, bukan? Ingatkah Kau saat kecil, Kau begitu bersemangat menunggu ayahmu datang dari toko sepeda. Setelah sepeda itu tiba, Kau gembira tak terkira menaikinya. Malamnya Kau tidak bisa memicingkan mata, sebentar-sebentar Kau mengintip keluar, ke tempat sepeda itu disandarkan, dan Kau ingin cepat-cepat melihat matahari. Memang luar biasa sensasi memiliki sepeda baru.
Waktu kecil dulu aku juga begitu. Aku suka bersepeda. Sepeda hitam kecil itu, yang selalu menemaniku menjelajah waktu, adalah bagian dari cerita masa kecilku yang seru.
Aku ingat, saat Ebtanas hari pertama, ayahku bersabda, “Kalau Kamu lulus dengan NEM tinggi dan dapat SMP negeri, Kamu dapat hadiah sepeda baru.” Jantungku berdebar-bedar.
Seminggu kemudian EBTANAS usai, aku nyengir persis kuda memandangi pengumuman yang ditempel di depan kantor guru. Pulang dari sekolah aku diantar ayahku ke toko sepeda Surapati Selalu Di Hati, letaknya bersebelahan dengan toko kue tart. Tanpa ragu aku menunjuk sepeda laki warna abu-abu, model sepeda gunung, gigi depannya tiga (baca: gir), gigi belakangnya enam. Teknologi tercanggih kala itu, keren bukan buatan.
Aku menggunakan sepeda itu hingga SMA. Kebetulan sepeda adalah ciri khas SMA-ku. Semua murid datang ke sekolah bersepeda. Jika dulu sempat bertandang ke sekolahku, Kau pasti melihat sebuah sepeda berdiri dengan teguh, bersahaja, disiplin, dan sederhana. Di bawahnya tertera pahatan filosofis SEPEDA: SEnyum PEnuh DAmai. Kini, ketika budaya sekolah berubah, sepeda itu teronggok sendirian, tua, rapuh, murung, dan kesepian, hanya ditemani satpam.
Hari ini memang ingin sekali aku bercerita perkara sepeda. Pasalnya, setelah dua tahun kehilangan tawa karena terlalu sedih ditinggal mati ibunya, anakku kini bisa tertawa lagi. Bocah itu, yang saat ibunya meninggal baru berumur tiga tahun, aku pikir belum mengerti apa-apa terkait takdir yang menelikungnya. Namun kenyataannya dia selalu muram dan terus-menerus bertanya, kapan ibu pulang? Sampai-sampai aku kehabisan stok jawaban untuk membesarkan hatinya. Tersayat hatiku tiap kali dia bertanya.
Tetapi kini bolehlah aku bersenang hati. Perasaanku tak jauh berbeda dengan perasaan pegawai negeri menerima gaji ke 13. Anakku sekarang sudah menemukan kembali kebahagiaannya. Ia melonjak-melonjak girang, tergelak, di matanya tampak binar-binar keceriaan, dan semua itu cuma karena sebuah benda bernama sepeda.
Aku merasa bodoh karena tidak pernah terpikir bahwa sepeda mampu menjadi hiburan yang luar biasa, yang dapat menghapus memori kelabu yang telah mendekam di sanubari anakku bertahun-tahun hingga lumutan.
Ingin sekali aku berterima kasih kepada manusia berakhlak mulia penemu sepeda, Karl Drais. Saat ini anakku pasti masih dirundung duka seandainya lelaki Jerman itu tidak menciptakan sepeda, meskipun sepeda yang dibuatnya adalah versi kuno, primitif, belum modern seperti yang ada sekarang ini. Harus diakui orang-orang Jerman memang jenius di bidang mekanika, pantas saja mereka jadi juara dunia sepakbola tahun 2014 lalu setelah di final menaklukkan Argentina 1-0.
Ingin sekali aku memeluk dan menjabat tangan lelaki Taurus itu, memberinya loloh cemcem sebagai cindera mata, mengajaknya berdiskusi—mengingat dia orang jenius—tentang isu-isu hangat di dunia seperti pembajakan pesawat Egyptair, teror bom di Brussel, penyanderaan WNI oleh komplotan Abu Sayyaf, pilgub DKI Jakarta, kasus penyewaan anak-anak, terbakarnya pasar Badung dan pasar Ubud, final piala Bhayangkara, hingga tindakan tidak sportif oknum-oknum dosen yang memeras mahasiswa saat bimbingan skripsi. Ingin aku mendengar tanggapannya tentang semua hal tadi. Sayangnya laki-laki penjaga hutan itu sudah amor ring acintya 165 tahun yang lalu, jauh sebelum aku dilahirkan. Jadi cukuplah aku kirim doa saja untuk beliau.
Aku masih memandangi anakku dan teman-temannya bermain sepeda. Mereka begitu bersemangat dan berkeringat. Sesuatu mengganjal di hati, sejak tadi aku bercerita bahwa anakku bisa tertawa lagi karena sepeda tetapi aku lupa mengatakan sebetulnya dia belum punya sepeda. Dia senang melihat sepeda temannya. Meski hanya sebagai penonton, dia gembira luar biasa. Dia bersorak, berjingkrak-jingkrak, dan bertepuk tangan melihat temannya adu cepat. Ketika ia ingin mencoba, temannya tak memberi.
Anakku, yang sebentar lagi masuk TK, menghampiriku , ”Ayah, belikan nae Giyang sepeda.”
“Sepeda? Cenik gae to! Nanti ayah belikan.”
Nama anakku Gilang namun dia sendiri menyebut dirinya Giyang, hal itu karena dia, seperti anak lain pada umumnya, kesulitan melafalkan huruf L yang termasuk konsonan dental lateral. Lupa apa itu konsonan dental lateral? Coba buka lagi kitab linguistik dan fonologi, semua penjelasan ada di situ.
Anakku kembali bergabung dengan teman-temannya. Mereka bermain dengan sukacita. Hanya anakku yang tak punya sepeda. Sedihnya, tak seorang anak pun mau meminjamkannya. Jangankan meminjam, menjamah saja tak boleh. Anakku berlapang dada. Justru aku yang sesak melihatnya. Betapa anakku menginginkan sebuah sepeda. Sepeda adalah kebahagiaan terbesar seorang anak, dan bagiku, adalah kejahatan serius jika tidak mampu membelikannya.
Maka sejak itu aku bertekad membelikannya sepeda. Tetapi apa daya, uang aku tak sedia, tabungan pun tak punya. Aku memeras otak mencari pekerjaan sampingan agar ada tambahan penghasilan mengingat statusku saat ini hanya karyawan rendahan dengan gaji pas-pasan. Apapun akan kukerjakan asalkan tidak menabrak hukum. Pejabat-pejabat biarlah korupsi, oknum-oknum polisi biarlah pungli, orang lain biarlah mencuri, merampok, merampas, membegal, tapi aku sebisa mungkin tidak.
Aku berlari ke dalam rumah, menyisir seluruh ruangan bermaksud mencari barang yang sekiranya bisa dijual. Setelah diinventarisir, ternyata hanya ada tv usang, kulkas karatan, lemari yang sudah mau roboh, dan kipas angin berisik. Semua benda itu, jangankan dijual, diberikan percuma saja orang masih pikir-pikir menerimanya. Sebenarnya ada laptop lawas tetapi jika itu dijual kiprahku di dunia tulis-menulis bisa tamat.
Bukankah aku punya gitar tua? mengapa tidak mengamen saja?
Setelah bersusah-payah menguasai lagu-lagu yang lagi hits, aku langsung mencari lahan untuk mengais rejeki. Di depan warung lalapan, yang aroma sambalnya membuat orang lupa diet, aku berdiri memeluk sebilah gitar. Gayaku seperti Bang Haji. Sebenarnya malu tetapi ketika membayangkan wajah syahdu anakku menaiki sepeda baru, kepercayaan diriku melambung.
Aku mulai intro dengan kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi. Lalu lupa-lupa ingat aku mulai menyanyi, berkoar-koar lebih tepatnya. Suaraku bersaing berebut tempat dengan suara knalpot dan klakson kendaraan. Saat mau masuk reff, si pemilik warung menyetopku.
“Mas, mau nyanyi atau bunuh orang? Suara sampeyan berpotensi membuat orang kumat hipertensinya, suara sampeyan kayak suara kucing mau kawin, berisik.”
Aku cukup tahu diri suaraku memang tak sebagus Ray Peni, pelantun lagu Takut Jak Bojog itu, tetapi masa disamakan dengan suara kucing mau kawin? Dasar tukang ulek sambal, tahu apa Kau tentang seni? Hari itu menjadi kali pertama sekaligus kali terakhir aku berkiprah di dunia tarik suara jalanan.
“Ayah, jadi beli sepeda?” anakku menagih janji beberapa hari berikutnya. Aku panik seperti mahasiswa semester enam belas ditanya kapan wisuda. Batinku tertekan persis bujang lapuk 40 tahun ditanya kapan nikah.
Kembali aku memutar otak. Aku tanya ke sana-kemari, kiri-kanan, membaca lowker di koran, kira-kira apa yang bisa kukerjakan untuk menambah pendapatan, agar cita-citaku segera terealisasi: membelikan sepeda yang bisa membuat anakku semata wayang selalu tersenyum.
“Ikut ojek online aja, bro!” temanku memberi saran. Cemerlang. Ide itu kusambut baik. Aku langsung mengorek informasi dimana bisa mendaftar dan apa saja persyaratannya. Setelah semua kuperoleh dan kulengkapi, kuajukan lamaran.
Semua baik-baik saja saat berkas-berkasku diperiksa tetapi ketika masuk tahap pemeriksaan fisik kendaraan, kening si petugas berkerut. “Pak, serius ini motornya? Kok butut begini? Ini seharusnya sudah dipajang di museum, Pak. Mohon maaf, lamaran Anda tidak dapat saya proses lebih lanjut pasalnya motor Anda tidak memenuhi standar kami.”
Waduh kalau ngomong jangan sembarangan. Memangnya motor saya benda purbakala ditaruh di museum? Dasar tak tahu adat. Untung di republik ini ada hukum, kalau tidak, sudah kureklamasi mulutmu, omelku tapi dalam hati saja. Sebenarnya takut juga aku berkelahi dengannya.
Berkarir jadi tukang ojek gagal.
Tapi memang tepat kata pepatah, Tuhan selalu membuka jalan untuk mereka yang berniat mulia. Karena menyenangkan hati anak dapat dikategorikan mulia, Tuhan pun membukakan jalan untukku. Entah bagaimana, setelah mengalami pengusiran dan penolakan sana-sini, aku berhasil mengumpulkan cukup dana.
Pada hari yang istimewa itu meluncurlah aku ke toko sepeda Surapati Selalu Di Hati, yang letaknya bersebelahan dengan toko kue tart, tempat dulu ayahku membelikanku sepeda. Meski sudah tak sabar, aku tak mau tergesa-gesa. Kupilih sepeda dengan cerdas dan cermat macam memilih presiden.
Setelah hampir dua jam melihat-lihat, akhirnya kutetapkan pilihan pada sebuah sepeda mungil warna hitam, ada cakram dan suspensinya bak sepeda motor, gagah bukan buatan. Secara keseluruhan sepeda itu terkesan riang, elegan, dan tangguh. Aku begitu bergairah sampai-sampai penjualnya kusangka Karl Drais, si mister penemu sepeda itu, aku memeluknya lama dan menjabat tangannya erat sekali.
Dalam perjalanan pulang aku bersiul-siul. Tak jelas nadanya memang, yang jelas hatiku terasa lega, plong, sebab hari ini hutangku lunas tandas. Hidup terasa ringan tiada beban. Dunia berwarna-warni indah tak terperi. Tak peduli kantongku jebol, amblas. Tak hirau sekujur tubuh memar pontang-panting mengumpulkan uang. Aku merasa terharu sekaligus puas dan bangga terhadap diriku sendiri. Aku adalah seorang ayah pemenang, yang memenangi hati anaknya.
Sesekali aku melirik ke belakang memastikan sepeda hitam dengan dua roda bantuan di kiri-kanannya itu masih ada di sana. Aku bisa membayangkan wajah terpesona anakku, senyum lebarnya, pancaran semangat mata beningnya. Lalu kami akan sama-sama memreteli plastik-plastik gelembung yang membungkus sepeda itu. Belum apa-apa aku sudah heboh sendiri.
Aku masih beberapa meter dari rumah, anakku sudah menyongsong. Dia hapal di luar kepala suara mesin motorku seperti anak kucing yang kenal betul suara induknya. Aku yang akan memberi kejutan tetapi aku sendiri yang berdebar-debar, itulah sensasi kejutan. Sebentar lagi ia akan terbelalak melihat apa yang aku bonceng di belakang seperti melihat benda ajaib dari negeri dongeng.
“Gilang, lihat ayah bawa apa untukmu?” aku menunjuk sepeda sembari memamerkan senyuman terlebar yang aku miliki.
Anakku menoleh ke belakangku. Lalu begitu saja, tidak terjadi apa-apa, tidak ada respon. Ekspresinya biasa saja seolah-olah apa yang kubawa tidak berkesan buatnya. Aku turunkan sepeda itu, rasa penasaran menggelayutiku.
“Kamu tidak suka ya? Bukannya Kamu mau sepeda? Lihat, ada kliningannya. Bocah-bocah pelit itu pasti berebutan ingin meminjamnya, jangan diberi! Bikin mereka tahu rasa.”
“Giyang tidak mau sepeda, Ayah.”
Aku tercengang, bingung dengan apa yang terjadi. Aku sentuh dahinya, 36,2 derajat Celcius,  tidak panas, kuamati badannya, adakah ia baik-baik saja?
“Ayah, Giyang tidak mau sepeda.”
“Lalu?”
“Giyang mau adik.”
Hah? Aku terperanjat! Motorku hampir saja oleng. Siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu? Mengapa tiba-tiba ia menginginkan adik? Apakah lantaran itu ia bermuram durja selama ini? Aku tertegun dan berpikir lama sekali. Bukan memikirkan bagaimana cara memberinya adik melainkan bagian mana yang salah dalam penelitianku itu.***

Minggu, 17 April 2016

Panggil Aku Sherly (cerpen)


Seandainya tahu kondisi daerah itu macam apa, tentu Suwati tidak akan memutuskan tinggal di sana.  Semua orang maklum dengan reputasi daerah itu. Permukiman gelap nan kelam, sarang kupu-kupu malam, pekerja seks komersial, cewek kafe, perempuan penghibur, dan sejenisnya. Bagi kaum lelaki hidung belang dan bermata keranjang, daerah itu adalah surga.
Orang-orang tahu, tapi Suwati tidak. Ia gadis kampung yang lugu lagi polos. Pergaulannya terbatas dan tidak begitu luas sehingga informasi-informasi semacam itu tak pernah sampai di telinganya.
Niat Suwati hijrah ke kota tak lain dan tak bukan adalah untuk kuliah. Ia ingin dapat menyandang titel ns di depan namanya dan S.Kep. di belakang namanya. Bapaknya, seorang petani tamatan SD, mendukung penuh cita-cita Suwati menjadi seorang tenaga kesehatan. Begitu pula ibunya, adiknya, sepupunya, tetangganya, mantan kekasihnya yang sudah kawin, dagang laklak depan rumah, bahkan sapinya. Sapi itu, yang bobotnya setara dengan sepuluh pemuda, tak menolak ketika digiring ke pasar untuk dijual, uangnya untuk membayar uang pangkal kuliah.
Jarak antara kampung Suwati dengan kampusnya kurang lebih 90 kilometer atau lebih kurang dua jam perjalanan. Setelah menimbang berbagai aspek antara lain jarak, waktu, biaya, kesehatan, keselamatan, kenyamanan, keekonomisan, keefektivan, dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-persatu, Suwati akhirnya ngekos. Tak ada yang salah dengan keputusan itu. Hanya saja, ia tak sadar salah memilih tempat kos.
Jangan tanya mengapa di daerah itu banyak perempuan dengan profesi mendebarkan seperti yang disebutkan tadi. Permukiman itu, yang cerah prospek bisnis kos-kosannya, berada persis di tengah-tengah lalu di sekitarnya berkerumun puluhan kafe—legal maupun remang-remang—diskotik, night club, salon dan panti pijat terselubung, dan usaha lain yang beraroma prostitusi. Daerah itu menjadi semacam assembly point atau titik aman dan nyaman berkumpul bagi para pekerja dunia malam. Akses mereka kemana-mana dekat.
Hari pertama tinggal di sana Suwati langsung terpana. Takjub ia melihat perempuan-perempuan berkeliaran di jalanan dengan entengnya, tanpa rasa malu secuil pun, mengenakan pakaian seakan-akan kekurangan kain. Baju ketat dengan bagian leher lebar dan rendah tak jarang dari bahan tipis transparan sengaja untuk mengumbar dua buah keramat. Celana super minimalis atau hot pants yang memang benar-benar hot! Lelaki rabun pun pasti melotot memandangnya.
Seminggu di sana Suwati kian geleng-geleng kepala. Ketika duduk di sebuah warung memesan rujak gula, buahnya campur tanpa ketimun, cabe dua, dia tersedak. Bukan karena kepedasan tapi lantaran gulungan asap tembakau menerobos hidungnya. Tak habis pikir dia demi mengetahui asap polusi nikotin penyebab kanker paru-paru itu tersembur dari mulut bergincu tebal seorang perempuan. Belum lagi melihat tatonya, yang dirajah di area-area tubuh yang tidak sopan jika disebutkan, tambah ia mengelus-elus dada.
Sebulan kemudian Suwati lebih terperanjat. Malam itu ia menerima telepon dari orangtuanya di kampung. Karena sinyal di dalam kamar tidak bersahabat ia bergeser ke luar. Ia berdiri di depan pintu gerbang dan tak sengaja melihat seorang perempuan dengan rambut tergerai bersembunyi dan mendesah di balik rerimbunan semak-semak. Astaganaga!!! Pasti wanita itu berlaku tidak senonoh di situ. Bukan pemirsa, ternyata itu makhluk jadi-jadian sejenis kuntilanak! Suwati lari pontang-panting hingga sandalnya putus lalu menyeruduk kamar.
Semua hal itu membuat Suwati risih, resah, dan terganggu. Ia lahir dan besar di lingkungan religius yang sangat teguh menjaga nilai dan norma agama. Di kampungnya tidak ada perempuan yang bertingkah aneh-aneh. Semuanya bertabiat lurus-lurus saja sesuai apa yang diajarkan dalam Dasa Darma Pramuka.
Lama-kelamaan Suwati sadar tinggal di sana sangat riskan. Dia takut ikut terperosok ke jurang maksiat. Sebuah hal yang sangat mungkin saja terjadi. Ia tidak ingin durhaka terhadap sang kakek yang menamainya Suwati. Konon sang kakek mendapat ilham saat bersemedi di kamar mandi. Bagi Kau yang susah mendapat  ilham, cobalah temukan di kamar mandi. Akhirnya didapatlah nama Suwati, su berarti baik, dan wati akhiran untuk menyebut perempuan. Jadi Suwati? Tak perlulah diuraikan lagi, nenek-nenek ompong pun tahu artinya.
Salah satu keahlian waktu adalah mengecoh. Suwati urung bermigrasi lantaran mulai terbiasa. Hari berganti minggu, minggu berubah bulan, Suwati yang alim tak lagi heran, tak lagi melongo bak kebo mebalih gong menyaksikan apa yang terjadi di sekitarnya.
Kini dia terbiasa melihat cewek berpakaian seadanya, sudah lumrah melirik perempuan merokok, menenggak alkohol, bertato, rambut bersemir macam memedi. Ia pun maklum melihat laki-laki mata keranjang keluar-masuk salon kecantikan perempuan—belakangan Suwati paham salon itu hanyalah kedok.
Dulu Suwati sering jijik ketika menoleh ke butik murahan pinggir jalan, yang bertebaran dekat kosnya, karena manekinnya memamerkan pakaian tidak senonoh, model pakaian yang suka dikenakan pelacur ketika berdinas. Kini tidak lagi, ia sudah berdamai dengan lingkungan.
Dalam rangka memroteksi diri dari pengaruh negatif lingkungan, Suwati tak mau sembarangan berteman. Di tempat kos, dia hanya punya satu teman, tetangganya yang menempati kamar nomor satu, Kak Ina panggilannya. Dialah yang berjasa membantu Suwati beradaptasi. Dengan penghuni lainnya Suwati tidak begitu akrab. Mereka jarang bergaul, pintu dan jendelanya selalu tertutup. Individualisme, itulah salah satu produk budaya perkotaan. Berbeda dengan lingkungan Suwati di kampung, tetangga serasa saudara kandung.
Sepengetahuan Suwati, dua kamar paling ujung juga diisi perempuan, masih muda, single. Suwati menduga, mudah-mudahan dugaan ini salah, kedua perempuan itu bukan perempuan baik-baik alias perempuan nakal. Pekerjaannya tak jelas, sering keluar malam pulang subuh. Yang satunya bahkan terlihat seperti pecandu pil setan. Suwati sering mengintip lelaki yang bertamu berganti-ganti. Ia tidak mau menyapa kedua perempuan itu.
Suwati hanya bergaul dengan Kak Ina, nonton sinetron India dan Turki dengan Kak Ina, pergi ke salon dengan Kak Ina. Insting Suwati, Kak Ina adalah orang yang aman. Gerak-geriknya menyiratkan ia perempuan baik-baik, tidak akan menyesatkan.
Masalah kos kelar, masalah kuliah datang. Masuk semester dua, Suwati ketar-ketir. Mengingat ia tergolong mahasiswa yang berotak lumayan, penyebabnya pasti bukan karena materi kuliah yang runyam.
Sejak cuaca mengalami kekacauan, yaitu musim kemarau dan musim hujan datang tak sesuai aturan, seenaknya saja, petani, termasuk bapak Suwati, tidak bisa maksimal menggarap lahan. Kemarau berkepanjangan, hujan setetes pun tak sudi datang. Anomali, begitu orang-orang dari BMKG menyebutnya. Panen gatot alias gagal total. Kiriman uang tersendat bak kencing penderita batu ginjal. Di sisi lain SPP harus lunas sebelum ujian tengah semester, Suwati panik seperti tikus direndam.
Di tengah kegelisahan yang membekapnya muncul ide untuk mencari kerja.
“Kak Ina, aku mau kerja. Kalau ada lowongan kerja kasi tahu ya.” Suwati berkata pada Kak Ina.
“OK. Mau kerja yang gimana?”
“Maunya sih yang part time, supaya bisa sambil kuliah.”
Kak Ina melirik Suwati dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki dengan lagak orang menilai. Air mukanya mengesankan bahwa ia sudah menemukan perkerjaan yang pas untuk Suwati.
“Kerja malam mau?”
“Aku coba dulu deh Kak.”
“Ok, Say. Tunggu kabar nanti malam ya.”
Suwati tersenyum, Kak Ina tersenyum, ada kilatan aneh di matanya.
Malamnya, seperti biasa, kos-kosan sepi senyap bak kuburan. Suwati baru kelar mandi dan hanya mengenakan handuk ketika Kak Ina datang.
“Baru selesai mandi ya, kebetulan sekali.” Kak Ina tersenyum lebar. Agaknya ia membawa kabar bagus buat Suwati.
“Kebetulan apanya, Kak?”
“Aku membawakan pekerjaan buatmu.”
“Serius? Pekerjaan apa, Kak?” Suwati sumringah dan penasaran ingin segera tahu pekerjaan apa yang bisa dilakukannya.
Kak Ina menyamping memberi jalan pada seorang lelaki yang datang dari belakangnya. Lelaki setengah baya yang gaya dan dandanannya mirip pejabat pemda itu langsung masuk ke kamar Suwati membuat Suwati bingung. Laki-laki itu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Lagaknya seperti mandor memeriksa pekerjaan anak buahnya. Lalu ia cengar-cengir menatap tubuh Suwati yang sedikit terbuka, mulus, dan basah. Jelas sekali pikiran kotor telah mencemari kepalanya yang hampir botak.
Suwati memang lugu tapi ia bisa segera membaca situasi. Hanya saja ia tak percaya dengan apa yang ada dibenaknya.  Rasanya seperti menggenggam angin, Kak Ina tak mungkin seperti itu.
“Kak, ini maksudnya apa? Siapa orang ini?” Suwati memastikan apa yang dipikirkannya keliru.
“Tidak usah bingung. Dialah pekerjaanmu. Tenang saja, nikmati, nanti pasti terbiasa.”
Deg! Suwati menutup mulutnya, tubuhnya bergetar, ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari teman baiknya, matanya mulai basah.
“Tidak, Kak, ini pasti bercanda kan?”
Kak Ina menyeringai sejurus kemudian pergi ke kamarnya. Ia menjual Suwati kepada lelaki tengik itu, dia tak lebih dari seorang mucikari.
“Kata Ina kamu lagi butuh uang, aku bisa menyelesaikan masalahmu, tentu setelah kau menyelesaikan tugasmu.”
Si lelaki dengan senyum cabulnya mengeluarkan dompet lalu menghamburkan berlembar-lembar seratus ribuan ke kasur. Suwati yang sebenarnya sudah ingin meloncat kabur entah kenapa urung melakukannya. Hatinya memberontak namun uang itu, yang jumlahnya tak sedikit, menghipnotisnya. Sungguh menggiurkan, mengintimidasi, dan menggoda. Kedua kakinya seolah-olah terpaku di lantai.
Saat itulah dua sosok yang selama ini bersembunyi dalam diri Suwati keluar tergesa-gesa. Sosok pertama, malaikat putih, berteriak-teriak agar Suwati tetap memegang teguh iman. Sosok kedua, setan merah, yang berbinar-binar melihat uang, membisiki Suwati agar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ketika Suwati memasrahkan tubuhnya di kasur, kita tahu bahwa si malaikat telah ditumpas.
Malam itu, Suwati sadar telah dikhianati. Malam itu, sesuatu yang ditakutkannya terjadi. Seluruh prinsip hidup yang selama ini dipeliharanya lenyap menguap dalam sekejap ibarat alkohol 70% tumpah di meja.
Ironisnya, malam-malam berikutnya, Suwati menerima lagi lelaki di kamarnya. Bahkan dalam semalam bisa tiga sampai empat lelaki. Temannya pun kini bukan hanya Kak Ina. Ia sudah berkawan dengan dua perempuan yang mengisi kamar paling ujung. Suwati paham bahwa apa yang diperbuatnya berisiko kelak diganjar api neraka. Begitulah mahadahsyat kekuatan uang, jangankan Suwati yang notabene rakyat jelata, ketua DPR pun khilaf dibuatnya.

Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai kuliah Suwati. Informasi terakhir yang berhembus adalah untuk mengurangi rasa malunya terhadap sang kakek, karena tabiatnya berbanding terbalik dengan nama yang disematkan padanya, dia minta kepada teman-temannya agar berhenti memanggilnya Suwati dan mulai memanggilnya Sherly.