Minggu, 25 Juni 2017

Tak Kusangka Cinta Sepelik Ini


Mengapa ketika membuat suatu tulisan, meski kenyataannya kita mengetik, tetap dikatakan menulis? Mengapa ada kata dasar dengan huruf awal k, ketika bertatapan dengan imbuhan meN-, k tersebut tidak luluh, semisal pada kata mengkristal? Bagaimana membedakan kalimat tunggal dengan kalimat majemuk? Apa makna yang terkandung dalam tiap bait Syair Perahu karya Hamzah Fansuri? Manakah penulisan yang benar, Nopember atau November? Kawan, jika semua persoalan remeh itu membuatmu risau, bolehlah bertanya padaku. Singgahlah pada sore yang teduh, kuhidangkan kopi terseduh. Salam secangkir kopi hangat di sore hari, kalimat khas seorang kuli tinta senior.

Di antara khalayak pembaca pasti ada yang bertanya, siapa gerangan orang ini berlagak ahli? Maaf, kawan, tidak ada maksudku begitu, tidak congkak pun tidak tinggi hati.

Pengetahuanku tentang hal-hal di atas adalah keniscayaan, konsekuensi dari profesi. Jika tidak maka ibaratkanlah aku kemarau menjanjikan hujan. Hendak memberi, diri sendiri tak memiliki. Itu namanya tidak profesional, menipu, layak dijebloskan ke dalam satu sel bersama para pejabat yang gemar menipu rakyat.

Namun, sekali lagi, namun, apabila yang membuatmu resah adalah perkara cinta, misalkan mengapa cintamu bertepuk sebelah tangan? Atau bagaimana agarbdia membalas rindumu yang biru? Atau bagaimana mengatasi cinta segitiga? Kawan, jangan pernah sekalipun berpikir mencari jawaban padaku. Aku tidak berkompeten di bidang itu.

Pengalamanku dalam hal percintaan berikut konflik-konflik yang ditimbulkannya amat minim, nyaris nihil. Oleh sebab itulah, tak banyak yang bisa kubantu tatkala Tisna menghampiriku meminta petunjuk terkait polemik cinta yang membekapnya.

Tisna, temanku yang tinggi bak burung unta itu, tengah gundah gulana. Galau, istilah anak muda zaman sekarang. Hatinya disandera dua lelaki--bisa jadi tiga lelaki seandainya aku belum menikah. Eda dan Rah, di antara merekalah hati Tisna terperangkap. Bagaimana bisa terjadi?

Mari kita putar waktu, kembali sedikit ke masa ketika Tisna dan Eda masih berseragam putih-abu-abu. Para murid lelaki seantero sekolah sepakat bahwa Eda, yang tingkahnya macam lutung, memang beruntung bisa memacari Tisna, sang kembang sekolah.

Eda adalah lelaki kurus yang konyol, tak pernah serius dalam segala hal, santai, namun adakalanya nekat. Tampangnya mirip-mirip Fauzi Baadilah, pemeran Damar dalam film Mengejar Matahari.

Tisna lain lagi. Dia adalah perempuan yang aduhai. Badannya tinggi-langsing, berkulit terang. Tatanan rambutnya menawan. Tatapannya seindah pelangi. Belum lagi senyumannya, aih, macam caffein: membuat jantung berdebar. Pramugari maskapai manapun pasti berkecil hati dibuatnya. Jika saja nilai-nilai di rapornya bagus, terutama nilai bahasa, aku yakin dia bisa sukses di ajang pemilihan ratu sejagad.

Meskipun banyak yang mencibir, bahwa dirinya tidak pantas bersanding dengan Eda, Tisna tidak ambil pusing. Tak hirau dia dengan apa tanggapan orang.

Tisna sendiri tak paham mengapa dia suka kepada Eda. Tahu-tahu dia suka. Begitu saja tanpa ada penjelasan. Barangkali itu yang oleh para pakar disebut chemistry.

Lantaran tidak ada penjelasan logis terhadap rasa suka itu, merebaklah kabar bahwa Tisna menderita rabun parah, sehingga Eda yang bermuka pas-pasan dilihatnya serupa Aliando Ganteng-Ganteng Serigala. Tak ayal juga banyak yang menuduh Eda, diam-diam mewarisi benda magis peninggalan almarhum kakeknya yang beristri tiga. Benda langka nan bertuah itu konon pis bolong rejuna.

Kelas tiga, tepatnya mendekati kelulusan, ketika itulah drama bermula. Di belakang Tisna, Eda main serong alias selingkuh alias menyeleweng! Sebuah tindakan tak terpuji yang dia kutuki sendiri di kemudian hari.

Kata pepatah, mustahil menutupi asap. Tisna mengetahuinya dan terluka tentu saja. Yang membuat kian panas hati Tisna, perempuan selingkuhan Eda adalah seorang teman dekat. Alamak!

Tetapi secara aneh, Tisna tidak meledak. Di wajah manisnya justru melengkung senyum, senyum misterius penuh rencana pembalasan. Pembalasan yang didasarkan pada emansipasi, bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, yaitu dengan berselingkuh juga, terang-terangan di depan hidung Eda!

Tisna selingkuh, Eda berang. Tak terima dia harga dirinya dilangkahi. Baginya, laki-laki selingkuh, wajar. Perempuan selingkuh, kurang ajar. Begitulah, Sang Pencipta memang membekalkan ego berlebih pada makhluk bernama lelaki.

“Kita putus detik ini juga!” Gelap mata, kalimat maut itu meluncur deras dari mulut Eda tanpa bisa ditunda.

“Nah, kita sudah putus pada detik sebelum kamu minta putus!” salak Tisna tak mau kalah. Mereka balik kanan-bubar-jalan.

Selepas SMA, Tisna yang memang tidak begitu suka membuka buku tidak melanjutkan kuliah. Dia melamar pekerjaan dan di sinilah dia sekarang bekerja denganku. Beberapa bulan berikutnya, dia bertemu Rah.

Rah adalah tipe lelaki idaman kaum hawa. Perangainya berbanding terbalik dengan Eda. Dia kalem, serius, selalu berpenampilan rapi, dan dari keluarga mapan--ayahnya pemilik hotel. Wajahnya ganteng, hanya saja irit senyum persis Tommy Kurniawan sakit gigi.

Singkat kata ringkas cerita, Tisna dengan Rah jadian. Tak ada yang mencibir sebab dua sejoli itu memang serasi nian. Si lelaki tampan, si perempuan rupawan.

Aku yakin Tisna serius jatuh cinta. Segenap tingkahnya mengatakan itu. Kini dia lebih sering berkaca, lebih rajin bekerja, tak henti bersenandung lagu cinta. Semua dilakukan dengan ceria.

Keluarga Tisna tidak usah ditanya. Rah diterima dengan tangan terbuka. Terlebih niang, nenek Tisna dari pihak ibu. Dia yang paling getol mendukung hubungan Tisna dengan Rah.

Nah, entah dari mana, setelah sekian lama tidak ada berita, tahu-tahu tokoh kita Eda muncul lagi.
Kejadiannya pada suatu pagi yang murung karena mendung, tahu-tahu dia muncul di depan rumah macam tukang cek meteran listrik.

“Luh Tu,” nama panjang Tisna adalah Luh Putu Tisnadewi, “ada yang ingin kukatakan.” Raut wajah bersalah ditunjukkannya. Tisna justru membuang muka. Rupanya dendam belum sirna.

Eda berkata bahwa yang dulu terjadi adalah kekhilafan. Bahwa kini dia menyesal sepenuh jiwa dan raga. Bahwa semenjak putus dengan Tisna, ada rasa kehilangan yang tak terkatakan. Bahwa tak ada detik, menit, jam dia lalui tanpa memikirkan Tisna. Bahwa setiap melintas di depan SMA, melihat guru, adik kelas, batik sekolah, bendera merah putih, parkir sepeda, kantin, ijazah, pokoknya semua yang berbau sekolah, segala kenangan romansa itu menguar.

Intinya, bahwa hidupnya kelabu tanpa Tisna. Tisna adalah tulang rusuknya.

“Bersediakah menerimaku lagi?” Eda meraih tangan perempuan yang sempat dikhianatinya itu.

Belum sempat Tisna menjawab, sebuah mobil mewah menepi, ada Rah di dalamnya. Tisna menepis tangan Eda lalu masuk tergesa.

“Itu siapa, sayang?” tanya Rah.

“Bukan siapa-siapa. Lekas pergi.”

Seketika di langit terdengar gemuruh. Gemuruhnya meruntuhkan segenap asa yang dikumpulkan Eda. Derai hujan berjatuhan.

Eda tertegun tak beranjak. Seolah tak habis pikir, lama dipandanginya arah mobil itu menghilang. Sangkanya akan mudah saja merayu Tisna. Tak dinyana seseorang yang lain sudah memilikinya. Jiwanya tergoncang. Dadanya sesak. Lalu untuk pertama kalinya dia merasa ingin menangis. Hujan mengguyur kian deras. Orang-orang meneriakinya agar berteduh. Eda menyingkir, terseok-seok, susah payah merekat-rekatkan kembali hatinya yang remuk.

Kejadian berikutnya persis sinetron. Eda tenggelam dalam alkohol. Di kamarnya yang gelap dan pengap dia terkulai, tak henti mengutuki diri dan segala kecerobohannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kasihan Eda. Di tengah kemeranaan itu, ibunya tutup usia. Eda ditimpa kesedihan pangkat dua. Hidup memang tragis kadang-kadang.

Berita mengenai sepak terjang Eda di dunia minuman keras serta kematian sang ibu sampai di telinga Tisna. Iba juga dia dengan nasib lelaki tengik itu. Tiba-tiba ada gelisah menyelinap.

Jujur, sesungguhnya pagi itu, ketika Eda datang tempo hari, terbit gembira di hati Tisna. Sudah lama dia menunggu. Diam-diam, dia rindu pada lelaki kurus itu.

Lalu dia ingat Rah, dan merasa tidak betah. Rah sangat dingin, kaku, tidak romantis. Di depan Rah, Tisna tidak bisa menjadi diri sendiri. Dan yang belum kalian tahu, Rah sangat overprotektif dan ketat bak baju renang. Dia memblokir segala hubungan sosial Tisna dengan laki-laki lain.

Kini Tisna paham alasan dia dulu suka pada Eda. Meski cengengesan, Eda adalah pribadi yang cair, akrab, dan hangat. Bersama Eda, Tisna nyaman sebab Eda jauh dari sifat-sifat posesif. Unsur-unsur itu membuat Eda lebih dari sekadar ganteng. Alhasil, terbitlah keinginan untuk berdamai dengan masa lalunya itu.

“Tidak boleh!” Ibu Tisna memelotot. “Dia itu tukang mabuk, tidak kuliah, pengangguran terselubung, hidupnya tak keruan! Mau jadi apa republik ini jika semua pemuda berkelakuan seperti dia!”

Niang menimpali, “Tidak usah macam-macam! Jalanmu sudah benar. Mengawini Rah, berarti mengembalikan statusmu, sesuatu yang dilepaskan ibumu lantaran nyerod kawin dengan bapakmu.” Nah?

Jadi semua ini bersangkut-paut dengan kasta. Pantas niang begitu semangat memasang-masangkan  Rah dengan Tisna.

Rah, lengkapnya Anak Agung Ngurah, adalah keturunan puri--tak jelas puri mana, mungkin Puri Raharja. Jika jadi dengan Rah, Tisna yang seorang jaba akan naik kasta menjadi jero.

Sampai cerita ini kutulis, Eda sedang berjuang di samudra sana. Jengah dia dengan pernyataan sikap ibu dan niang. Dia berhenti minum, melanjutkan studi setahun, dan kini bekerja di kapal pesiar megah--yang namanya mirip judul film bajak laut Karibia. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah lelaki becus. Ambisinya sekembali dari pelayaran agak nyeleneh.

“Dimana orang menjual kasta? Akan kubayar, berapapun harganya!”

Di tempat lain, Rah mengendus gelagat tidak baik itu dan ingin segera mengawini Tisna. Dia tak ingin bidadarinya terbang lepas. Ibu dan niang tersenyum lalu membuka-buka kalender, mengira-ngira hari baik.

Tisna sendiri kian gamang. Buka taluhe apit batu, peribahasa orang Bali. Dia tidak ingin durhaka membangkang pada keluarga tetapi juga ingin bahagia. Hati kecilnya berkata bahagia itu adalah Eda. Apalagi ada desas-desus, menjadi jero, ia akan mendapatkan perlakuan diskriminatif dari kerabat suaminya yang murni berdarah menak. Tak kusangka perihal cinta bisa sepelik ini. Tisna, oh, Tisna maafkan aku tak bisa membantumu.

Senin, 01 Mei 2017

Perkenalan



Made Merta tiba di sekolah terlalu pagi, tatkala matahari pun belum ingin menampakkan diri. Tak dapat disalahkan memang. Ia terlalu bersemangat memulai profesi barunya. Hari ini adalah hari pertama ia akan masuk kelas tampil sebagai seorang guru. Bahasa Indonesia, mata pelajaran yang diampunya.

Setahun lebih ia menunggu datangnya kesempatan ini. Hampir pupus harapannya. Sedikit lagi ia akan berbulat tekad mengandaskan cita-citanya yang mulia itu dan berlapang dada bekerja di mana saja. Namun, nasib baik memang selalu menimpa orang-orang yang sabar. Beribu-ribu terima kasih ia alamatkan kepada Ibu Dayu, wanita yang tak lain adalah dosennya saat masih berkiprah di institut keguruan. Atas petunjuk beliaulah Made Merta menemukan pencerahan.

Made Merta masuk ke ruang guru dengan pasti dan percaya diri. Ia langsung menuju ke meja yang telah disediakan untuknya. Meja yang sebetulnya dadakan sebab sebelumnya di sana bersemayam sebuah lemari kayu tua, tempat bertumpuk-tumpuk kertas yang juga tua dan, barangkali, rumah bagi kecoa atau sebangsanya. Posisinya tersembunyi, nun jauh di pojok belakang ruangan, seolah-olah tak ingin diketahui. Meski begitu, Made Merta tetap bangga dianugrahi meja di sana.

Made Merta duduk dan merasa begitu nyaman padahal kursinya hanya kursi kayu biasa, tidak empuk disorot dari sisi manapun. Memang tepat jika ada yang berpendapat bahwa sumber kebahagiaan sejatinya berasal dari pikiran.

Diusapnya permukaan meja yang terbentang di depannya tadi. Tiba-tiba ada rasa haru menyeruak. Meja itu adalah metafora. Semacam simbol pengakuan, pemberian wewenang dan kepercayaan atas kemampuan dan pencapaian pendidikannya. Belum-belum, matanya sudah berkaca-kaca membayangkan meja itu akan menjadi saksi kesibukkannya mengisi rapor murid-muridnya yang cemerlang. Meja itu pula yang akan menemaninya memeriksa tugas-tugas para murid yang rajin lagi pintar. Selain melankolis, Made Merta memang orang yang optimistis, tipikal calon menteri pendidikan yang mumpuni.

Sejurus kemudian, dari dalam tas punggungnya yang berat, Made Merta mengeluarkan berupa-rupa kitab sakti mandraguna yang akan menjadi senjatanya membasmi jiwa-jiwa yang tuna ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan bahasa. Ada Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku sintaksis, buku jenis-jenis kalimat, buku 1000 peribahasa, kumpulan puisi dan cerpen, semuanya serba tebal, serta tak lupa novel kesayangannya yang berjudul Ayah. Semua buku itu ia susun di atas meja dengan rapi dan penuh rasa hormat. Tak ingin ia durhaka terhadap para penulis buku-buku tersebut.

Detik berikutnya, Made Merta mengeluarkan sisir kecil dua ribu rupiah yang dibelinya di pasar tadi malam. Dengan sigap ia merapikan rambut tipisnya lalu tersenyum sendiri. Ia merasa benar-benar siap untuk mengajar.

Sejak tadi sibuk dengan urusan sendiri, Made Merta tidak menyadari bahwa ia tidak sendiri di ruangan itu. Ada sepasang mata sayu murid perempuan yang sedari tadi lekat mengawasinya dari dekat pintu. Tangan kanannya mengapit sebuah buku tulis lusuh.

Aih, rajin benar anak ini, pikir Made Merta tatkala mengetahui keberadaan anak itu.

“Mencari siapa, Nak? Belum ada yang datang, kecuali saya.” Made Merta bertanya sembari tersenyum, menampilkan sosok Umar Bakri yang pemaaf lagi penyayang. Adakah kelakuan murid itu salah sehingga harus dimaafkan? Aku pun tak tahu.

Lalu keanehan terjadi, ketika Made Merta mengerjapkan mata, macam sulap, bocah perempuan itu menghilang, sirna, lenyap tak berbekas!

Bagaimana bisa? Made Merta takjub sekaligus heran. Tetapi Made Merta adalah seorang akademisi yang selalu berpikir rasional mengikuti alur logika dan sains, maka ia menganggap yang barusan terjadi adalah imajinasi, mungkin lantaran terlalu sering menulis cerita fiksi. Meski begitu, keingintahuan yang tinggi tetap membuatnya penasaran.

Made Merta menyusul ke arah pintu untuk memastikan. Sampai di luar memang tidak ada seorang pun. Halaman sekolah masih sunyi dan teduh ditutupi bayangan gedung dan pepohonan ketapang. Made Merta berbelok ke kanan, yang di sana ternyata kantin. Tidak ada pula seorang pun. Ternyata benar, hanya imajinasi. Tetapi tiba-tiba...

“Cari siapa?” Seorang bapak secara mengagetkan menepuk pundak Made Merta dari belakang. Wajahnya keriput, tatapannya ganjil, alis meninggi mengesankan dia seorang yang mudah naik pitam.

“Oh, tadi ada murid perempuan di ruang guru, saya sapa, tiba-tiba menghilang,” jawab Made Merta polos.

Si bapak menatap Made Merta dengan serius, agak lama seolah-olah sedang membaca pikiran, sebelum akhirnya menjawab, “Tidak usah dicari.”

“Kenapa?”

“Dia memang begitu, datang dan pergi tiba-tiba.”

“Jadi bapak juga melihatnya?”

Si bapak diam. Air mukanya serius, tak ada sekilas pun senyuman di bawah kumisnya yang ubanan. “Anda guru baru?”

“Iya, betul.”

“Dia ingin berkenalan.”

“Berkenalan?” Kening Made Merta berkerut.

“Ya, berkenalan.”

“Lalu kenapa dia pergi?”

Bapak itu diam lagi, menatap Made Merta seperti tidak suka. Ia menuju bangku kayu panjang di depan kantin.

“Anda banyak tanya! Yakin mau tahu?”

“Jika boleh, Pak.”

“Saya tahu ceritanya. Paling tahu di antara pegawai dan guru-guru di sini.” Si bapak mengeluarkan rokok. Sekejap kemudian asapnya mengepul, wajahnya seolah-olah terbakar. Si bapak kemungkinan tidak pandai membaca sebab di setiap sudut sudah tertempel stiker besar-besar berbunyi kawasan tanpa rokok.

“Anak itu bernama Winari, sekolah di sini, kelas 9 saat itu. Anak yang cerdas sesungguhnya.”

Made Merta ikut duduk meski tak ditawari.

“Hidupnya tak sebahagia anak lain. Bapaknya bedebah, suka main perempuan. Ibunya minggat entah kemana. Jadilah Winari anak yang terbuang, pemurung, pendiam, tertutup, tidak suka bergaul. Sahabatnya hanya dua: kecewa dan putus asa.”

Made Merta tekun menyimak.

“Tetapi ada satu hal yang membuatnya tetap ingin hidup, yaitu Indra, guru bahasa Indonesia kala itu.”

“Saya juga mengajar bahasa Indonesia.”

“Saya tidak tanya.”

“Maaf.”

“Indra tak sengaja membaca puisi-puisi dan cerita-cerita pendek yang ditulis Winari di buku catatan. Winari sesungguhnya tak bermaksud menulis cerpen atau puisi. Ia menulis apa yang ia rasakan, tentang betapa nasib telah memperlakukannya dengan amat buruk. Tak dinyana setiap kata dalam tulisan itu hidup, sendu mengadu,  meratap namun memikat. Indra langsung terpesona dan mengerti satu hal: Winari piawai menulis. Mungkin lantaran kepahitan itu dialami sendiri sehingga setiap diksi yang tersaji mampu mengiaskan emosi yang diinterpretasi sebagai ironi dan tragedi dalam suatu kisah fiksi."

Made Merta manggut-manggut seakan paham padahal tak satu patah kata pun pada kalimat terakhir itu mampu ia mengerti.

“Indra meniupkan harapan baru dalam hidup Winari. Dia memuji dan menyemangati Winari agar terus menulis, mengembangkannya pada hal-hal lain. Beberapa karya diikutsertakan dalam lomba. Beberapa lagi dipajang di majalah dinding dan majalah sekolah. Winari bergairah, hidupnya tak sia-sia lagi. Setiap Senin, ia selalu datang lebih pagi sebab pelajaran bahasa Indonesia ada pada jam pertama. Sungguh ia tidak ingin terlambat.”

“Lalu, pak?” Made Merta memburu.

“Sayang seribu sayang, Indra tak lama di sini. Saat orangtuanya jatuh sakit, ia pulang kampung, jauh ke seberang pulau. Dua minggu kemudian ia mengundurkan diri.”

“Dan Winari?” suara Made Merta pelan dan ragu.

Bapak berkumis tertegun, cukup lama. Ia seperti selalu berpikir sebelum menjawab. Entah apa yang berkecamuk di balik wajahnya yang serius itu. Ada gurat penyesalan, kemudian tegang, bercampur-campur, sulit digambarkan. Suaranya bergetar meneruskan.

“Winari yang sudah berbesar hati kembali tersuruk menyendiri. Ia menahan rasa kehilangan yang tak tertanggungkan, melebihi rasa kehilangan sosok orangtua. Ia merana, patah hati, depresi, lalu, dengan membawa semua tulisannya, dia bunuh diri melompat dari lantai 4 gedung sekolah ini.”

Deg! Made merta terpana dan bergidik ngeri. Rambut-rambut di sekujur tubuhnya kompak berdiri.

Jadi yang dilihatnya itu arwah penasaran seorang gadis penulis bernama Winari? Mungkinkah masih ada hantu di zaman serba online sekarang ini? Mustahil. Bisa saja itu semacam efek teknologi canggih 3D holographic display. Made Merta kalut. Pendekatan leksikal-gramatikal yang dikuasainya tak relevan menjelaskan masalah ini. Satu kata yang menyelimuti hatinya saat ini: misteri!

“Pak, cerita tadi hoax, kan?”

Si bapak berkumis sudah beberapa langkah pergi. Ia berbalik melemparkan raut wajah tak suka.

“Itulah cerita sebenarnya. Tapi saya tidak memaksa anda untuk percaya. Dia memang ada di sini, menunggu…”

“Kenapa begitu yakin?”

Si bapak menatap Made Merta dengan bola matanya yang keruh, agak lama seolah-olah hendak membaca pikiran, sebelum akhirnya menunjukkan sebuah buku tulis lusuh yang dia keluarkan dari saku celana, dan lirih berkata, “Aku si bapak bedebah itu.”

    Made Merta terpana tak bertanya lagi. Si bapak berlalu seperti angin meninggalkan sekolah yang masih hening, sehening kuburan di depan sana.

Minggu, 27 November 2016

Buku Terakhir dari Ibu



(Ida Ayu Kusuma Widiari)

Hari Minggu yang cerah. Cuaca yang bagus bagi Elang Angkasa, seorang anak laki-laki yang baru duduk di bangku kelas 8 sekolah menengah pertama, untuk berjualan. Berbekal semangat dan percaya diri, Elang berkeliling pasar menjajakan kue buatan ibunya. Hari itu, seluruh dagangannya habis terjual. Dia sangat senang. Dia kembali ke rumah dengan wajah ceria. Tangannya yang kurus dan legam memeluk keranjang yang telah kosong. Sesampainya di rumah, di sebuah gubug  yang sangat sederhana, yang dinding dan pintu-pintunya hanya terbuat dari potongan-potongan bambu dan triplek, Elang langsung merebahkan diri.
“Lelah tapi menyenangkan,” gumamnya sambil tersenyum, jarang dia sesenang itu.
Tak lama, Elang lalu meraih sebuah buku yang tertumpuk di lantai dan mulai membacanya. Dia membaca buku berjam-jam. Membaca memang hobinya. Baginya, buku adalah teman sejati yang bisa dibawa kemana saja dan bisa disapa kapan saja.
Tak terasa hari sudah sore. Elang menghentikan sejenak aktivitas membaca buku. Dia keluar rumah dan duduk di sana menunggu sang ibu pulang dari bekerja.
“Ibu!” Elang berseru menyambut seorang wanita yang datang terbungkuk-bungkuk menenteng bungkusan. Wanita itu tersenyum. Dari sorot matanya, tampak betul ia begitu lelah. Keriput memenuhi wajahnya. Uban memenuhi kepalanya. Wanita itu bernama Narsih, ibu Elang. Mereka berdua masuk ke rumah lalu makan bersama. Elang memang harus menunggu sang ibu pulang kerja untuk bisa makan sebab di rumah tidak pernah ada makanan. Sehabis makan, Elang kembali membaca buku diterangi cahaya lampu kuning. Begitulah Elang menghabiskan malamnya hingga tertidur.
Elang berlari secepat yang dia mampu sambil berteriak memanggil-manggil seorang lelaki. Namun, lelaki itu mengabaikannya. “Ayah!” itu kata terakhir yang dia teriakkan sebelum laki-laki itu menghilang. “Elang! Bangun, Nak! Kamu mengigau lagi.” Narsih menggoncang-goncang tubuh anaknya. Elang sontak terbangun. Keringat membasahi wajahnya. “Ayo, bangun. Tidak usah tidur lagi. Lagipula sudah jam 6, kamu harus ke sekolah.”
Elang menatap ibunya lalu menunduk. “Bu, aku tidak ingin ke sekolah. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk.”
“Tidak, Nak. Bukan mengantuk masalahmu. Apakah Kau malu? Jadilah Elang yang tegar, bukan Elang yang pengecut.” Elang tidak membantah lagi. Dia bangkit dari kasurnya yang tipis lalu pergi mandi.
“Elang! Ora pingin lunga bebarengan?” terdengar teriakan Bagus, teman sekelas Elang, sesaat setelah Elang selesai sarapan mi instan.
“Iya, Gus. Tunggu sebentar.” Elang bergegas. Sebelum pergi, dia berpamitan pada ibunya. Tak lupa dia membawa kue sekeranjang untuk dititipkan di kantin sekolah.
Udara pagi itu begitu membekukan jiwa Elang. Selama perjalanan dia diam saja. Tatapannya kosong. Apa yang ada di pikirannya? Apakah terkait mimpi tadi subuh? Entahlah. Tas gendong hitam yang sudah sobek sana-sini setia melekat di punggungnya.
“Teet! Teett! teett!” bel sekolah berbunyi memecah kesunyian pagi. Suaranya nyaring terdengar hingga sejauh 50 meter dari sekolah. Elang dan Bagus berlari menuju sekolah. Untung saja pintu gerbangnya belum ditutup. Saat sampai di tengah-tengah lapangan, mereka berdua berpisah. Bagus langsung menuju kelas sedangkan Elang harus ke kantin dulu menitipkan kue buatan ibunya tadi. Saat Elang sampai di kelas, semua mata tertuju padanya. Dia berjalan sambil menundukkan kepala, malu karena kejadian beberapa hari yang lalu.
“Ayo, Lang, semangat!” ucap Akbar, teman sebangku Elang.
Jam demi jam pelajaran terlewati, bel istirahat pun berbunyi. Semua murid berhamburan menuju kantin, kecuali Elang. Uang saku yang diberi ibunya, kadang seribu, kadang dua ribu, dia simpan. Dia menghabiskan jam istirahat di perpustakaan. Di sana dia menyalurkan hobinya membaca. Sesekali dia melempar pandangan keluar jendela, terpesona memandang cerahnya langit biru tanpa awan. Elang mempunyai mimpi ingin berkeliling dunia untuk menyaksikan keindahan setiap sudut dunia. Namun ketika dia bercermin, melihat keadaannya yang miskin, dia merasa mustahil bisa mewujudkannya. Itulah alasan dia gemar membaca. Dia ingin melihat dunia dari buku sebab buku adalah jendela dunia.
Tak terasa sudah 30 menit. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Elang bangkit menuju kelas. Sebuah buku kumpulan cerpen setebal 50 halaman habis dibaca olehnya. Tiba-tiba langkahnya dihentikan Fahri dan gengnya.
“Rupanya Kau masih berani ke sekolah. Cukup besar juga nyalimu, Lang!”
Elang diam tertunduk. Dia tidak melawan. Bukan karena takut, namun ia berusaha mengendalikan diri. Beruntung pada saat yang runyam itu datang Syana membela Elang.
“Fahri, salah apa Elang padamu? Mengapa kamu tak henti-hentinya mengganggu Elang? Jangan mengganggu dia lagi atau kulaporkan kelakuanmu pada Pak Yudana supaya kamu dikeluarkan dari sekolah ini!” Mendengar nama Pak Yudana, sang wakasek kesiswaan yang terkenal garang itu, nyali Fahri dan komplotannya menciut.
“Awas, kau nanti!” ancam Fahri lalu kabur.
“Sudah, Lang. Tidak usah dihiraukan. Aku tahu kamu tidak bersalah ketika itu.” Syana berusaha membesarkan hati Elang.
Jam di dinding kelas menunjukkan pukul 12.30. Sebagian besar murid tampak sudah penat dan kurang bersemangat. Mereka terus melirik ke arah jam, berharap bel tanda pulang sekolah cepat berbunyi. Hanya Elang yang masih kelihatan bersemangat dan fokus. Untuk urusan belajar dan membaca, Elang memang tak pernah bosan. Lima menit kemudian bel berbunyi. Sebelum pulang, Elang mampir ke kantin mangambil uang hasil penjualan.
“Seribu, dua ribu, tiga ribu, enam, delapan, dua puluh, tiga puluh dua ribu,” dengan cekatan Elang menghitung. Sore nanti, uang itu akan diserahkan ke ibunya.
Dalam perjalanan pulang, Elang berhenti sebentar di sebuah toko buku. Nama toko itu sama dengan pemiliknya, Toko Buku Tangkas. Elang sangat akrab dengan Paman Tangkas, seorang lelaki 50 tahunan, berpostur tinggi-besar, namun lucu dan ramah. Paman Tangkas sudah menikah namun tidak memiliki anak.
“Hai, Elang. Sudah lama kau tidak mampir. Paman punya koleksi buku baru. Apakah kau mau melihatnya? tanya Paman Tangkas.
“Tentu, Paman. Tapi, buku yang kuambil dua minggu lalu belum kubayar.” Elang merasa tidak enak hati sebab berhutang terlalu lama.
“Ah, no problem. Coba kau lihat dulu. Kalau kau suka, bawa saja pulang. Masalah bayar, bisa nanti-nanti saja.” Paman Tangkas terkekeh, mengambil sebuah buku, kemudian menyerahkannya pada Elang. Elang mengusap sampul buku itu dan membaca judulnya, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Tiba-tiba Elang merasa dadanya bergemuruh. Matanya berkaca-kaca. Tanpa basa-basi, Elang mengembalikan buku itu lalu berlari. Paman Tangkas memandang Elang sampai jauh. Sedih hatinya melihat anak malang itu. “Elang, kau pasti sangat merindukan ayahmu,” ucapnya lirih.
Sore itu, Bu Narsih tidak seperti biasanya membeli lauk tahu-tempe untuk dimakan. Kali ini ia membuatkan Elang makanan kesukaannya, yaitu ayam kecap. Elang makan sangat lahap. Dua piring nasi habis disikatnya. Dia memang jarang menikmati daging. Sehabis makan, Elang menemani ibunya membuat adonan kue sambil membaca buku.
“Bu, dua minggu lalu aku mengambil sebuah buku di toko Paman Tangkas. Sampai sekarang uangku belum cukup untuk membayarnya. Kemudian, tadi siang aku melihat sebuah buku lagi dan aku ingin membelinya.”
“Nak, habiskan dulu membaca bukumu itu. Kalau ibu dapat rejeki lebih, ibu akan memberimu uang untuk membeli buku yang kau inginkan.”
“Iya, Bu,” jawab Elang senang. Senyumnya terlihat mengembang di bawah sinar lampu temaram.
Keesokkan harinya semua berjalan seperti biasa. Pagi-pagi Elang berangkat ke sekolah membawa sekeranjang kue. Saat jam istirahat, dia ke perpustakaan. Kali ini dia membaca novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Saat pulang, dia ke kantin mengambil uang hasil penjualan.
“Wah, kuenya habis ya, Bu?” Ibu kantin tersenyum mengangguk lalu memberi Elang uang delapan puluh ribu rupiah. Elang menerimanya dengan penuh sukacita. Dia berlari supaya cepat sampai di rumah. Sampai di rumah, senyumnya mendadak lenyap. Terkejut dia melihat sang ibu terbaring pucat.
“Ibu pulang lebih awal? Ibu sakit?” Elang bertanya cemas. Ibunya bekerja sebagai tukang cuci baju di sebuah laundry dan seharusnya pulang jam 5 nanti sore.
“Iya, Nak. Ibu minta ijin pulang lebih awal. Tidak usah khawatir. Ibu baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan.” Malamnya Elang tidak bisa memejamkan mata.
Ketika pagi menjelang, Elang masih mendapati ibunya terbaring. Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Lalu dia berinisiatif membelikan ibunya bubur dengan uang hasil penjualan kue kemarin. Setelah itu, dia membangunkan ibunya.
“Ibu, makanlah bubur ini.” Dengan cekatan Elang menumpahkan bubur itu ke dalam piring seng. Setelah memakai seragam, dia berpamitan, “Bu, sekarang aku berangkat ke sekolah dulu. Nanti aku akan cepat pulang.”
Elang melangkah tapi tidak menuju sekolah melainkan ke pasar. Dia berniat mencari pekerjaan. Dia tahu ibunya tidak akan sembuh dengan cepat. Harus ada yang bekerja agar mereka tetap bisa makan. Betapa mulia hati anak itu. Akhirnya di pasar, Elang mendapat pekerjaan yaitu sebagai kuli angkut barang. Badannya memang kerempeng tapi dia mampu mengangkut beras karung 50 kilogram. Pukul 12.30 dia pulang membawa bubur lagi untuk ibunya.
“Nak, maafkan ibu tidak menyiapkan sarapan untukmu. Malah kamu yang menyiapkan bubur untuk ibu.”
“Tidak apa-apa, Bu.” Elang merasa badannya remuk tapi dia senang bisa merawat ibunya.
“Darimana kau dapatkan uang untuk membeli bubur?”
“Uang penjualan kue kemarin, Bu. Ditambah uang simpananku.”
“Bukankah uang simpanan itu untuk membayar buku yang kau ambil di toko Paman Tangkas? Mudah-mudahan besok ibu bisa bekerja. Ibu akan mengganti uangmu.”
“Tidak apa-apa, Bu. Ibu istirahat saja dulu. Kalau sudah benar-benar sembuh, barulah ibu bekerja lagi.” Elang sangat menyayangi ibunya.
Sejak itu Elang tidak pernah ke sekolah. Tiap pagi dia berpamitan mengaku ke sekolah namun sesungguhnya dia menjadi buruh. Pendidikan memang penting, sebagai jembatan untuk meraih cita-cita, namun kesehatan sang ibu lebih penting. Apalagi hanya ibu yang dia miliki sekarang. Sang ayah menghilang tiga tahun lalu. Ada yang bilang lelaki itu tenggelam saat mencari ikan di laut. Ada juga yang mengatakan lelaki itu minggat dan menikah dengan perempuan lain.
Hingga akhirnya, setelah 5 hari menjadi buruh, Elang dikagetkan oleh kedatangan seorang wanita di pasar. Wanita itu tak lain adalah Bu Narsih, ibunya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Nak? Jadi, selama ini kau berbohong pada ibu? Tadi Bagus datang mengatakan kau sudah 5 hari tidak sekolah. Ternyata kau di sini.” Ekspresi wajah ibunya bercampur antara marah, kaget, dan terharu melihat anaknya terseok-seok menaikkan sekarung beras ke atas mobil. “Nak, maafkan ibu tidak bisa menjadi orangtua yang baik. Mulai besok ibu sudah bisa bekerja lagi. Kau juga harus kembali bersekolah.” Elang menggeleng. Betapa dia ingin mengurangi beban ibunya. Air mata mulai mengucur dari sudut mata Elang. “Kau harus tetap semangat anakku. Kau tahu mengapa kau tidak dikeluarkan dari sekolah saat memukul Fahri tempo hari? Itu karena kau pintar, prestasimu gemilang, kau calon juara, Nak. Dan lagi, guru-guru tahu kau menjadi kasar karena Fahri yang memulai dengan menjelek-jelekkan ayahmu.” Mereka akhirnya pulang sambil menangis berangkulan.
Semenjak kejadian itu Elang kembali bersekolah seperti biasa. Sang ibu juga sudah kembali bekerja meski masih tampak lemah.
Suatu siang, ketika Elang pulang dari sekolah, dia mendapati rumahnya dipenuhi orang-orang. Dia heran lalu bergegas ke dalam. Di sana, di tempat tidur sederhana itu, Elang melihat ibunya telah terbujur diselimuti kain. Tiba-tiba dunia terasa sunyi dan hampa. Elang tak kuasa membendung air mata. Dia memeluk erat jasad ibunya. Semua orang di rumah itu terenyuh melihat pemandangan yang mengharukan itu.
Setelah orang-orang pergi, Paman Tangkas datang membawa sebuah buku. “Ibumu sudah melunasi hutangmu. Dia juga membeli buku ini untukmu. Dia bekerja keras untuk ini.” Elang membaca judulnya, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Air matanya menetes membasahi sampul buku itu.
“Saat itu ibumu berkata bahwa ia ingin melakukan yang terbaik untukmu. Dia ingin kau tetap melihat dunia setidaknya melalui buku. Elang, aku tidak kaya, rumahku juga tidak besar, tapi cukuplah untuk menampung seorang anak berbakti sepertimu. Kalau kau mau, tinggalah bersamaku. Kau sudah kuanggap seperti anak sendiri.”
Elang menggeleng pelan. Sungguh dia tidak ingin merepotkan siapa-siapa. Paman Tangkas tahu itu.
“Elang, kau tidak punya siapa-siapa lagi, kemana kau akan pergi? Bukankah aku punya toko buku sebagai tempat nongkrongmu nanti?”
Begitulah akhirnya Elang tinggal bersama Paman Tangkas. Setelah selesai mengurus pemakaman ibunya, Elang kembali bersekolah. Dia sudah bertekad, meski dengan sayap-sayap patah, dia akan terbang tinggi di angkasa dan menjelajahi dunia laksana elang.

Minggu, 09 Oktober 2016

Bagaimana Aku Mengisinya (puisi)




Gelas-gelas di hadapanku
tertutup rapat-rapat
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
berontak tak mau diam
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
umpama aku pecahkan saja
bagaimana aku mengisinya?

Gelas-gelas di hadapanku
kau sangka berisi? nyatanya kosong belaka
bagaimana pun aku harus mengisinya


Minggu, 18 September 2016

Puisi Kecil

Pagi itu hujan tumpah. Suasana yang biasanya senyap menjadi sedikit semarak. Ternyata, meski tak banyak yang tahu, suara hujan laksana orkestra alam. Hantaman butir-butir air pada genteng, seng, kaleng, kerikil, kubangan tak ubahnya pukulan-pukulan perkusi, menghasilkan irama yang absurd. Lalu secara misterius, irama itu merayu, menarikku keluar dari keteduhan, membubarkan jarak antara aku dan hujan, kubuka tangan, dan tatkala air-air itu terjun menerjang, terjadilah puisi kecil ini.


Derai-surai hujan jatuh
di sepotong pagi
berinai-rinai
tipis bukan gerimis
kelabu namun syahdu

"Musim hujan, rupanya,
datang lebih awal,"
gumam seorang lelaki
yang merenung di bawah daun pisang

Minggu, 04 September 2016

Bukan Lelucon

PERMISI, selamat sore! Pesanan datang!” terdengar lelaki berseru dibarengi ketukan pintu. Nah, ini dia, kurir yang kunanti sudah datang, pikirku sumringah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Makanan yang kupesan via aplikasi ojek online di smart phone-ku muncul pada waktu yang tepat sekali. Laparku sudah berada di ujungnya. Lewat sedikit bisa-bisa pipih ususku.

“Ya, sebentar,” kurogoh tas dan kujumput sejumlah uang. Dengan semangat 45 aku melesat menuju pintu. Bayangan makanan panas berasap siap santap menari-nari dengan mantap.

Kuhela pintu dan nah! Bukan pak kurir yang datang. Aku malah dikagetkan oleh tampang konyol lelaki yang kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Kentara sekali dia amat-sangat puas telah berhasil mengerjaiku.

“Nggak lucu!” hardikku dengan jengkel sekaligus kecewa. Ingin sekali kutendang lelaki itu hingga jatuh terguling-guling seperti yang dilakukan Valentino Rossi kepada Marc Marquez tempo hari.

Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah suamiku, manusia jahil, usil, dan suka iseng. Sifatnya seperti bocah. Koplaknya tidak ketulungan. Otaknya disesaki hal-hal miring dan konyol. Moto hidupnya adalah “keep calm and stay konyol” atau “usil-lah sebelum usil itu dilarang” bisa juga “tidak ada kata terlambat untuk bercanda ria”.

Suamiku sudah begitu dari dulu dan tidak kunjung waras hingga sekarang. Kemungkinan dia akan seperti itu seumur hidupnya. Ibarat penyakit, tabiat konyolnya sudah kronis. Jika kepalanya dibelah, pasti terlihat saraf-saraf otaknya kusut semrawut. Centang perenang sehingga sering korslet. Kegemarannya menjahili orang. Karena aku orang terdekat, yang setiap hari bersamanya, jadilah aku yang kerap menjadi korbannya.

Tidak hanya itu, suamiku juga amat susah diajak diskusi serius. Pemikirannya terlalu santai. Tak jarang ketika aku ingin membahas perkara yang agak serius, dia menanggapinya dengan guyonan. Di situ kadang aku merasa ingin meninjunya hingga terjungkal ke kawah Barujari.

Dan lagi, sangat sulit membedakan antara dia berkata jujur atau sedang berbohong. Air mukanya susah diterka. Sandiwaranya mengalahkan akting pemain sinetron Cinta di Langit Taj Mahal. Lengkaplah sudah penderitaanku menjadi istrinya.

Mengapa dulu aku nekat menerima bujukan menjadi istrinya? Pertanyaan itu pernah terbesit di kepalaku. Memunculkan sebuah tanda tanya besar. Ketika kutelusuri, senang sekali ternyata kutemukan bahwa suamiku tidaklah buruk sekali. Kalau dipikir-pikir, kelakuannya itulah yang justru membuatku gelap mata menyukainya.

Aku jatuh cinta padanya justru karena sifatnya yang tengal dan konyol itu. Tingkah polahnya yang seperti itu membuatnya lucu dan kocak. Aku suka orang lucu dan humoris. Bagiku, orang humoris selalu membawa aura positif. Jika Kau seorang pria yang sedang mendekati wanita, aku beri saran, jadilah pria yang humoris. Tak usah romantis sebab pria humoris akan mengalahkan pria romatis. Trust me, it works.

Saat pacaran dulu, suamiku—tentu saja saat itu masih pacar—sering membuatku tertawa tak habis-habis ketika bernyanyi sambil memainkan gitar. Lagu-lagu yang didendangkannya bukanlah lagu-lagu romantis melainkan lagu-lagu sembarang dengan lirik yang dibuat sekenanya sehingga terdengar lucu dan mengundang gelak tawa. Aku suka tersenyum geli sendiri bila mengingatnya. Kini, setelah menikah, bukannya tambah matang dan dewasa, kejahilan malah kian parah dan makin menjadi-jadi. Aku curiga ia bercita-cita ingin jadi seperti Vincent Club ’80, presenter acara 'Ups Salah' yang doyan mengerjai orang-orang.

Kecurigaanku bukan tanpa alasan. Suamiku tidak seperti orang lain yang mengidolai tokoh-tokoh kharismatik, gagah, ganteng, pintar, semisal Bung Karno, Iwan Fals, Luna Maya, Vin Diesel, Rhoma Irama, Sheryl Sheinafia, Andrea Hirata, ataupun Vicky Prasetyo. Suamiku justru memuja dan menjadi penganut pelawak-pelawak tengal dan jauh dari citra keren, seperti Komeng, Sule, Trio Warkop DKI, Cak Lontong, Abdur, Tukul Arwana, hingga Mister Bean. Bagi suamiku, mereka adalah inspirator. Merekalah yang mengukir karakter suamiku sampai jadi unik seperti ini.

Suamiku memang konyol dan kekanak-kanakan, akan tetapi di balik itu, dia tetap bertanggung jawab. Kendati candaannya suka kelewatan dan acap membuat sebal, aku tidak pernah dendam. Justru tanpa kekonyolan-kekonyolan itu, hubungan kami akan terasa kurang sedap, ibarat bakso tanpa cilok. Suamiku selalu bisa menghadirkan keceriaan dan suasana penuh suka. Dia selalu bisa membuat gigiku kering lantaran kebanyakan tertawa.

Beberapa hari setelah kejadian kurir palsu itu, aku sedang menyetrika baju dan seseorang mengetuk pintu rumah. Kemudian terdengar rintihan memanggil namaku.

“Siapa?”

“Ini aku… Cepat. Sakit sekali.”

Suaranya pelan dan tersendat. Aku mengenali suara itu, behh… itu suara suamiku. Meski dibuat sedemikian rupa, aku tetap mengenalinya. Aku langsung sadar ini pasti lelucon. Tidak diragukan lagi, ini pasti jebakan. Aku tidak menaruh setrikaku. Sing ngerambang bangken dongkang alias tak peduli bangkai kodok, pikirku. Aku tahu yang dia rencanakan: dia berpura-pura kesakitan, aku membuka pintu dengan was-was, aku menyongsongnya dengan cemas, kemudian dia tertawa terbahak-bahak karena itu hanya bohong belaka dan aku berhasil ditipu.

Trik murahan. Cuiihh…! Aku takkan termakan sandiwaranya lagi. Seperti kata pepatah, keledai tak masuk ke lubang yang sama dua kali. Aku sudah belajar dari pengalaman.

“Ning… Ningsih, cepat… tolong…” Aku tidak menjawab. Hahaha… siapa yang mau diperdaya? Kutinggikan volume tv. Aku ingin dia sadar bahwa apa yang akan dia coba lakukan sudah terendus. Rencananya gagal total, permainannya sudah terbaca. Aku lanjut menyetrika sambil tersenyum penuh kepuasan. Sebentar lagi dia akan masuk dengan malu dan aku akan mengejeknya habis-habisan. Hahaha…

Lima menit berselang, dia tak juga masuk. Suaranya juga tak terdengar. Kira-kira apa yang sedang dilakukannya di luar? bisikku dalam hati. Aku nyaris terpancing ingin membukakan pintu. Jangan-jangan dia sedang menjalankan rencana B: aku membuka pintu, dia berpura-pura mati, ketika aku dekati dia sontak bangun dan mengagetkanku. Oo… tidak bisa!

Tujuh setengah menit berlalu, dia masih belum juga masuk. Dasar manusia keras kepala tak mau kalah. Perangkap apa yang dia pasang sekarang? Aku penasaran apa yang dia perbuat di luar. Akhirnya aku menyerah. Aku bangkit dan berjalan menuju pintu. Setelah ku buka, kudapati suamiku tidur tengkurap di depan sana. Ternyata benar, ini pasti rencana B.

“Hei, stop tipu-tipu, Bung! Aku tahu Kau pasti pura-pura kan?” teriakku.

Suamiku tak bergerak. “Sudahlah, berhenti dong bercandanya.”

Dia masih tidak bergeming. “Bercandanya nggak lucu deh. Ayo bangun!"

Dia tak juga bergerak. Perasaan ganjil tiba-tiba menyergapku. Benar saja, aku melihat keanehan pada posisi tangannya. Aku mulai cemas. Aku menyongsongnya ke sana, mendekat agar dapat melihat lebih jelas.

Astaga! Tangan kirinya terpelintir mengerikan! Tulangnya seperti terlepas dari sendi. Oh, apa yang terjadi? Jantungku berdegup kencang, kedua lututku mendadak lemas. Kubalikkan tubuhnya. Oh, Tuhan! Bahunya hancur, pelipisnya berlumuran darah. Apakah ia mengalami kecelakaan? Mengapa tak seorang pun menolong? Tanganku gemetar hebat mengusap darah itu. Aku mulai menangis dan panik luar biasa. Ya, Tuhan! Kini aku benar-benar berharap ini hanya permainan, hanya pura-pura. Tapi suamiku tidak membuka matanya dan tertawa seperti biasa. Ini bukan lelucon, ini serius! Suaraku bergetar.

“Kamu kenapa? Ayo bangun…! Bangun…! Oh, Tuhan… Siapa pun toloooooooooong!!!”***