Selasa, 19 Juni 2018
Selasa, 17 April 2018
PARADOKS dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Hai, jumpa lagi! Kali ini, saya ingin menulis komentar nih pemirsa. Tetapi bukan komentar mengenai suhu politik negeri yang mulai menghangat. Bukan pula komentar perihal banyaknya nyawa melayang akibat miras oplosan. Saya ingin menulis komentar terkait bidang yang saya geluti, yakni Bahasa Indonesia.
Kemarin kan hari terakhir pelaksanaan USBN. Nah, saya ngawas anak-anak ujian. Lantaran duduk melulu tanpa melakukan apa-apa, saya jadi ngantuk. Biar nggak ngantuk, iseng-iseng saya baca tuh sisa soal ujiannya (sebenarnya pengawas nggak boleh baca soal, tapi daripada saya ketiduran, apa boleh buat).
Benar saja, membaca soal membuat ngantuk saya seketika lenyap. Namun setelahnya, pikiran saya justru terganggu. Pasalnya, pertama, banyak soal yang ternyata nggak bisa saya jawab padahal pelajaran anak SMP lho (betapa bodohnya saya). Kedua, banyak sekali kekacauan bahasa yang saya temukan pada naskah soal itu.
Baik, mari kita lupakan masalah saya yang pertama. Tidak saya pungkiri, pengetahuan agama saya memang menyedihkan. Hmm…
Lanjut, mari bicarakan masalah yang kedua. Pada naskah soal tersebut, banyak sekali kesalahan berbahasa ragam tulis yang saya dapati. Kesalahan seperti apa sih? Contohnya ya, banyak menuliskan kata tidak baku. Lalu, tidak menggunakan tanda baca dengan tepat. Ada kata yang seharusnya diawali huruf kapital, ditulis dengan huruf kecil, dan sebaliknya. Penulis soal juga sepertinya tidak paham perbedaan penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan. Banyak sekali, dari awal hingga akhir. Kalau saya sebutkan semua, nanti tulisan ini jadi panjang macam novel. Intinya, naskah soal tersebut menabrak kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar.
Kalau kesalahan-kesalahan tadi ada di tulisan-tulisan pribadi, saya tidak tertarik menanggapi. Tapi ini naskah soal USBN, dokumen resmi, dibaca oleh ribuan siswa sehingga berpeluang dijadikan teladan oleh siswa. Dan lebih miris, ini terjadi di wilayah pendidikan, ruang intelektual, lingkungan yang sepatutnya mengedukasi dan memberi contoh-contoh yang benar berdasarkan ilmu pengetahuan.
Sebagai pengajar bahasa, saya jadi merasa tersia-sia. Saya menyebutnya paradoks dalam pembelajaran bahasa. Saya selalu berbusa memberi pemahaman tentang kaidah-kaidah bahasa yang baik dan benar kepada siswa, dan di saat yang sama mereka disodorkan/dibiasakan dengan bentuk-bentuk yang salah.
Hal ini berarti apa? Hal ini berarti semua pihak hendaknya memahami kaidah berbahasa yang baik dan benar. Tidak hanya ragam ujar, namun juga ragam tulis, terlebih bagi penulis, baik penulis soal, penulis cerpen, penulis buku, penulis berita, maupun penulis lainnya. Selain itu, sebelum disebarluaskan pada khalayak, tulisan, apalagi tulisan resmi, hendaknya diperiksa dan disunting. Jika tidak yakin dengan suntingan sendiri, mintalah orang yang berkompeten untuk menyuntingnya.
Nah pemirsa, itulah kurang lebih komentar yang ingin saya sampaikan dan terakhir saya ingin berpesan, mari gunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar bahasa negara kita tersebut tetap ajeg, tak kehilangan wibawa, dan tak kalah dengan bahasa-bahasa asing.
Selasa, 10 April 2018
Rossi Marah Besar dan Satu Pertanyaan Muncul di Kepala Saya
![]() |
| PEBALAP atau PEMBALAP? |
Hal
pokok yang ingin saya ceritakan sebenarnya adalah tadi siang (Selasa,
10/04/2018) saya membaca berita menarik di halaman depan surat kabar tersebut.
Judulnya “Rossi Marah Besar”. Dari judulnya saja sudah membuat penasaran. Juga
ada foto Valentino Rossi, sepupu jauh saya yang jadi pembalap Yamaha, terjatuh
bersama motornya yang bernomor 46. Di depannya sedikit, Marc Marques, pembalap
Honda, menoleh sembari melambaikan tangan (konon sebagai tanda maaf). Karena
ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi, langsung saja saya baca beritanya hingga tuntas.
Rupanya
kemarahan besar Rossi seperti yang disebut dalam judul disebabkan Marc Marques
menyeruduknya dari belakang sehingga dia terjungkal. Kelakuan Marques tersebut dianggapnya
bisa membahayakan pembalap lain yang berada di lintasan. Dari tulisan di koran,
ternyata Marques yang menunggang motor bernomor 93 dari awal sudah mencuri
perhatian. Ketika start, motornya mati. Dia pun tercecer di belakang. Kemudian,
mungkin lantaran hilang konsentrasi dan terlalu bernafsu ingin memperkecil
jarak, dia hampir menabrak pembalap-pembalap lain sebelum akhirnya menjatuhkan
Rossi. Kontan The Doctor marah besar dan tidak menerima permintaan maaf Marques.
Seusai
membaca, saya tidak tenang. Pasalnya, ada sebuah pertanyaan terbit dalam kepala saya. Manakah
yang benar, pebalap atau pembalap?
Dalam
berita tersebut, penulis menggunakan kata pebalap,
alih-alih pembalap. Awalnya saya kira
salah ketik alias tipo, namun setelah saya baca hingga habis, kata yang
digunakan memang semuanya pebalap.
Saya
sendiri cenderung memilih pembalap sebagai bentuk yang benar. Biar yakin, saya buru-buru membuka Kamus Besar Bahasa
Indonesia edisi kedua cetakan kesepuluh tahun 1999 (lawas kan?) punya seorang kawan yang tak kunjung saya kembalikan sampai sekarang. Akhirnya saya temukan di
sana tertera: pembalap, adalah nomina,
dan artinya adalah orang yang turut dalam lomba adu cepat. Sedangkan pebalap tidak ada. Tuh kan, saya benar.
Mungkin
si penulis ingin mengikuti bentuk-bentuk seperti pesepeda, pecatur, pegulat, petenis, pebulu tangkis, dan lain-lain.
Semua bentuk itu memang betul. Artinya bentuk pebalap
betul juga, dong? Eitts, tunggu dulu.
Dari
yang pernah saya baca, kata pembalap bukan
diturunkan langsung dari kata balap,
melainkan membalap. Sama halnya
dengan kata pemberi, pembeli, pembaca, dan
pembuat yang diturunkan dari kata-kata memberi,
membeli, membaca, dan membuat, bukan dari kata-kata beri, beli, baca, dan buat. Jadi tidak ada kata-kata peberi, pebeli, pebaca, ataupun pebuat.
Sedangkan
bentuk-bentuk seperti pesepeda, pecatur, pegulat,
petenis, dan pebulu tangkis memang
diturunkan langsung dari kata sepeda,
catur, gulat, tenis, dan bulu tangkis.
Kan tidak lazim kita dengar bentuk menyepeda,
menyatur, menggulat, menenis, maupun membulu
tangkis. Jika bentuk tersebut memang ada, maka pelakunya akan menjadi penyepeda, penyatur, penggulat, penenis, dan pembulu tangkis.
Jadi, pebalap atau pembalap? Ya, pembalap-lah hehe..
Nah,
itu menurut dari apa yang pernah saya pelajari, maaf bila ternyata saya keliru.
Atau mungkin ada yang bisa memberi pendapat lain? Boleh tentang balapannya, boleh
tentang pembahasan: manakah yang benar, pebalap
atau pembalap?
Minggu, 08 April 2018
JADI SALAH SIAPA DONG?
| BELOK KANAN - Tampak dua pengendara motor tetap berbelok ke kanan meski sudah ada tanda larangan berbelok ke kanan. |
GAMBAR tersebut saya ambil tadi pagi. Lokasinya di ujung Jalan Tukad Gangga (pertemuan Jalan Tukad Gangga dengan Jalan Tukad Yeh Aya, Renon, Denpasar).
Saya sedang dalam perjalanan menuju SMK Negeri 2 Denpasar untuk mendampingi siswa mengikuti lomba baca puisi. Saya berhenti sejenak dan menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir, atau lebih tepatnya MUAK dengan bangsa saya sendiri. Apa sebab?
Coba perhatikan. Pengendara motor dengan seenak perutnya menikung ke kanan padahal jelas-jelas sudah ada larangannya! Plang 'belok kanan dicoret' bahkan bukan cuma satu, tapi dua!!!
Saya percaya pemerintah sudah dengan sungguh-sungguh, penuh perhitungan, dan kajian meletakkan larangan belok kanan di sana, semuanya demi kenyamanan pengguna jalan, dan para pemotor itu terang-terangan mengkhianatinya. Saya yakin SIM mereka semua PALSU!!!
Saya percaya pemerintah sudah dengan sungguh-sungguh, penuh perhitungan, dan kajian meletakkan larangan belok kanan di sana, semuanya demi kenyamanan pengguna jalan, dan para pemotor itu terang-terangan mengkhianatinya. Saya yakin SIM mereka semua PALSU!!!
Akan tetapi, ketika saya lebih mendekat, saya mendapati ternyata ada satu plang tersembunyi. Agak sulit membaca tulisannya lantaran tertutup rerimbunan daun pohon jambu. Meski demikian, akhirnya saya berhasil juga mengeja huruf-hurufnya. Plang itu berbunyi "KECUALI SEPEDA MOTOR". Nah, lho?
![]() |
| TERSEMBUNYI - Plang bertuliskan "KECUALI SEPEDA MOTOR" tersembunyi di balik rerimbunan daun pohon jambu. |
Duh, ternyata saya yang keliru. Saya sudah menuduh dan mengumpat (di dalam hati) para pemotor yang sejatinya tak bersalah tadi. Mereka tak lain adalah warga yang tertib. Maaf ya, Pak, Bu... hehe
Pertanyaan yang tersisa sekarang, jika para pemotor tersebut tidak bersalah, siapa dong yang bersalah? Apakah salah mata saya karena tidak melihat tulisan "KECUALI SEPEDA MOTOR"? Apakah salah plang itu karena bersembunyi malu-malu kucing?? Atau salah pohon jambu itu kenapa tumbuh di situ???
Minggu, 01 April 2018
Menjaga Kebersamaan dan Kekeluargaan dengan Magibung
SABAN Saniscara Kliwon wuku Landep atau lebih dikenal dengan sebutan Tumpek Landep, warga Dadya Selingket tumpah ruah memenuhi Pura Dadya Selingket di Desa Pidpid, Kecamatan Abang, Karangasem. Piodalan pura yang terletak di kaki Gunung Agung tersebut memang jatuh setiap Tumpek Landep. Warga berdatangan dari berbagai daerah, seperti Denpasar, Klungkung, Gianyar, Buleleng untuk melakukan persembahyangan. Nah, ada sebuah tradisi menarik yang masih dipertahankan oleh krama di pura ini, yakni magibung. Yang berasal dari Karangasem pasti sudah tidak asing dengan tradisi yang satu ini.
![]() |
| JAGA TRADISI - Magibung adalah salah satu tradisi di Karangasem yang masih dipertahankan hingga kini. |
Magibung dapat diartikan makan bersama-sama dalam satu wadah makanan. Di pura ini, seusai muspa, warga tidak langsung pulang melainkan disilakan magibung di jaba pura. Biasanya, 5 hingga 6 orang membuat kelompok, kemudian duduk menyantap makanan dalam porsi jumbo yang disajikan di atas klakat (bambu yang dianyam, berfungsi serupa nampan). Laki-laki berkelompok dengan laki-laki, perempuan berkelompok dengan perempuan. Menunya, tentu saja makanan tradisional masyarakat Bali: sate dan lawar.
Di Karangasem, magibung tidak hanya digelar pada saat upacara keagamaan di pura. Magibung juga digelar pada kegiatan-kegiatan adat, misalnya nelu bulanin (tiga bulanan), mapandes (potong gigi), dan pawiwahan (pernikahan).
Di Karangasem, magibung tidak hanya digelar pada saat upacara keagamaan di pura. Magibung juga digelar pada kegiatan-kegiatan adat, misalnya nelu bulanin (tiga bulanan), mapandes (potong gigi), dan pawiwahan (pernikahan).
Tujuan dari magibung adalah untuk memupuk kebersamaan dan kekeluargaan. Selain itu, makan beramai-ramai akan membuat makanan terasa lebih nikmat. Setuju nggak?
Tapi perlu diketahui, ada aturan tak tertulis lho ketika magibung di Desa Pidpid. Meskipun sudah kenyang dan selesai makan, jika kelompok lain belum berdiri, kita pun tidak boleh berdiri. Kita harus tetap duduk menunggu yang lain selesai. Dengan kata lain, mulainya barengan, selesainya pun harus barengan. Setelah kelar magibung, barulah warga mepamit alias pulang ke rumah masing-masing.
Sekian tulisan mengenai magibung. Harapannya, semoga tradisi ini tetap lestari. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya ya...
Tonton videonya driki nggih semeton
Tonton videonya driki nggih semeton
Minggu, 25 Maret 2018
Mobil Baru Made Merta
BILA ada lomba suami teladan, pasti Made Merta juaranya. Semua unsur-unsur suami yang dapat diandalkan ada pada dirinya.
Sejak perkawinannya sah, seusai dipuput pendeta, Made Merta memang sudah bertekad akan menjadi suami nomor satu, menjadi suami yang selalu menyejukkan hati sang istri.
Tekadnya itu bukanlah omong kosong. Demi meringankan beban sang istri misalnya, Made Merta tak ragu menggarap pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang umumnya dikerjakan kaum hawa. Dari mencuci baju hingga mengurus anak, semua diembannya dengan penuh tanggung jawab.
Made Merta memang suami yang perhatian. Dia ingin sang istri juga punya waktu untuk menyenangkan diri. Toh, sang istri juga bekerja.
Made Merta pun selalu berusaha memenuhi segala keinginan sang istri. Meskipun kantongnya tak tebal, asal bisa bilang, segala kemauan sang istri pasti dituruti.
Untungnya, sang istri juga sosok yang pengertian. Dia tidak pernah meminta hal-hal yang dia tahu suaminya tidak akan mampu memenuhi.
Namun, pada suatu malam menjelang tidur, sang istri berbisik. Katanya, sudah lama dia mengidamkan sebuah mobil. Made Merta terperangah. Dapat uang darimana untuk membeli mobil? Dia berpikir keras dan tidak bisa tidur memikirkan hal itu.
Selama ini Made Merta hidup sederhana. Memiliki mobil tidak termasuk dalam cita-citanya.
Namun setelah direnungkan, masuk akal juga. Belakangan ini mereka sering pulang kampung. Si anak sudah kian besar, tak muat lagi dibonceng naik sepeda motor. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Maka mobil memang suatu hal yang harus diupayakan.
Oleh sebab itu, hari-hari berikutnya Made Merta dengan tertib menyisihkan pendapatannya untuk bisa membeli mobil. Seperti kukatakan tadi, Made Merta adalah lelaki yang dapat diandalkan. Mengecewakan istri bukanlah kebiasaannya.
Waktu berjalan, akhirnya Desember, bulan kelahiran sang istri. Uang terkumpul. Diam-diam, Made Merta berangkat ke showroom mobil dan membawa pulang satu sebagai kado ulang tahun. Manis sekali bukan?
“Bu, coba lihat ke sini!” Made Merta sumringah memanggil sang istri, lalu tersenyum puas menunjukkan sebuah mobil gres di depan rumah.
Sang istri terkesiap dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Ekspresinya jelas menunjukkan perasaan antara gembira dan tak percaya. Sang anak juga muncul lalu bersorak-sorak riang. Mereka berangkulan penuh sukacita. Sungguh keluarga kecil yang bahagia.
“Tapi, kita taruh dimana mobil kita, Bu?” Made Merta tiba-tiba ingat bahwa mereka tidak punya garasi.
“Taruh di depan rumah saja. Toh, jalannya cukup besar.”
“Tapi di sana kan tempat mobil Pak Dewa biasa parkir?”
“Ya, di depan itu kan masih lingkungan kita. Lagipula Pak Dewa punya garasi kok.”
Keesokan harinya menjadi debut yang sangat istimewa. Sang istri akan berangkat kerja dan, bak gayung bersambut, di luar hujan turun dengan derasnya. Made Merta dan istrinya tidak mengeluh seperti yang sudah-sudah. Mereka justru bersyukur. Keputusan membeli mobil terasa tepat.
Di tengah kebahagiaan itu, beberapa hari kemudian, terjadilah malapetaka yang membuat Made Merta geram. Matanya melotot, perutnya mendidih. Dia ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Sebaris baret panjang terpampang di bodi mobil sebelah kanan!
Made Merta kontan emosi. Mobil itu kini sudah menjadi benda paling prestisius--kalau tidak ingin mengatakan sudah seperti anggota keluarga--dan kini seseorang menggoresnya tanpa perasaan.
Dalam kalap, pikirannya sontak tertuju pada anak-anak yang biasa bermain sepeda di depan rumah. Tetapi ada begitu banyak anak-anak, siapa kira-kira yang sudah berani kurang ajar? Apakah Panjul? Alit? Bojes? Atau Lipur?
Panjul, agaknya bukan dia pelakunya. Dia sudah SD kelas 6. Anak seusianya pasti sudah paham bahwa mobil bukanlah barang sembarangan. Dia tidak akan bersepeda di dekat mobil dengan ceroboh dan ugal-ugalan.
Alit, sudah TK besar, juga bukan dia. Dia pemalu dan biasanya duduk di pinggir saja ketika yang lain asyik bermain.
Bojes, anaknya sendiri, lima tahun umurnya. Made Merta sudah menginterogasinya berkali-kali dan dia bersikukuh bilang tidak pernah menyentuh mobil. Barangkali memang bukan dia.
Anak terakhir, Lipur, seusia dengan anaknya. Nah, dia yang paling mungkin. Dialah yang badannya paling bau, jarang mandi, dan tidak pernah memakai sandal!
Pasti dia! Tidak bisa tidak, Lipur pelakunya! Made Merta dilanda keyakinan yang mantap. Dia sudah ingin segera menendang anak itu, namun urung dilakukannya. Atas dasar apa dia menuduh anak itu?
Beberapa hari berikutnya, astaga! Lagi-lagi Made Merta menemukan baret pada bagian mobil yang lain!
Made Merta kian gusar. Pada detik itu ingin sekali dia mengunyah orang dan orang bernasib buruk itu adalah Lipur!
Tetapi tak ada bukti, pun tak ada saksi. Made Merta benci lantaran tak berdaya. Semua kejengkelan itu pun hanya bisa disimpannya dalam-dalam. Bak menyimpan api dalam sekam.
Semenjak kejadian itu Made Merta selalu berprasangka buruk terhadap Lipur. Ketika pot tanaman pecah, atau ketika ada corat-coret di tembok luar rumah, atau ketika tempat sampah terguling sehingga isinya terserak tumpah, Made Merta langsung menuding Lipur biang keladinya.
Apakah karena kumal berarti dia seorang kriminal? Kemarahan yang tak terlampiaskan membuat Made Merta dendam. Dendam membuat Made Merta kehilangan akal sehat.
Tapi tak lama berselang, Made Merta menemukan alasan melampiaskan semua kekesalannya. Ketika itu Lipur bermain dengan sang anak di dalam rumah. Made Merta mendelik. Ingin sekali dia mengusir anak itu, tetapi tidak dilakukannya. Kemudian entah bagaimana ceritanya, Lipur menyenggol gelas di atas meja dan praang…! Gelas itu pecah, persis di depan hidung Made Merta.
Emosi Made Merta meluap. Tanpa panjang kata dia menggampar anak itu dan menjewernya tanpa ampun.
“Makanya pakai mata kalau main!” Ternyata ada sisi kejam tersembunyi dalam diri Made Merta.
Lipur menangis meraung-raung. Besoknya dia tak keluar rumah. Konon, badannya demam, bahkan nyaris kejang. Kasihan benar.
Lantaran tidak enak hati dengan orang tua Lipur, sang istri ingin Made Merta meminta maaf. Tak seharusnya Made Merta keras begitu pada anak-anak. Alih-alih setuju, Made Merta justru menghardik sang istri.
“Tidak usah sok menasihati aku! Bocah tengik itu memang patut diberi pelajaran! Jangan dibela. Ibu tidak tahu apa yang telah dia perbuat pada mobil kita! Bila perlu ku gampar dia lagi tiga kali!”
Sang istri terkejut. Benarkah lelaki di depannya itu Made Merta?
Made Merta yang dikenalnya adalah lelaki terpuji, suri teladan, juga ramah anak macam Kak Seto Mulyadi. Semenjak punya mobil Made Merta berubah. Ternyata sebuah benda bisa begitu cepat mengubah watak manusia. Sang istri miris.
Iya, Made Merta pun merasa dirinya tak lagi sama. Sejak punya mobil, pikirannya selalu cemas, was-was. Sebentar-sebentar dia melompat keluar mengintip mobilnya. Dia takut mobilnya kotor, lecet, atau hilang dicuri orang. Made Merta memang kadang-kadang suka berlebihan.
Lambat laun Made Merta menyadari, ternyata begini rasanya punya mobil: hidup jadi tidak tenteram.
Tetapi mengapa dia yang lebih was-was? Bukankah yang awalnya menginginkan mobil adalah sang istri? Lihat, istrinya tenang-tenang saja. Jangan-jangan, tanpa disadari, dialah yang sebenarnya lebih menginginkan punya mobil ketimbang sang istri.
Hingga akhirnya suatu malam, tak lama setelah kejadian itu, Made Merta pulang dari kondangan. Saking lelahnya, dia tidak langsung masuk rumah dan ketiduran di dalam mobil.
Tak sadar sudah berapa lama dia tertidur, tiba-tiba terdengar suara misterius dari belakang mobil, suara seperti sesuatu digoreskan dengan kasar.
Made Merta membuka mata. Samar-samar dia melihat sesosok manusia!
“Ha… Rasakan lagi! Siapa suruh nyerobot tempat parkirku!” Sosok itu menggumam. Duh, apakah selama ini orang itu pelakunya?
“Hei!” pekik Made Merta kemudian.
Sadar aksinya ketahuan, sosok itu langsung minggat secepat kilat. Made Merta meloncat keluar dari mobil, tapi tidak berusaha mengejar. Dia hanya melongo lantaran takjub. Kendati suasana remang, Made Merta mengenali sosok itu. Orang yang sama sekali tak pernah terpikir olehnya.
“Pak Dewa?” ucapnya setengah tak percaya.
Made Merta tiba-tiba teringat Lipur. Ingin sekali dia memeluk anak lugu lagi polos itu.
Langganan:
Postingan (Atom)






