Minggu, 09 Oktober 2016

Bagaimana Aku Mengisinya (puisi)




Gelas-gelas di hadapanku
tertutup rapat-rapat
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
berontak tak mau diam
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
umpama aku pecahkan saja
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
kau sangka berisi? nyatanya kosong belaka
bagaimana pun aku harus mengisinya


Minggu, 18 September 2016

Puisi Kecil

Pagi itu hujan tumpah. Suasana yang biasanya senyap menjadi sedikit semarak. Ternyata, meski tak banyak yang tahu, suara hujan laksana orkestra alam. Hantaman butir-butir air pada genteng, seng, kaleng, kerikil, kubangan tak ubahnya pukulan-pukulan perkusi, menghasilkan irama yang absurd. Lalu secara misterius, irama itu merayu, menarikku keluar dari keteduhan, membubarkan jarak antara aku dan hujan, kubuka tangan, dan tatkala air-air itu terjun menerjang, terjadilah puisi kecil ini.


Derai-surai hujan jatuh
di sepotong pagi
berinai-rinai
tipis bukan gerimis
kelabu namun syahdu

"Musim hujan, rupanya,
datang lebih awal,"
gumam seorang lelaki
yang merenung di bawah daun pisang

Minggu, 04 September 2016

Bukan Lelucon

PERMISI, selamat sore! Pesanan datang!” terdengar lelaki berseru dibarengi ketukan pintu. Nah, ini dia, kurir yang kunanti sudah datang, pikirku sumringah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Makanan yang kupesan via aplikasi ojek online di smart phone-ku muncul pada waktu yang tepat sekali. Laparku sudah berada di ujungnya. Lewat sedikit bisa-bisa pipih ususku.

“Ya, sebentar,” kurogoh tas dan kujumput sejumlah uang. Dengan semangat 45 aku melesat menuju pintu. Bayangan makanan panas berasap siap santap menari-nari dengan mantap.

Kuhela pintu dan nah! Bukan pak kurir yang datang. Aku malah dikagetkan oleh tampang konyol lelaki yang kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Kentara sekali dia amat-sangat puas telah berhasil mengerjaiku.

“Nggak lucu!” hardikku dengan jengkel sekaligus kecewa. Ingin sekali kutendang lelaki itu hingga jatuh terguling-guling seperti yang dilakukan Valentino Rossi kepada Marc Marquez tempo hari.

Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah suamiku, manusia jahil, usil, dan suka iseng. Sifatnya seperti bocah. Koplaknya tidak ketulungan. Otaknya disesaki hal-hal miring dan konyol. Moto hidupnya adalah “keep calm and stay konyol” atau “usil-lah sebelum usil itu dilarang” bisa juga “tidak ada kata terlambat untuk bercanda ria”.

Suamiku sudah begitu dari dulu dan tidak kunjung waras hingga sekarang. Kemungkinan dia akan seperti itu seumur hidupnya. Ibarat penyakit, tabiat konyolnya sudah kronis. Jika kepalanya dibelah, pasti terlihat saraf-saraf otaknya kusut semrawut. Centang perenang sehingga sering korslet. Kegemarannya menjahili orang. Karena aku orang terdekat, yang setiap hari bersamanya, jadilah aku yang kerap menjadi korbannya.

Tidak hanya itu, suamiku juga amat susah diajak diskusi serius. Pemikirannya terlalu santai. Tak jarang ketika aku ingin membahas perkara yang agak serius, dia menanggapinya dengan guyonan. Di situ kadang aku merasa ingin meninjunya hingga terjungkal ke kawah Barujari.

Dan lagi, sangat sulit membedakan antara dia berkata jujur atau sedang berbohong. Air mukanya susah diterka. Sandiwaranya mengalahkan akting pemain sinetron Cinta di Langit Taj Mahal. Lengkaplah sudah penderitaanku menjadi istrinya.

Mengapa dulu aku nekat menerima bujukan menjadi istrinya? Pertanyaan itu pernah terbesit di kepalaku. Memunculkan sebuah tanda tanya besar. Ketika kutelusuri, senang sekali ternyata kutemukan bahwa suamiku tidaklah buruk sekali. Kalau dipikir-pikir, kelakuannya itulah yang justru membuatku gelap mata menyukainya.

Aku jatuh cinta padanya justru karena sifatnya yang tengal dan konyol itu. Tingkah polahnya yang seperti itu membuatnya lucu dan kocak. Aku suka orang lucu dan humoris. Bagiku, orang humoris selalu membawa aura positif. Jika Kau seorang pria yang sedang mendekati wanita, aku beri saran, jadilah pria yang humoris. Tak usah romantis sebab pria humoris akan mengalahkan pria romatis. Trust me, it works.

Saat pacaran dulu, suamiku—tentu saja saat itu masih pacar—sering membuatku tertawa tak habis-habis ketika bernyanyi sambil memainkan gitar. Lagu-lagu yang didendangkannya bukanlah lagu-lagu romantis melainkan lagu-lagu sembarang dengan lirik yang dibuat sekenanya sehingga terdengar lucu dan mengundang gelak tawa. Aku suka tersenyum geli sendiri bila mengingatnya. Kini, setelah menikah, bukannya tambah matang dan dewasa, kejahilan malah kian parah dan makin menjadi-jadi. Aku curiga ia bercita-cita ingin jadi seperti Vincent Club ’80, presenter acara 'Ups Salah' yang doyan mengerjai orang-orang.

Kecurigaanku bukan tanpa alasan. Suamiku tidak seperti orang lain yang mengidolai tokoh-tokoh kharismatik, gagah, ganteng, pintar, semisal Bung Karno, Iwan Fals, Luna Maya, Vin Diesel, Rhoma Irama, Sheryl Sheinafia, Andrea Hirata, ataupun Vicky Prasetyo. Suamiku justru memuja dan menjadi penganut pelawak-pelawak tengal dan jauh dari citra keren, seperti Komeng, Sule, Trio Warkop DKI, Cak Lontong, Abdur, Tukul Arwana, hingga Mister Bean. Bagi suamiku, mereka adalah inspirator. Merekalah yang mengukir karakter suamiku sampai jadi unik seperti ini.

Suamiku memang konyol dan kekanak-kanakan, akan tetapi di balik itu, dia tetap bertanggung jawab. Kendati candaannya suka kelewatan dan acap membuat sebal, aku tidak pernah dendam. Justru tanpa kekonyolan-kekonyolan itu, hubungan kami akan terasa kurang sedap, ibarat bakso tanpa cilok. Suamiku selalu bisa menghadirkan keceriaan dan suasana penuh suka. Dia selalu bisa membuat gigiku kering lantaran kebanyakan tertawa.

Beberapa hari setelah kejadian kurir palsu itu, aku sedang menyetrika baju dan seseorang mengetuk pintu rumah. Kemudian terdengar rintihan memanggil namaku.

“Siapa?”

“Ini aku… Cepat. Sakit sekali.”

Suaranya pelan dan tersendat. Aku mengenali suara itu, behh… itu suara suamiku. Meski dibuat sedemikian rupa, aku tetap mengenalinya. Aku langsung sadar ini pasti lelucon. Tidak diragukan lagi, ini pasti jebakan. Aku tidak menaruh setrikaku. Sing ngerambang bangken dongkang alias tak peduli bangkai kodok, pikirku. Aku tahu yang dia rencanakan: dia berpura-pura kesakitan, aku membuka pintu dengan was-was, aku menyongsongnya dengan cemas, kemudian dia tertawa terbahak-bahak karena itu hanya bohong belaka dan aku berhasil ditipu.

Trik murahan. Cuiihh…! Aku takkan termakan sandiwaranya lagi. Seperti kata pepatah, keledai tak masuk ke lubang yang sama dua kali. Aku sudah belajar dari pengalaman.

“Ning… Ningsih, cepat… tolong…” Aku tidak menjawab. Hahaha… siapa yang mau diperdaya? Kutinggikan volume tv. Aku ingin dia sadar bahwa apa yang akan dia coba lakukan sudah terendus. Rencananya gagal total, permainannya sudah terbaca. Aku lanjut menyetrika sambil tersenyum penuh kepuasan. Sebentar lagi dia akan masuk dengan malu dan aku akan mengejeknya habis-habisan. Hahaha…

Lima menit berselang, dia tak juga masuk. Suaranya juga tak terdengar. Kira-kira apa yang sedang dilakukannya di luar? bisikku dalam hati. Aku nyaris terpancing ingin membukakan pintu. Jangan-jangan dia sedang menjalankan rencana B: aku membuka pintu, dia berpura-pura mati, ketika aku dekati dia sontak bangun dan mengagetkanku. Oo… tidak bisa!

Tujuh setengah menit berlalu, dia masih belum juga masuk. Dasar manusia keras kepala tak mau kalah. Perangkap apa yang dia pasang sekarang? Aku penasaran apa yang dia perbuat di luar. Akhirnya aku menyerah. Aku bangkit dan berjalan menuju pintu. Setelah ku buka, kudapati suamiku tidur tengkurap di depan sana. Ternyata benar, ini pasti rencana B.

“Hei, stop tipu-tipu, Bung! Aku tahu Kau pasti pura-pura kan?” teriakku.

Suamiku tak bergerak. “Sudahlah, berhenti dong bercandanya.”

Dia masih tidak bergeming. “Bercandanya nggak lucu deh. Ayo bangun!"

Dia tak juga bergerak. Perasaan ganjil tiba-tiba menyergapku. Benar saja, aku melihat keanehan pada posisi tangannya. Aku mulai cemas. Aku menyongsongnya ke sana, mendekat agar dapat melihat lebih jelas.

Astaga! Tangan kirinya terpelintir mengerikan! Tulangnya seperti terlepas dari sendi. Oh, apa yang terjadi? Jantungku berdegup kencang, kedua lututku mendadak lemas. Kubalikkan tubuhnya. Oh, Tuhan! Bahunya hancur, pelipisnya berlumuran darah. Apakah ia mengalami kecelakaan? Mengapa tak seorang pun menolong? Tanganku gemetar hebat mengusap darah itu. Aku mulai menangis dan panik luar biasa. Ya, Tuhan! Kini aku benar-benar berharap ini hanya permainan, hanya pura-pura. Tapi suamiku tidak membuka matanya dan tertawa seperti biasa. Ini bukan lelucon, ini serius! Suaraku bergetar.

“Kamu kenapa? Ayo bangun…! Bangun…! Oh, Tuhan… Siapa pun toloooooooooong!!!”***

Minggu, 14 Agustus 2016

Tak Ada (lagi) Malam



Dan akan kurindukan suatu hari nanti:
gemerincing ampul kaca beradu,
semerbak aroma formalin, penisillin, atau entah apa itu,
ruang yang semakin ke sini terasa sedingin salju,
serta malam-malam yang bisu.
biar kuhirup,
kusimak,
kukecap,
kutatap,
kudekap
menjejalkan bayang
sebelum terbang
tatkala detik itu datang
lambaikan tangan
pada kursi-kursi dan selembar kardus infus


Minggu, 03 Juli 2016

Lepas Malam (cerpen)

SORE membeku. Aku duduk sendiri, kuyu menghadapi secangkir kopi instan. Asap rokok meliak-liuk pelan, berpendar ke segala arah diterpa angin lesu. Jarum jam di dinding ikut-ikutan berdetak lunglai, hilang semangat. Sudah pukul 4. Itu berarti tujuh jam sudah aku berhibernasi—pembalasan setelah melakoni kerja malam yang menggelisahkan, yang membuat mata hanya sanggup berpijar setengah watt. Namun begitu, rasanya belum setimpal. Serpihan-serpihan kantuk masih terasa memerihkan mata.
Di sebelah sana, tetangga kosku sibuk menyampir-nyampirkan dagangan pada keranjang yang telah diikatkan pada sepeda motor. Rokok tak lepas dari mulutnya. Dia berdagang nasi bungkus dan berupa-rupa temannya. Sebentar lagi dia akan berangkat. Terlalu bersemangat dia sampai tak memedulikan anaknya yang sejak tadi bermain tanah kini sudah penuh berlumuran debu, mirip kue moci. Aku duduk malas saja. Berusaha mengumpul-ngumpulkan nyawa yang tercerai-berai entah kemana.
Sebenarnya apa yang tengah aku lakukan adalah berpikir. Aku berusaha menilai situasiku saat ini. Aku merasa, beberapa minggu belakangan, pekerjaan tak lagi menyenangkan, tak ubahnya beban. Padahal sebelumnya aku menikmatinya. Namun, kini, aku tidak bisa lagi mengembannya sepenuh hati. Apalagi jika mendapat giliran shift malam. Kaki seumpama terikat pada barbel seberat 200 kilogram, susah nian dilangkahkan. Sikap-sikap pekerja yang disukai para atasan: loyal, militan, berinisiatif, penuh ide-ide kreatif, tak lagi bersemayam dalam diriku. Aku menggeledah setiap sudut otak, mencari-cari apa gerangan yang tengah merasukinya. Usut punya usut, aku berhasil menemukannya, rupanya seekor hantu kecil. Ia bernama bosan.
Di dunia ini, Tuhan menciptakan semua hal berpasangan. Tua-muda, menulis-membaca, fiksi-ilmiah, jadian-putus, lulus UN-tak lulus UN—tapi demi citra lembaga dan sedikit kongkalikong, tenang saja, pasti lulus—koruptor-KPK, bersemangat-bosan. Dulu semangatku menyala-nyala bak obor olimpiade. Jangankan yang disuruh, yang tak disuruh pun aku kerjakan. Jangan heran bila waktu itu aku dinobatkan sebagai karyawan teladan—bonusnya sebilah handphone dan tabungan. Aku dielu-elukan banyak orang. Kini, semua berbalik 180 derajat. Tingkahku tak lagi terpuji. Jangankan yang tak diperintah, yang diperintahkan pun aku masih pikir-pikir melaksanakan. Hampir setiap hari absenku merah. Jika owner merengkingkan prestasi kami, karyawannya yang berjumlah tak kurang dari 500 jiwa, barangkali akulah yang bertahta di urutan paling ekor.
Wajar rasanya aku dihinggapi bosan. Jika dihitung-hitung, sudah berganti 12 kalender aku bekerja di perusahaan. Dari tamat SMA sampai sekarang usia kepala tiga. Dari dulunya bujang hingga sekarang punya anak seorang, empat tahun umurnya. Kalau aku presiden, aku sudah menjabat dua periode dan dilarang keras mencalonkan diri lagi. Dengan durasi kerja selama itu, aku cukup percaya diri mengatakan tidak ada lagi tantangan dalam pekerjaan.
Meski sudah mengabdi selama itu pangkatku di perusahaan tetap, seperti matahari yang senantiasa terbit dari timur dan terbenam di ufuk barat, tidak berubah. Tidak ada promosi, tidak pula degradasi. Jenjang karir tidak diciptakan untukku. Lebih merana lagi, statusku masih karyawan kontrak. Perkara gaji, tidak perlulah kubahas di sini, terlalu miris. Sama mirisnya dengan ketika menyaksikan berita kekerasan seksual yang lagi tren di republik ini. Berkutat dengan hal yang sama, berulang-ulang, saban hari, selama 12 tahun, diperparah dengan bayaran yang tak kunjung membaik, adakah di semesta ini yang masih meragukan kebosananku?
Rokok yang menyala sejak tadi menggodaku. Kuberikan hisapan terakhir sebelum tandas. Semakin dalam aku menghisap, semakin jauh aku berkontemplasi.
Sesungguhnya, hal yang membangkitkan kebosananku dalam bekerja tidak melulu soal karir yang stagnan ataupun gaji yang segitu-gitu saja. Perkara yang paling pokok adalah sistem yang selalu bermasalah dan tak kunjung mendapat solusi sehingga tak jarang menempatkanku dalam posisi dilematis. Kemudian, seiring dengan pendidikan terakhirku yang meningkat satu setrip, kini aku memiliki mentalitas baru dalam menjalani kehidupan, dan pekerjaan tentunya. Mentalitas itu membuatku punya cara pandang baru dalam menghargai diri sendiri, juga membuatku berani memelihara idealisme. Sayangnya, idealisme yang aku pupuk tidak sehaluan dengan pekerjaan.
Tak hanya sampai di situ. Kebosanan, hantu kecil itu, ternyata memiliki kemampuan beranak-pinak layaknya makhluk hidup. Anak-anaknya adalah sifat-sifat antagonis: pesimis, sinis, tak jarang anarkis. Semua sifat itulah yang kini menjajahku. Semua orang kuanggap tak becus bekerja. Senioritas yang congkak membuatku tak sudi menerima perintah—dari atasan sekalipun—dan merasa paling pintar padahal tak tahu apa-apa. Bila melakukan kesalahan, tak mau disalahkan. Bila mengobrol, topik utamaku adalah menjelek-jelekkan perusahaan dan menyindir atasan yang nyinyir. Begitu laten bahaya yang ditimbulkan oleh kebosanan.
Dalam struktur organisasi tempatku bekerja ada tiga tingkatan jabatan. Pertama, kepala, diemban oleh seorang lulusan fakultas farmasi, minimal strata 1. Tak peduli tabiatnya seperti anak ingusan, pengalaman baru seujung kelingking, belum bisa membedakan indikasi paracetamol dengan salbutamol, ketika menyapanya, tetap harus dengan Pak atau Bu melekat di depan namanya. Keceplosan, siap-siap diganjar penataran P4. Hal itu, katanya, tak lain merupakan etika untuk menghormati profesi mulia yang disandangnya. Kedua, asisten kepala. Namanya asisten, pekerjaannya tentu membantu sang kepala. Ketiga, kasta terendah, non-asisten julukannya. Mereka yang pendidikannya tidak bersangkut-paut dengan obat-obatan termasuk dalam kasta ini. Aku termasuk di sana. Maka pekerjaanku adalah mendorong-dorong troli, mengangkat berkardus-kardus infus, wara-wiri alias mondar-mandir, dan segala pekerjaan yang tidak membutuhkan pengetahuan tentang obat. Posisi non-asisten menjadi tambah tragis sebab seorang asisten, yang meskipun baru bekerja kemarin sore, memiliki kewenangan lebih ketimbang non-asisten yang sudah bekerja setengah abad sekalipun. Maka, di sini, jelas sekali pengalaman tidak memiliki kredit. Non-asisten, termasuk aku tentunya, tidak mendapat pengakuan.
Namun, bagaimana pun, aku tidak berhak kecewa. Pendidikanku memang tidak memadai untukku berurusan dengan resep dokter. Aku seharusnya berkecimpung di lembaga pendidikan bukan di rumah sakit. Aku ibarat pemain sepakbola yang masuk ke lapangan voli. Meskipun sepakanku sedahsyat halilintar, tetap aku dipandang sebelah mata, sebab permainan voli tidak menggunakan kaki untuk mengolah bola.
Kuingat-ingat, dari awal aku bekerja hingga sekarang, banyak yang keluar-masuk perusahaan, tak terhitung jumlahnya. Mereka yang sudah keluar, tak sedikit mendapat pekerjaan yang lebih bagus. Lebih bagus di sini merujuk pekerjaan yang memberimu gaji lebih besar. Lalu mengapa aku mau-maunya dikerjai dan bertahan di perusahaan hingga karatan? Tanpa kusadari, barangkali aku mengidap kombinasi penyakit orang gagal: bodoh, wawasan sempit, takut mengambil risiko.
Kusulut sebatang rokok lagi. Kuteguk kopi yang mulai hangat. Aku tersenyum senang. Bukan lantaran nikmatnya rokok berteman kopi, melainkan karena jawaban untuk pertanyaan tadi, alasan aku masih betah.
Satu-satunya penghiburan yang membuat aku tetap tabah bekerja adalah kawan-kawan yang budiman, berjiwa muda, unik, inspiratif, kocak, seru, gampang berkompromi, punya passion, dan yang paling mendebarkan, mereka para wanita, berparas cantik nan rupawan, lumayan untuk sekedar cuci mata. Berada dalam lingkaran pertemanan ini membuatku merasa pekerjaan sedikit berwarna. Dan lagi, tak ada di antara kami yang punya tabiat buruk bermuka dua, berperangai licik suka menjatuhkan, ataupun gemar mengadu domba seperti kompeni. Mungkin karena kami semua paham, perusahaan tak akan memberi lebih meski kami berperilaku demikian. Merendahkan martabat diri demi satu-dua pujian tak masuk dalam kamus kami. Lalu, seandainya aku resign, katakanlah aku diterima di perusahaan yang lebih bagus tadi, adakah jaminan aku akan mendapat tim yang sama baiknya dengan saat ini? Bagaimana jika nanti di sana aku malah tidak bahagia karena tertekan batinku setiap hari diperolok dan diperdaya? Lambat laun aku setuju dengan sebuah quote yang berbunyi: jika ingin seumur hidupmu bahagia, cintailah pekerjaanmu. Sentosalah mereka yang pekerjaannya sejalan dengan hobinya.
Aku selalu bercita-cita punya usaha sendiri. Aku sadar, tak mungkin selamanya menghambabudakkan diri pada orang lain. Kurasa bisnis kuliner serasi buatku. Rancangan sebuah tempat mengisi perut, dengan menu yang ringan-ringan saja, sekaligus menjadi tempat nongkrong anak muda dengan konsep berbau musik—agar sejalan dengan hobiku—itulah yang ada dalam angan-anganku selalu.
Ingin sekali aku seperti tetangga kosku, yang dagang nasi bungkus itu. Meski SD pun dia tak tamat, kutaksir pendapatannya jauh melebihi aku yang kerja selalu rapi memasukkan baju dan bersepatu pantofel berkilap. Tetanggaku berangkat jualan jam 6 sore dan baru pulang paling lambat jam 4 subuh. Baik nasibnya, tiap hari nasinya ludes. Dari sana ia bisa membayar kos, menghidupi anak-istri, memanjakan diri dengan memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Nah aku, memenuhi kebutuhan primer seorang diri saja masih kocar-kacir. Bila mau jujur, pekerjaanku hanya menang rapi.
Belum kelar aku menghayati bosannya menjadi karyawan, sore yang beku tiba-tiba pecah dan meriah. Ternyata terjadi keributan suami-istri, tetangga yang baru saja kuceritakan. Awalnya hanya cekcok mulut kemudian diikuti suara perabot dapur dibanting. Gawat, perang dunia III akan meletus! Lalu ada suara, mungkin tamparan. Ibu-beranak itu menangis. Sekonyong-konyong, seperti biasa, datang tetangga lain melerai. Si suami masih meledak-ledak memuntahkan caci-maki. Si istri ngotot tak mau kalah membela diri sambil sesenggukan.
Dari perang mulut kucerna, pertengkaran yang di dalamnya terjadi KDRT itu bermula dari suami yang menyuruh istrinya memandikan si anak yang tengah berdebu-ria. Mungkin nadanya kasar, istri tersinggung dan mengelak dengan berkata bahwa ia pun penat. Wajar saja, ia menyiapkan ratusan bungkus nasi, mulai dari memasak nasi dan lauk, sampai membungkus. Semua dilakukan seorang diri sebab si lelaki sejak datang dari berjualan ngorok hingga tengah hari. Perkara mengurus anak, jadilah mereka saling oper.
Aku tak tahu persis karena bukan orang ekonomi, tapi dari kericuhan itu aku menarik teori sederhana yaitu penghasilan yang besar berhubungan linear dengan kebutuhan tenaga dan waktu yang banyak. Bukan cuma aku, barangkali mereka pun sejak lama telah diterkam bosan. Sepanjang hari mengurusi dagangan tak ada waktu untuk yang lain. Ditambah kelelahan fisik saban hari, pikiran jadi tak keruan. Pantas saja ekspresi mereka selalu saja muram. Terkadang macam orang hendak menangis, terkadang macam ingin mengunyah manusia. Mereka tampak lebih tua dari usianya.
Kejadian itu tak pelak membuatku berpikir lagi. Setelah kutinjau ulang, dengan mengerahkan segala energi positif dalam diri, walaupun penghasilanku lebih sedikit, tiba-tiba aku merasa pekerjaanku lebih baik. Setidaknya aku bekerja hanya tujuh jam sehari, di ruangan ber-AC pula. Aku punya banyak waktu untuk keluarga karena tak ada pekerjaan yang kubawa pulang. Akhirnya untuk sementara, dengan perasaan lega—banyak yang mengatakan tampangku terlihat lebih muda dari umurku—kutunda niatku menjadi seperti tetanggaku. Aku meloncat mandi. Besok akan kuurus cuti, menghamburkannya dengan refreshing, menghalau si hantu bosan itu, mumpung ia masih kecil saja.***

Sabtu, 28 Mei 2016

Duniamu (puisi)








Ketika angin beringsut pergi
Dan cahaya dengan khidmat mengundurkan diri
Kepada siapakah hatimu yang lugu akan bernyanyi

Aku,

Menjadi duniamu selalu













Minggu, 01 Mei 2016

Sepeda Buat Anakku (cerpen)


Sekiranya ada yang bisa membuat seorang anak begitu riang gembira, hingga berbulan-bulan bahkan 365 hari, apakah yang bisa? Jika seorang anak ingin malam cepat pergi dan esok datang lebih pagi, apakah gerangan yang dinantinya? Apa pula yang membikin anak gatal kaki dan tangannya, ingin menjajal lagi dan lagi?
Adakah benda mendebarkan macam itu? Mengaku saja, Kau pasti tidak tahu karena Kau belum punya anak.
Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan, menggunakan teori dan metode yang hanya aku sendiri yang paham, aku berhasil mendapat kesimpulan bahwa benda itu, boleh percaya boleh tidak, adalah sepeda. Ya sepeda, tak lain dan tak bukan.
Hampir seluruh anak di muka bumi mempunyai sepeda. Setidaknya pernahlah mempunyai sepeda. Beberapa anak mungkin lupa pernah punya sepeda. Itu wajar karena saat dibelikan usia mereka baru satu tahun, saat itu daya ingatnya boleh dikatakan belum bisa diandalkan.
Kau sendiri pasti punya sepeda, bukan? Ingatkah Kau saat kecil, Kau begitu bersemangat menunggu ayahmu datang dari toko sepeda. Setelah sepeda itu tiba, Kau gembira tak terkira menaikinya. Malamnya Kau tidak bisa memicingkan mata, sebentar-sebentar Kau mengintip keluar, ke tempat sepeda itu disandarkan, dan Kau ingin cepat-cepat melihat matahari. Memang luar biasa sensasi memiliki sepeda baru.
Waktu kecil dulu aku juga begitu. Aku suka bersepeda. Sepeda hitam kecil itu, yang selalu menemaniku menjelajah waktu, adalah bagian dari cerita masa kecilku yang seru.
Aku ingat, saat Ebtanas hari pertama, ayahku bersabda, “Kalau Kamu lulus dengan NEM tinggi dan dapat SMP negeri, Kamu dapat hadiah sepeda baru.” Jantungku berdebar-bedar.
Seminggu kemudian EBTANAS usai, aku nyengir persis kuda memandangi pengumuman yang ditempel di depan kantor guru. Pulang dari sekolah aku diantar ayahku ke toko sepeda Surapati Selalu Di Hati, letaknya bersebelahan dengan toko kue tart. Tanpa ragu aku menunjuk sepeda laki warna abu-abu, model sepeda gunung, gigi depannya tiga (baca: gir), gigi belakangnya enam. Teknologi tercanggih kala itu, keren bukan buatan.
Aku menggunakan sepeda itu hingga SMA. Kebetulan sepeda adalah ciri khas SMA-ku. Semua murid datang ke sekolah bersepeda. Jika dulu sempat bertandang ke sekolahku, Kau pasti melihat sebuah sepeda berdiri dengan teguh, bersahaja, disiplin, dan sederhana. Di bawahnya tertera pahatan filosofis SEPEDA: SEnyum PEnuh DAmai. Kini, ketika budaya sekolah berubah, sepeda itu teronggok sendirian, tua, rapuh, murung, dan kesepian, hanya ditemani satpam.
Hari ini memang ingin sekali aku bercerita perkara sepeda. Pasalnya, setelah dua tahun kehilangan tawa karena terlalu sedih ditinggal mati ibunya, anakku kini bisa tertawa lagi. Bocah itu, yang saat ibunya meninggal baru berumur tiga tahun, aku pikir belum mengerti apa-apa terkait takdir yang menelikungnya. Namun kenyataannya dia selalu muram dan terus-menerus bertanya, kapan ibu pulang? Sampai-sampai aku kehabisan stok jawaban untuk membesarkan hatinya. Tersayat hatiku tiap kali dia bertanya.
Tetapi kini bolehlah aku bersenang hati. Perasaanku tak jauh berbeda dengan perasaan pegawai negeri menerima gaji ke 13. Anakku sekarang sudah menemukan kembali kebahagiaannya. Ia melonjak-melonjak girang, tergelak, di matanya tampak binar-binar keceriaan, dan semua itu cuma karena sebuah benda bernama sepeda.
Aku merasa bodoh karena tidak pernah terpikir bahwa sepeda mampu menjadi hiburan yang luar biasa, yang dapat menghapus memori kelabu yang telah mendekam di sanubari anakku bertahun-tahun hingga lumutan.
Ingin sekali aku berterima kasih kepada manusia berakhlak mulia penemu sepeda, Karl Drais. Saat ini anakku pasti masih dirundung duka seandainya lelaki Jerman itu tidak menciptakan sepeda, meskipun sepeda yang dibuatnya adalah versi kuno, primitif, belum modern seperti yang ada sekarang ini. Harus diakui orang-orang Jerman memang jenius di bidang mekanika, pantas saja mereka jadi juara dunia sepakbola tahun 2014 lalu setelah di final menaklukkan Argentina 1-0.
Ingin sekali aku memeluk dan menjabat tangan lelaki Taurus itu, memberinya loloh cemcem sebagai cindera mata, mengajaknya berdiskusi—mengingat dia orang jenius—tentang isu-isu hangat di dunia seperti pembajakan pesawat Egyptair, teror bom di Brussel, penyanderaan WNI oleh komplotan Abu Sayyaf, pilgub DKI Jakarta, kasus penyewaan anak-anak, terbakarnya pasar Badung dan pasar Ubud, final piala Bhayangkara, hingga tindakan tidak sportif oknum-oknum dosen yang memeras mahasiswa saat bimbingan skripsi. Ingin aku mendengar tanggapannya tentang semua hal tadi. Sayangnya laki-laki penjaga hutan itu sudah amor ring acintya 165 tahun yang lalu, jauh sebelum aku dilahirkan. Jadi cukuplah aku kirim doa saja untuk beliau.
Aku masih memandangi anakku dan teman-temannya bermain sepeda. Mereka begitu bersemangat dan berkeringat. Sesuatu mengganjal di hati, sejak tadi aku bercerita bahwa anakku bisa tertawa lagi karena sepeda tetapi aku lupa mengatakan sebetulnya dia belum punya sepeda. Dia senang melihat sepeda temannya. Meski hanya sebagai penonton, dia gembira luar biasa. Dia bersorak, berjingkrak-jingkrak, dan bertepuk tangan melihat temannya adu cepat. Ketika ia ingin mencoba, temannya tak memberi.
Anakku, yang sebentar lagi masuk TK, menghampiriku , ”Ayah, belikan nae Giyang sepeda.”
“Sepeda? Cenik gae to! Nanti ayah belikan.”
Nama anakku Gilang namun dia sendiri menyebut dirinya Giyang, hal itu karena dia, seperti anak lain pada umumnya, kesulitan melafalkan huruf L yang termasuk konsonan dental lateral. Lupa apa itu konsonan dental lateral? Coba buka lagi kitab linguistik dan fonologi, semua penjelasan ada di situ.
Anakku kembali bergabung dengan teman-temannya. Mereka bermain dengan sukacita. Hanya anakku yang tak punya sepeda. Sedihnya, tak seorang anak pun mau meminjamkannya. Jangankan meminjam, menjamah saja tak boleh. Anakku berlapang dada. Justru aku yang sesak melihatnya. Betapa anakku menginginkan sebuah sepeda. Sepeda adalah kebahagiaan terbesar seorang anak, dan bagiku, adalah kejahatan serius jika tidak mampu membelikannya.
Maka sejak itu aku bertekad membelikannya sepeda. Tetapi apa daya, uang aku tak sedia, tabungan pun tak punya. Aku memeras otak mencari pekerjaan sampingan agar ada tambahan penghasilan mengingat statusku saat ini hanya karyawan rendahan dengan gaji pas-pasan. Apapun akan kukerjakan asalkan tidak menabrak hukum. Pejabat-pejabat biarlah korupsi, oknum-oknum polisi biarlah pungli, orang lain biarlah mencuri, merampok, merampas, membegal, tapi aku sebisa mungkin tidak.
Aku berlari ke dalam rumah, menyisir seluruh ruangan bermaksud mencari barang yang sekiranya bisa dijual. Setelah diinventarisir, ternyata hanya ada tv usang, kulkas karatan, lemari yang sudah mau roboh, dan kipas angin berisik. Semua benda itu, jangankan dijual, diberikan percuma saja orang masih pikir-pikir menerimanya. Sebenarnya ada laptop lawas tetapi jika itu dijual kiprahku di dunia tulis-menulis bisa tamat.
Bukankah aku punya gitar tua? mengapa tidak mengamen saja?
Setelah bersusah-payah menguasai lagu-lagu yang lagi hits, aku langsung mencari lahan untuk mengais rejeki. Di depan warung lalapan, yang aroma sambalnya membuat orang lupa diet, aku berdiri memeluk sebilah gitar. Gayaku seperti Bang Haji. Sebenarnya malu tetapi ketika membayangkan wajah syahdu anakku menaiki sepeda baru, kepercayaan diriku melambung.
Aku mulai intro dengan kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi. Lalu lupa-lupa ingat aku mulai menyanyi, berkoar-koar lebih tepatnya. Suaraku bersaing berebut tempat dengan suara knalpot dan klakson kendaraan. Saat mau masuk reff, si pemilik warung menyetopku.
“Mas, mau nyanyi atau bunuh orang? Suara sampeyan berpotensi membuat orang kumat hipertensinya, suara sampeyan kayak suara kucing mau kawin, berisik.”
Aku cukup tahu diri suaraku memang tak sebagus Ray Peni, pelantun lagu Takut Jak Bojog itu, tetapi masa disamakan dengan suara kucing mau kawin? Dasar tukang ulek sambal, tahu apa Kau tentang seni? Hari itu menjadi kali pertama sekaligus kali terakhir aku berkiprah di dunia tarik suara jalanan.
“Ayah, jadi beli sepeda?” anakku menagih janji beberapa hari berikutnya. Aku panik seperti mahasiswa semester enam belas ditanya kapan wisuda. Batinku tertekan persis bujang lapuk 40 tahun ditanya kapan nikah.
Kembali aku memutar otak. Aku tanya ke sana-kemari, kiri-kanan, membaca lowker di koran, kira-kira apa yang bisa kukerjakan untuk menambah pendapatan, agar cita-citaku segera terealisasi: membelikan sepeda yang bisa membuat anakku semata wayang selalu tersenyum.
“Ikut ojek online aja, bro!” temanku memberi saran. Cemerlang. Ide itu kusambut baik. Aku langsung mengorek informasi dimana bisa mendaftar dan apa saja persyaratannya. Setelah semua kuperoleh dan kulengkapi, kuajukan lamaran.
Semua baik-baik saja saat berkas-berkasku diperiksa tetapi ketika masuk tahap pemeriksaan fisik kendaraan, kening si petugas berkerut. “Pak, serius ini motornya? Kok butut begini? Ini seharusnya sudah dipajang di museum, Pak. Mohon maaf, lamaran Anda tidak dapat saya proses lebih lanjut pasalnya motor Anda tidak memenuhi standar kami.”
Waduh kalau ngomong jangan sembarangan. Memangnya motor saya benda purbakala ditaruh di museum? Dasar tak tahu adat. Untung di republik ini ada hukum, kalau tidak, sudah kureklamasi mulutmu, omelku tapi dalam hati saja. Sebenarnya takut juga aku berkelahi dengannya.
Berkarir jadi tukang ojek gagal.
Tapi memang tepat kata pepatah, Tuhan selalu membuka jalan untuk mereka yang berniat mulia. Karena menyenangkan hati anak dapat dikategorikan mulia, Tuhan pun membukakan jalan untukku. Entah bagaimana, setelah mengalami pengusiran dan penolakan sana-sini, aku berhasil mengumpulkan cukup dana.
Pada hari yang istimewa itu meluncurlah aku ke toko sepeda Surapati Selalu Di Hati, yang letaknya bersebelahan dengan toko kue tart, tempat dulu ayahku membelikanku sepeda. Meski sudah tak sabar, aku tak mau tergesa-gesa. Kupilih sepeda dengan cerdas dan cermat macam memilih presiden.
Setelah hampir dua jam melihat-lihat, akhirnya kutetapkan pilihan pada sebuah sepeda mungil warna hitam, ada cakram dan suspensinya bak sepeda motor, gagah bukan buatan. Secara keseluruhan sepeda itu terkesan riang, elegan, dan tangguh. Aku begitu bergairah sampai-sampai penjualnya kusangka Karl Drais, si mister penemu sepeda itu, aku memeluknya lama dan menjabat tangannya erat sekali.
Dalam perjalanan pulang aku bersiul-siul. Tak jelas nadanya memang, yang jelas hatiku terasa lega, plong, sebab hari ini hutangku lunas tandas. Hidup terasa ringan tiada beban. Dunia berwarna-warni indah tak terperi. Tak peduli kantongku jebol, amblas. Tak hirau sekujur tubuh memar pontang-panting mengumpulkan uang. Aku merasa terharu sekaligus puas dan bangga terhadap diriku sendiri. Aku adalah seorang ayah pemenang, yang memenangi hati anaknya.
Sesekali aku melirik ke belakang memastikan sepeda hitam dengan dua roda bantuan di kiri-kanannya itu masih ada di sana. Aku bisa membayangkan wajah terpesona anakku, senyum lebarnya, pancaran semangat mata beningnya. Lalu kami akan sama-sama memreteli plastik-plastik gelembung yang membungkus sepeda itu. Belum apa-apa aku sudah heboh sendiri.
Aku masih beberapa meter dari rumah, anakku sudah menyongsong. Dia hapal di luar kepala suara mesin motorku seperti anak kucing yang kenal betul suara induknya. Aku yang akan memberi kejutan tetapi aku sendiri yang berdebar-debar, itulah sensasi kejutan. Sebentar lagi ia akan terbelalak melihat apa yang aku bonceng di belakang seperti melihat benda ajaib dari negeri dongeng.
“Gilang, lihat ayah bawa apa untukmu?” aku menunjuk sepeda sembari memamerkan senyuman terlebar yang aku miliki.
Anakku menoleh ke belakangku. Lalu begitu saja, tidak terjadi apa-apa, tidak ada respon. Ekspresinya biasa saja seolah-olah apa yang kubawa tidak berkesan buatnya. Aku turunkan sepeda itu, rasa penasaran menggelayutiku.
“Kamu tidak suka ya? Bukannya Kamu mau sepeda? Lihat, ada kliningannya. Bocah-bocah pelit itu pasti berebutan ingin meminjamnya, jangan diberi! Bikin mereka tahu rasa.”
“Giyang tidak mau sepeda, Ayah.”
Aku tercengang, bingung dengan apa yang terjadi. Aku sentuh dahinya, 36,2 derajat Celcius,  tidak panas, kuamati badannya, adakah ia baik-baik saja?
“Ayah, Giyang tidak mau sepeda.”
“Lalu?”
“Giyang mau adik.”
Hah? Aku terperanjat! Motorku hampir saja oleng. Siapa yang mengajarinya berbicara seperti itu? Mengapa tiba-tiba ia menginginkan adik? Apakah lantaran itu ia bermuram durja selama ini? Aku tertegun dan berpikir lama sekali. Bukan memikirkan bagaimana cara memberinya adik melainkan bagian mana yang salah dalam penelitianku itu.***