Minggu, 06 Desember 2015
Senin, 30 November 2015
DORRR!!! (cerpen)
Adalah
Briptu Jabrik, penembak satpam yang bertugas menjaga komplek pertokoan di
sekitar jalan Teuku Umar. Sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengannya tapi aku
sering melihatnya melintas di depan tempatku berjualan. Dia, bisa dibilang,
adalah orang yang dibayar untuk menjaga keamanan di wilayah komplek. Mungkin
itu pekerjaan sampingannya selain menjadi anggota brimob. Sesekali memang dia
pernah makan di warungku. Dari pertemuan
yang sesekali itu aku sudah bisa membaca tabiatnya. Dia arogan dan
sok berkuasa. Gaya berdirinya berkacak pinggang. Suaranya keras dan kasar. Sorot
matanya selalu penuh amarah, seakan-akan hendak memakan orang. Aku yakin orang
yang berpapasan dengannya pasti takut menatap matanya. Dia pemabuk kelas berat.
Saat malam minggu, hari raya, atau hari libur, dia selalu berkumpul bersama
temannya sesama peminum menenggak miras alias minuman keras di sekitar komplek.
Saking seringnya mabuk, keringatnya jadi bau alkohol. Jika dia dan
teman-temannya sudah mabuk, aku buru-buru menutup warungku. Aku tidak ingin
warungku diobrak-abrik dengan alasan ini-itu padahal sebenarnya mereka
hanya ingin makan gratis.
Tentang
rumah tangganya aku juga tidak terlalu tahu. Dari orang-orang kudengar dia
sudah beristri dan anaknya dua, tapi aku tak pernah melihat Briptu Jabrik
datang ke komplek bersama istri dan anaknya. Justru dia sering kulihat
membonceng wanita-wanita yang selalu berbeda, dengan dandanan seksi seperti
penyanyi dangdut. Wanita-wanita itu akan menemani Briptu Jabrik minum hingga
teler, setelah teler mereka pergi entah kemana. Dari orang-orang juga kudengar
bahwa Briptu Jabrik tidak disukai di lingkungan tempat tinggalnya. Dia suka
ngebut di gang rumahnya yang banyak anak-anak. Anak-anak pasti berlari tunggang
langgang jika melihatnya. Dia juga suka mengacung-acungkan pistol dengan gaya
seperti preman sehingga sering membuat warga resah.
Sedangkan
Ronny, satpam yang ditembak Briptu Jabrik adalah orang Flores. Aku sangat
mengenalnya. Hampir tiap hari dia makan di warungku. Dia suka menu masakan Bali
yang kujual. Dia kos dekat warungku juga sehingga dia suka nongkrong di
warungku saat tidak sedang bekerja. Dia masih muda, umurnya 25 tahun. Dia baru
dua bulan bekerja di komplek. Seperti orang Flores kebanyakan, Ronny bertubuh
agak gelap, tidak terlalu besar namun keras berotot, rambutnya keriting, dan
logat bicaranya jelas sekali mencirikan daerahnya. Meski badannya tidak besar,
tapi Ronny punya nyali yang besar. Satpam tidak mungkin tidak bernyali. Beberapa
hari sebelum ditembak mati oleh Briptu Jabrik, ia sempat meringkus dua pemuda
berandal yang hendak mencuri helm di parkiran komplek tempat ia berjaga.
Sebelum
bekerja di Bali, Ronny bekerja di Batam, di pabrik ban. Dua tahun dia bekerja
di sana. Ketika pabrik ban tersebut bangkrut banyak yang di PHK. Ronny termasuk
karyawan yang di PHK. Akhirnya dia memutuskan pulang dulu ke kampung halamannya
bertemu dengan istri dan seorang anak laki-lakinya yang baru berumur dua tahun.
Sula namanya. Dia sering bercerita tentang anaknya. Terkadang jika istrinya
mengirim foto di handphonenya, dia
langsung memperlihatkannya padaku. Dia sangat menyayangi anaknya. Suatu ketika
dia pernah bercerita bahwa dia ingin membelikan sebuah mainan untuk anaknya,
tapi sampai saat ini belum bisa dia lakukan karena uang gajinya kurang. Sedih
aku mendengarnya.
Saat
hari naas itu terjadi, 3 hari yang lalu, setauku Ronny sedang piket sore. Tapi aku
tidak melihatnya. Saat itu tanggal merah karena hari raya jadi kebanyakan
kantor tutup. Daganganku sepi. Aku duduk ngopi dan merokok di depan warung.
Briptu Jabrik dari tengah hari sudah kulihat minum bersama teman-temannya.
Beberapa wanita juga kulihat di sana. Seperti biasa, dandanannya mencirikan
mereka pasti bukan wanita baik-baik. Daganganku masih banyak jadi aku tidak
ingin buru-buru tutup. Menjelang malam mereka bubar. Suara motor-motorpun
menderu memekakkan telinga. Botol-botol ditinggalkan berserakan. Dalam sekejap
mereka lenyap entah kemana. Cuma Briptu Jabrik yang lewat di depan warungku. Di
pos yang dijaga Ronny dia berhenti. Tampaknya
pos kosong. Kemana gerangan Ronny? Briptu Jabrik berkacak pinggang dan tampak
marah. Wajahnya merah, mungkin karena mabuk. Dia menghisap rokok di mulutnya dalam-dalam
sampai habis. Apinya membara dan asapnya mengepul tebal seakan-akan
menggambarkan hawa kemurkaan yang melanda. Ditendangnya kursi plastik yang ada
di depan pos sampai patah jadi tiga. Tak lama kemudian Ronny muncul.
“Anjing!!
Kemana Kamu tadi? Kenapa pos dibiarkan kosong?!!” bentak Briptu Jabrik. Matanya
mendelik, tangannya mengepal seperti hendak meninju.
“Saya
ke toilet Pak. Dari kemarin mencret, jadi bolak-balik ke toilet Pak.” Jawab Ronny
polos. Kalau orang lain pasti menunduk tidak berani menatap. Tapi Ronny tidak.
Dia menatap Briptu Jabrik dengan tenang. Mungkin merasa ditantang, Briptu
Jabrik semakin beringas.
“Kamu
menantang saya?!! Jangan sok jagoan Kamu ya!!!” Briptu Jabrik berteriak sambil
menunjuk hidung Ronny.
“Tidak
Pak, saya bukan jagoan.” Ronny mulai kelihatan agak gentar.
“Push up Kamu!!! 100 kali, sekarang!!
Cepaatt!!” Briptu Jabrik mulai hilang kesabaran. Aku berdiri kurang lebih 20
meter dari mereka, ragu antara ingin melerai atau kabur. Ternyata beberapa
teman Ronny juga ada yang melihat namun takut melerai. Aku lambaikan tangan ke
arah Ronny. Aku beri kode dengan maksud agar Ronny tidak melawan. Si briptu
sialan itu sangat nekat. Apapun bisa dia lakukan apalagi otaknya dalam pengaruh
alkohol. Tapi sayang sekali Ronny tidak melihatku.
“Atas
dasar apa Bapak menghukum saya?”
“DORRR!!!” Terdengar suara ledakan.
Moncong
pistol Briptu Jabrik berasap. Ternyata pelatuk pistol sudah ditarik. Ronny
tersungkur sambil memegang dadanya yang bersimbah darah. Kemudian dia tidak
bergerak. Kasihan Ronny. Dia orang baru, dia belum mengenal Briptu Jabrik. Aku
terkesima. Orang-orang kaget. Briptu Jabrik mengambil motornya dan pergi
secepat kilat. Orang-orang mulai mendekat.
Akhirnya
aku tiba di rumah. Aku ceritakan tentang pemeriksaan di polsek tadi kepada
istriku. Sejak kejadian itu aku belum membuka warungku. Istriku melarangku. Dia
takut statusku yang menjadi saksi membahayakan diriku. Aku tonton di televisi,
Briptu Jabrik sudah diamankan. Dia menyerahkan diri di markas brimob tempat dia
bertugas. Semua masyarakat berkomentar agar Briptu Jabrik dihukum mati saja
karena tingkahnya yang seperti binatang. Atau paling tidak dihukum seumur
hiduplah. Ronny yang tewas di tempat saat kejadian, jenasahnya sudah dikirim ke
keluarganya di Flores. Kasihan istrinya. Kasihan Sula, dia baru berumur 2 tahun
dan harus menjadi yatim.
Minggu, 22 November 2015
Perjalanan ke Pura Luhur Lempuyang (cerpen)
Denpasar, pukul 17.45 Wita.
Seperti
biasa, Mang Ayu datang terlambat. Aku, Menung, Ulum, dan adiknya-Herlin-mulai
gelisah menunggu. Sudah 45 menit lewat dari waktu yang disepakati. Gerimis
mulai meramaikan Denpasar di sore hari. Sudah dua bulan kami merencanakan
perjalanan ini, aku sudah saking semangatnya hingga tak betah lagi menunggu.
Sesaat
kemudian muncul sebuah kendaraan di depan kami. Seiring suara klakson, kulihat
samar-samar tiga orang di dalamnya. Mereka adalah Mang Ayu, Gus De, dan Mia.
Setelah melontarkan sedikit umpatan, kami berebut masuk ke mobil. Dan, seperti
biasa lagi, Mang Ayu hanya terkekeh tanpa rasa bersalah.
Tujuan
kami jelas: Pura Lempuyang. Mobil mulai merambat menyusuri kota Denpasar yang
mulai gelap. Di mobil ini akan ada delapan orang. Di depan ada Mang Ayu, teman
sekerjaku, dan Gus De, pacar Mang Ayu sekaligus sopir pada perjalanan ini. Di
bagian tengah ada Mia, Ulum, dan Herlin. Sama seperti Mang Ayu, Ulum adalah
teman sekerjaku. Herlin adalah adik Ulum dan baru saja menamatkan sekolah
menengahnya. Sedangkan Mia adalah tetangga Mang Ayu.
Aku
sendiri duduk di bagian belakang bersama Menung. Dulu dia teman sekerjaku,
namun sekarang mencoba mencari penghasilan di tempat lain. Belakangan aku tahu
ternyata Menung dan Mia satu tempat kerja. Pun Mang Ayu, Ulum, Mia, dan Menung
dulunya satu sekolah. Itulah yang membuat kami langsung akrab meski baru sekali
berkumpul bersama.
Di
utara Pura Jagatnatha, kami berhenti untuk menjemput orang ke delapan. Dia
adalah atasanku, yang tentu juga atasannya Ulum, dan Mang ayu. Kami
memanggilnya Pak Gede. Seorang bujang yang betah melajang hingga umurnya 34
tahun. Badannya kekar dan perutnya besar. Hobinya adalah makan dan jalan-jalan.
Tanyakan padanya tentang kuliner dan obyek wisata, tiga hari tiga malam dia
akan meladenimu. Setelah genap semuanya, kembali mobil dipacu menuju Pura
Lempuyang.
Kaki
Gunung Lempuyang, pukul 20.45 Wita.
Setelah
hampir tiga jam perjalanan kami pun sampai di kaki Gunung Lempuyang. Hujan
gerimis ternyata mengikuti sampai di sini. Rasa dingin serta merta menjilati
tubuhku yang kurus. Seorang bapak berusia 30 tahunan berlari ke arah kami.
Alih-alih pecalang ternyata bapak itu
adalah tukang suun yang menawarkan
jasa membawakan barang atau banten sampai ke puncak. Berhubung bawaan kami
sedikit, kami pun menolaknya. Bapak itu beringsut pergi begitu saja. Langkahnya
canggung dan raut mukanya ganjil. Aku merasa agak takut.
Mobil
hanya boleh sampai di sini, maka untuk selanjutnya kami harus meneruskan
perjalanan dengan berjalan kaki. Pura pertama adalah Pura Penataran. Gerimis
masih setia menemani membuat Pak Gede mengeluarkan payungnya saat kami menapaki
satu persatu anak tangga menuju pura di kaki Gunung Lempuyang ini. Seusai
berdoa, gerimis berubah menjadi hujan deras. Sesuatu yang tidak kami bayangkan.
Konflik mulai terjadi di antara kami. Mang Ayu yang merasa tidak nyaman pada
perutnya ingin agar perjalanan dilanjutkan keesokan harinya. Malam ini makemit di wantilan
saja. Sedangkan aku dan Pak Gede ingin perjalanan ini dilanjutkan. Karena
jika dilakukan besok maka rahinan sudah
lewat. Selain itu tidak ada yang bisa menjamin bahwa esok tidak akan hujan.
Akhirnya
Mang Ayu mengalah. Diambil jalan tengah. Untuk menuju pura berikutnya, Pura
Telaga Mas, yang berjarak kurang lebih dua kilometer dari Pura Penataran, dia
dan Gusde akan menumpang ojek.
Aku
dan lima orang lainnya berjalan lambat-lambat membelah jalan menanjak beraspal
yang gelap. Gerimis turun silih berganti membasahi tubuh. Angin dingin
menampar-nampar wajahku hingga ke tulang-tulangku. Tanganku gemetar menahan
senter yang kuarahkan menerobos kabut yang pelan-pelan menguasai jalan,
menghalau pandangan.
Mia
berkali-kali kehilangan sandal licinnya. Dia tidak menyangka akan menempuh
perjalanan seperti ini sebab ini adalah kali pertamanya dia ke Lempuyang.
Di
tengah suara angin yang bersiut-siut aku mendengar ringisan. Ringisan dari
seorang gadis yang ternyata adalah Herlin. Gadis itu membekap tangannya di dada
dan langkahnya berat. Berkali-kali aku melihatnya hampir roboh. Kepada kakaknya
dia mengeluh tidak mau lanjut. Dia ingin pulang.
Ulum
serta merta emosi. Dia sudah mewanti-wanti adiknya untuk tidak ikut karena
perjalanan ini tidak akan mudah. Namun Herlin tetap memaksa ikut. Karena itulah
Ulum tidak mau menaruh kasihan pada adiknya. Untuk mencairkan suasana, aku,
Menung, dan Pak Gede kompak menyemangati Herlin agar bertahan.
Empat
puluh menit kemudian kami tiba di Pura Telaga Mas. Terdengar gemericik air
karena di sebelahnya adalah beji. Di
sebuah warung yang kosong ditinggal pemiliknya kulihat Mang Ayu dan Gus De
sudah menunggu. Seusai sembahyang di Pura Telaga Mas kami tidak langsung
meneruskan perjalanan. Di sebuah balai tak jauh dari situ kami membongkar
perbekalan. Makanan yang kami bawa sebenarnya biasa saja: ketupat, ayam goreng,
telur, sate, tempe goreng manis, dan serundeng. Tapi semua terasa nikmat saat
dimakan bersama. Perut kenyang, perjalanan kami lanjutkan. Obor dinyalakan
karena jalan akan lebih gelap dan dua senter tidak akan cukup.
Gerimis
sudah tak terasa lagi namun kabut semakin pekat. Suara angin dan suara binatang
malam menemani langkah kami. Sekali-kali aku melihat titik-titik cahaya di
antara pepohonan, redup-terang mengintai. Rupanya itu kunang-kunang.
Sebenarnya
kami boleh saja memilih jalur aman dan cepat untuk sampai ke puncak. Tapi jika
itu dipilih maka kami akan melewatkan tiga pura. Kami tidak ingin kehilangan
satu bagian pun, karena itu kami memilih jalur ke kanan di sebuah persimpangan.
Jalur ini akan membawa kami ke Pura Telaga Sawangan, Pura Lempuyang Madya, dan
Pura Pucak Bisbis. Jalannya sangat tidak bersahabat. Tidak ada anak tangga
untuk dipijak. Yang ada adalah jalan setapak yang becek, licin, dan gelap penuh
lumpur. Di kiri-kanannya, pohon-pohon berkerosok liar dan mendirikan bulu
sekujur tubuh, membayangkan seakan-akan sesuatu akan melompat keluar dan
mencabikmu tanpa mampu melawan. Mahkluk itu ada di sekitar kami, mendesis-desis
memamerkan taring tajamnya karena terganggu istirahatnya. Mereka adalah primata
penghuni Gunung Lempuyang: kera abu-abu.
Lepas
dari kepungan kera abu-abu, jangan senang dulu Kawan! Di antara guguran daun
yang mulai membusuk terdapat kehidupan. Makhluk kecil, sebiji beras, kenyal,
dan menjijikkan, siap menghisap darah di sela-sela jari kakimu, di betismu,
bahkan di lehermu! Jangan berdiri terlalu lama di satu tempat atau memegang
pohon sembarangan, karena ratusan pacet akan dengan senang hati menempelkan
diri, meraba-raba mencari pembuluh darah untuk kemudian disedot hingga tubuhnya
kembung sebiji rambutan. Dan sialnya itu menimpa diriku. Dua kali pacet-pacet
kenyal itu hinggap di punggung kakiku, memaksaku mendonorkan darah.
Aaiiiihhhh!!! Ini bukan soal kehilangan darah. Sejak dulu, entah kenapa, aku
sangat takut atau lebih tepatnya jijik dengan hewan-hewan melata yang kecil,
merayap, kenyal, dan gelap. Hal serupa dialami Mia dan Gus De. Seekor pacet
masing-masing menempel di tangan mereka. Kontan Mia berteriak sembari
mengibas-ngibaskan tangannya membabi buta dengan harapan pacet itu terlempar
dari tangannya. Namun sia-sia. Laksana Spiderman, pacet itu erat melekat tak
bergeming. Mia baru berhenti berteriak setelah Gus De dengan tenang melepas
pacet tersebut dengan kayu.
Di
tengah kegelisahan kami akan pacet dan kera abu-abu, terjadi hal menggelikan.
Ulum yang sejak tadi tampak serius tiba-tiba terpeleset jatuh mencium tanah.
Meledaklah tawa di antara kami. Begitu pula Mang Ayu. Ia terjungkal ketika
kakinya tidak menemukan pijakan yang pas. Tangannya penuh lumpur. Kainnya
tercabik. Kotak yang berisi bekal makanan yang ditenteng Mang Ayu, terlempar.
Tumpah ruahlah seluruh isinya. Sendok-sendok berhamburan, dan sepotong besar
daging ayam menggelinding entah kemana. Alih-alih menolongnya kami kembali
tertawa terbahak-bahak. Mang Ayu hanya bisa tersenyum kecut sembari memunguti
benda-benda yang berhamburan.
Akhirnya
kami sampai di jalan yang landai yang bermuara di tangga utama. Ini berarti
puncak sudah semakin dekat. Mengetahui hal itu, aku makin semangat. Benar saja,
beberapa menit berjalan kami sampai di Pura Pasar Agung, pura terakhir sebelum
Pura Luhur Lempuyang. Pura dengan nama yang sama juga aku temui di Pura
Andakasa dekat Padang Bai sana.
Pura
ini dikelilingi warung-warung kosong. Kuat dugaanku warung-warung ini hanya
buka saat odalan. Tempat
sembahyangnya tidak begitu luas, hanya sepetak tanah yang paling menampung
10-15 orang, mungkin 25 orang kalau dipepet-pepetkan.
Setelah
selesai di Pura Pasar Agung, perjalanan dilanjutkan ke pemberhentian terakhir:
Pura Luhur Lempuyang. Tak terasa sudah pukul dua pagi. Mataku mulai lelah.
Punggungku nyeri dibebani tas yang lumayan berat. Kepalaku pening karena
disiram gerimis dari tadi. Langkahku gontai. Aku terhuyung-huyung. Berkali-kali
aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Uap tebal menyembur dari
mulut dan hidungku layaknya orang merokok.
Mendekati
puncak suasana menjadi gaduh. Suara angin bersiut-siut keras menerabas
pohon-pohon besar yang tidak aku ketahui namanya. Ranting-rantingnya bergoyang
cepat, bergesekan menimbulkan suara gemerosok. Kabut-kabut muncul-tenggelam
dihempas angin. Aku menengadah menatap langit. Tidak tampak bintang-bintang.
Bulan yang seharusnya bersinar penuh pun enggan muncul. Aku bergidik menahan
dingin. Lalu dari balik lebatnya pepohonan aku melihat sinar mencurigakan.
Seberkas sinar kuning dari lampu di ketinggian. Aku tak ingin salah lihat. Aku
harap ini nyata. Maka aku percepat langkahku menyalip Gus De, Mang Ayu, Ulum,
Herlin, Mia, dan Pak Gede yang ada di depanku. Senyumku mengembang menjadi
tawa. Aku angkat kedua tanganku tinggi-tinggi laksana peserta balap lari
mencapai garis finish. “ Kita
sampai!!!!!!!”
Tuntas
sudah perjalanan ini. Herlin tampak terharu mendapati dirinya mampu mencapai
puncak. Kami puas dan lega meski badan kami remuk redam akibat kelelahan.
Di
puncak ini ternyata kami tidak sendiri. Puluhan orang yang tiba lebih dahulu
dari kami terlihat menyesaki sebuah bangunan teduh di jaba pura. Beberapa di antaranya tampak masih ngobrol, beberapa yang
lain tampak sudah tidur. Untuk menangkal dingin, mereka yang tidur membungkus
tubuh mereka dengan kain dari ujung kaki hingga ujung rambut. Persis mayat
selesai dimandikan.
Gerimis
mulai turun lagi, aku bergegas menyusul yang lain mendaki tangga menuju jeroan Pura Luhur Lempuyang. Beberapa
orang yang juga tiba lebih dulu terlihat bersila menghadapi pelinggih suci maha
agung ini. Pak Gede, Mia, dan Mang Ayu langsung mempersiapkan banten untuk
dipersembahkan ke hadapan Sang Hyang Widhi Sang Pencipta Alam nan mulia.
Akhirnya
kami berdelapan mengambil tempat menekuri canang
dan dupa masing-masing. Kami memusatkan pikiran meresapi keagungan Tuhan.
Kepala kami tertunduk menyadari betapa kecilnya kami di hadapan Beliau.
Lelah,
gerimis, hawa dingin, pacet, semua terlepas dari pikiran kami. Yang tersisa
hanyalah keinginan melepas semua hal keduniawian dan menyatu dengan Brahman. Nyaring suara genta dan
semerbak wangi dupa mengiringi mantra-mantra Puja Tri Sandhya dan Panca
Sembah yang seakan menggema hingga ke langit ke tujuh menuju nirwana.
Minggu, 15 November 2015
Malam Pertanda (cerpen)
Malam menjelang tahun baru selalu terasa lebih dingin dibandingkan dengan malam-malam yang lain. Seperti malam ini, dua hari menjelang pergantian tahun, sengatan dingin bagaikan jarum runcing yang menghujam tubuh hingga ke tulang. Angin menghembuskan aroma basah dan lembab. Langit gulita sebab bulan bersekutu dengan gemintang, menyembunyikan diri di balik awan mendung yang setia merintikkan gerimis sejak pagi. Sesekali terdengar gemuruh, menggema seperti dengkur raksasa dalam goa. Selebihnya sunyi, katak pun tak berbunyi. Dunia seakan-akan bungkam, merahasiakan suatu bencana yang kelam.
Malam itu Rasmin sendirian di rumahnya yang hanya diterangi cahaya lilin. Dua hari sebelumnya petir menghancurkan pembangkit tenaga listrik. Rumah Rasmin terkena pemadaman bergilir. Rasmin menarik selimut sampai ke leher, berusaha menghalau dingin yang meradang. Matanya terpejam dalam kamarnya yang temaram, akan tetapi entah kenapa pikirannya gelisah. Berkali-kali ibu tua itu menggosokkan minyak penghangat pada kakinya yang keriput, mengendus-endus aromanya, yang ia anggap mampu menenteramkan hati. Namun gagal. Gelisah tak kunjung hilang, lelap tak juga datang. Ada apa gerangan, batinnya.
“Tok, tok, tok.” tiba-tiba terdengar suara ketukan di sela-sela suara rintik hujan, pelan dan ragu. Rasmin terkesiap dan membuka mata. Masih berbaring, ia menajamkan pendengaran, meyakinkan diri bahwa benar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Kepalanya diam, hanya bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan.
“Tok, tok, tok.” suara itu muncul lagi, terdengar sama, pelan dan ragu. Rasmin langsung terduduk, kali ini ia yakin seseorang mengetuk pintu rumahnya. Tapi siapa yang datang pada malam gerimis, gelap, dingin, dan sepi seperti ini? Tak mungkin Mang De. Ia kerja shift malam dan baru akan pulang besok pagi. Setelah mengikat rambutnya yang penuh uban, ia keluar kamar.
“Siapa?”
Hening, tak ada yang menyahut.
“Siapa di luar?” Rasmin mengulang bertanya. Seakan bertanya pada malam, tak ada balasan. Kemudian ia mengintip dari celah pintu. Keningnya berkerut. Jantungnya berdebar. Ketakutan menjalar di pikirannya. Dalam keremangan ia melihat bayangan sesosok wanita dengan kepala tertunduk berdiri di sana. Rasmin merasa mengenalnya. Pintu dibuka.
“Ketut?” Rasmin memandang tak percaya pada wanita yang sekarang ada di depannya. Wanita yang tak lain adalah anaknya. “Ketut, kamukah itu? Mengapa datang malam-malam seperti ini? Kau sendirian? Ayo masuk, Nak.” Rasmin menarik lengan wanita itu dan mengundangnya masuk. Keadaannya sangat berantakan. Wanita itu berjalan tertatih-tatih. Rasmin menuntunnya hingga ke ruang makan. Begitu ringan seolah-olah menuntun angin. Mereka berdua kemudian duduk di kursi kayu dibatasi sebuah meja yang juga terbuat dari kayu dengan penerangan lilin di atasnya.
“Tut, ibu terkejut kamu datang. Kamu dari mana? Kenapa datang tanpa berkabar sebelumnya? Badanmu basah kuyup, kau kehujanan? Kau celaka?” Ketut tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ibunya. Ia hanya menunduk. Rambutnya penuh pasir, acak-acakkan, dan lepek karena basah. Pakaian kerjanya juga basah. Wajahnya memancarkan suatu keanehan ketika diterpa cahaya lilin. Raut wajah yang menyiratkan sakit, takut, dan sedih. Begitu pucat. Seolah-olah ingin menangis. Badannya menyemburkan aroma asin dan amis. Keadaannya terlihat seakan-akan ia baru saja tercebur ke laut. Tangannya mendekap dada tanda teramat dingin yang dirasakan. Rasmin memperhatikan anaknya dengan bingung. Rasmin mengira Ketut pasti mengalami kecelakaan, akan tetapi tidak ada segores pun luka di tubuhnya. Sungguh misterius.
“Nak, ada apa denganmu? Tidak seperti biasanya kamu datang tanpa memberi kabar. Dimana suamimu? Apakah kamu ada masalah di tempat kerja? Katakanlah.” Rasmin merasa bingung, heran, sekaligus khawatir melihat keadaan Ketut yang berantakan.
“Dingin… Dingin, Bu. Dingin sekali....” Ketut akhirnya bicara. Setengah berbisik. Ia menunduk, tangannya bergetar mendekap dada. Suaranya begitu pelan, lemah, dan menggigil.
“Oh ya Nak, pakaianmu basah, gantilah dulu di kamar. Ibu akan membuatkanmu teh hangat.” Ketut tidak menghiraukan perkataan ibunya. Ia diam membisu. Menunduk dengan tatapan lemah seakan tanpa nafas.
Rasmin bergegas ke dapur, menjerang air, kemudian menyeduh segelas besar teh hangat. Dalam hatinya berkecamuk banyak pertanyaan. Rasa penasaran menyundul-nyundul hatinya. Ketut tidak mungkin mengambil cuti dan pulang ke Bali menjelang tahun baru karena jadwal kerjanya pasti padat. Kalau pun memang libur, tidak mungkin ia datang pada malam seperti ini, sendirian pula.
“Minumlah teh ini selagi hangat.” Rasmin menyodorkan teh yang baru ia buat untuk Ketut. Ia melihat Ketut tidak mengganti pakaian. Dengan bimbang ia pergi ke kamar untuk mengambil selimut. Kemudian ia menyelimuti tubuh anaknya. “Tut, kau tidak apa-apa kan? Mengapa kau diam saja, katakanlah sesuatu.” Rasmin menatap wajah Ketut penuh selidik. Ketut tidak menjawab. Rasmin menghela nafas. Ia berdoa semoga anaknya baik-baik saja. “Kalau begitu minum tehmu.” Setelah itu sepi dan diam. Hanya api lilin yang bergoyang-goyang digoda angin yang menyelinap ke dalam rumah. Menari-nari dalam sunyi. Rasmin tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi sementara Ketut diam seribu bahasa. Ia pun diam dan menunggu.
Ketut adalah anak keempat Rasmin dan ia anak perempuan satu-satunya. Jiwa merantau mengalir dalam darahnya. Setelah tamat SMA, ia pergi ke Jogja untuk melanjutkan kuliah. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Surabaya. Profesi yang ia geluti membuatnya selalu berurusan dengan pilot. Hingga akhirnya ia pun bersuamikan seorang pilot. Meski tinggal di Surabaya, Ketut sering pulang ke Bali, ke tanah leluhurnya, bersama suami dan kedua anaknya. Namun kali ini sangat berbeda. Ketut datang tiba-tiba, seorang diri, pada malam dingin dan bergerimis, dalam keadaan berantakan.
Waktu terus berjalan, rasa kantuk mulai menghinggapi Rasmin. Menggantung di kelopak mata sehingga terasa berat. Rasmin menyerah, ia mengajak Ketut beristirahat. “Ketut, mungkin kau lelah. Tak mengapa jika kau tidak mau bicara. Ibu juga sudah mengantuk. Sekarang tidurlah dulu. Besok kau harus menceritakan pada ibumu ini apa yang sesungguhnya terjadi. Ayo nak, tidurlah bersama ibu.” Ketut tetap membisu, tidak berkata-kata, mematung tidak bergerak. Wajahnya begitu sendu. Ada tangis yang tertahan, ada cerita yang terpendam, dan misteri yang tersembunyi.
Rasmin yang tua, Rasmin yang keriput, Rasmin yang khawatir, Rasmin yang penasaran, Rasmin yang malang, ia tertidur di kursi kayu menunggui anaknya. Malam semakin larut dan gelap pekat, lilin meleleh semakin pendek, gerimis belum juga berhenti. Awan-awan mendung bertabrakan mengeluarkan suara gemerudug yang menggema di langit, memainkan tabuh kematian.
“Krriiiiingg…. Krrriiiinng….!” telepon rumah Rasmin berdering. Lama tak henti-henti. Rasmin terkesiap membuka mata. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi.
“Ketut? Ketut mana?” Rasmin bertanya dalam hati. Ia menebarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ketut tidak ada. Hanya ada selimut basah di tempat Ketut duduk semalam dan lilin yang sudah padam tak berbentuk serta segelas besar teh yang sudah dingin di atas meja. Masih penuh, tak berkurang sedikit pun.
“Krriiiingg… Krriiingg…!” bunyi telepon melengking memanggil-manggil. Rasmin segera mengangkatnya.
“Halo?” sapa Rasmin dengan suara serak.
“Bu! Ketut, Bu!” seorang lelaki berteriak dan menangis histeris di telepon seberang.
“Ini Mang De? Ada apa dengan Ketut, Mang? Kenapa kamu menangis?” Rasmin bertanya dengan gusar. Perasaannya langsung tidak enak. Jantungnya berdegup kencang. Matanya kesana-kemari mencari Ketut. Ia ada di sini tadi malam.
“Pesawatnya Ketut jatuh ke laut, Bu. Ketut mati, semuanya mati” Mang De menangis meraung-raung.
Rasmin tidak percaya akan tetapi air mata mulai mengalir dari kedua matanya. “Tidak mungkin, Mang. Tidak mungkin Ketut mati. Dia di sini tadi malam bersama ibu.”
“Ketut mati, Bu.” Suara tangis Mang De sangat memilukan. Suara tangis kehilangan. Rasmin tidak bertanya lagi. Badannya bergetar. Nafasnya pendek-pendek, dadanya kembang kempis. Tangisnya pun meledak dan air matanya tumpah. Ia jatuh terduduk. Terkulai lemas. Gagang telepon terlepas dari genggamannya.
“Ketuuut... Tidak mungkin… Tidak mungkin…” Rasmin menangis tersedu sedan meratapi kepergian anaknya yang tiba-tiba, antara sedih dan tak percaya. Lalu siapa yang datang tadi malam? Benar-benar kenyataan yang mengenaskan.
Seandainya listrik tidak mati tadi malam, Rasmin bisa tahu lebih awal berita buruk itu dari televisi. Sebuah pesawat jatuh di perairan Karimata tadi malam. Cuaca yang buruk diduga sebagai penyebabnya. Semua penumpang dan awak pesawat dinyatakan hilang. Kemungkinan tidak ada yang selamat. Ketut adalah seorang pramugari dan ia ada di dalam pesawat naas itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
